Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Forum untuk mengobrol hal-hal bebas.
Bisa dibuka oleh visitor dan member.

Moderators: y_anjasrana, F 272, ginting, FRD, artoodetoo, b8099ok

Post Reply
octafiantos
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer
Posts: 1441
Joined: 11 Nov 2005, 11:10
Location: Hanoi
Daily Vehicle: xebushanoi-18

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by octafiantos » 22 May 2019, 22:54

Salvanost wrote:
22 May 2019, 21:59
lucu juga ya kenaikan tiket dadakan gini malah merembet kemana mana
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Angkasa Pura I mengaku mengalami penurunan jumlah penumpang sejal awal tahun hingga Mei 2019 ini. Salah satu faktor yang menunjang terjadinya penurunan penumpang itu karena mahalnya harga tiket pesawat. "Jadi penurunan traffic sampai dengan Mei ini ya ke kita itu sekitar 15 sampai 20 persen penurunannya dibandingkan tahun lalu," ujar Direktur Utama Angkasa Pura I, Faik Fahmi di Jakarta, Rabu (22/5/2019). Faik mengatakan, penurunan jumlah penumpang itu terjadi di 14 bandara yang dikelola perseroannya. Penurunan jumlah penumpang itu pun berimbas kepada revenue perusahaan. "Dampak terhadap finansial hitungan kita kemarin sampai dengan bulan Mei sekitar Rp 300 miliar lah dari awal tahun," kata Faik.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tiket Pesawat Mahal, AP I Kehilangan Keuntungan Rp 300 Miliar", https://money.kompas.com/read/2019/05/2 ... 300-miliar.
Penulis : Akhdi Martin Pratama
Editor : Erlangga Djumena
Karena harga tiket termasuk komponen PSC/Passenger Service Charge airport.
Kalo ngga ada tiket terjual, AP ga dapet PSC dan ini lumayan besar. Ngga inget sekarang berapa kisarannya, terakhir masih jaman bayar PSC domestik 50ribu, international 150 ribu. Domestik ga tau berapa sekarang, udah deket 100(?)

Btw tiket promo ke luar negeri juga kalo ga dapet subsidi dari tarif batas atas, bilanngannya agak scary.
Misal tiket ke SIN dijual $70, PSC Changi itu setahu gua udah $30 lebih. Jadi biaya yang diterima maskapai ga sampe 400ribu. Makanya dari dulu banget, Gerry (Soedjatman) kan konsisten bilang tarif batas bawah dilepas atau dibuat sangat kecil, atasnya dinaikin alias spreadnya lebar. Struktur pricingnya airline atur tiket promo ekonomi, jauh dari hari H. Full fare economy kapan, discounted business kapan, full fare business kapan terserah airline. Semakin deket, semakin mahal. Ngajarin penumpang untuk plan di depan, dan kasih kesempatan airline untuk take profit sekaligus subsidi promo dari full fare economy dan full fare business yang bisa mepet ke batas atas (gede).
Kavling kosong, bisa dikridit.

Salvanost
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer
Posts: 1538
Joined: 14 Dec 2012, 20:44

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by Salvanost » 03 Jun 2019, 01:23

Bingung issue beginian kan udah ada dari desember
Dan bertahan sampai sekarang

Apakah ada hubungan sama
Natal -> tahun baru -> imlek -> lebaran yg artinya high season = tiket jadi lebih mahal?

Note: ternyata ga...
Emang tiket naik banyak
Cek tiket lama tahun 2016 dan 2017 di email
Dibanding harga sekarang naik 400.000-600.000 :frm_bang_head:

pojokban
Full Member of Junior Mechanic
Full Member of Junior Mechanic
Posts: 78
Joined: 16 Nov 2014, 20:03

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by pojokban » 03 Jun 2019, 08:31

Sekilas kemarin ada baca berita, Bapak Jokowi udah mengerluarkan wacana untuk memberi izin perusahaan luar masuk untuk ramein.
Palingan sebentar lagi ada yang nyinyir pro asing aseng.

User avatar
walid_007
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer
Posts: 2823
Joined: 30 Mar 2013, 07:52
Location: pekalongan, indonesia

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by walid_007 » 03 Jun 2019, 09:35

https://en.tempo.co/read/1211716/jokowi ... -good-news

Nice movement 👍
Masa tiket sby SMG lebih mahal drpd k Singapore
Image

LGX
the legend of toyota

monliev
Full Member of Junior Mechanic
Full Member of Junior Mechanic
Posts: 82
Joined: 14 Oct 2016, 20:44
Location: Makassar
Daily Vehicle: Honda Scoopy

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by monliev » 03 Jun 2019, 23:48

Menhub: Penurunan Penumpang Pesawat Memang by Design

Budi Karya Sumadi Menteri Perhubungan RI saat menyambut kedatangan pemudik yang menggunakan Kapal Perang KRI Makassar di Terminal Penumpang Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Senin (3/6/2019). Foto: Baskoro.

Budi Karya Sumadi Menteri Perhubungan mengatakan, turunnya jumlah penumpang pesawat pada Lebaran kali ini memang by design (sudah diatur).

Dia mengatakan, sejak 2018 lalu pemerintah memang menginisiasi agar moda transportasi darat dan laut menjadi alternatif saat musim mudik lebaran.

"Kami siapkan (KM, red) Roro, dari Jakarta, Semarang, Surabaya, juga dari Kalimantan. Kami siapkan khusus. Kami kerja sama dengan TNI AL, setiap lebaran kapal-kapal TNI AL bisa digunakan. Jadi memang by design," kata Budi di Tanjung Perak Surabaya, Senin (3/6/2019).

Setiap kali mudik lebaran, animo masyarakat untuk kembali ke kampung halaman selalu tinggi. Mayoritas dari mereka adalah masyarakat menengah ke bawah. Sehingga, masyarakat ini bagi Budi harus difasilitasi oleh negara agar bisa pulang ke kampung halaman.

Sebelumnya, Heru Prasetyo General Manager PT Angkasa Pura 1 Cabang Bandara Internasional Juanda Surabaya mengatakan, terjadi penurunan jumlah penumpang pesawat pada musim lebaran ini sebanyak 22 persen dibandingkan tahun lalu.

Heru menyebutkan, turunnya jumlah penumpang pesawat ini akibat harga pesawat yang naik dan faktor lain seperti kegiatan politik negara sedang berlangsung.

Data Angkasa Pura 1 Cabang Bandara Internasional Juanda Surabaya, hingga H-3 Lebaran atau 2 Juni 2019 kemarin, secara agregat jumlah penumpang turun sekitar 19 persen, jumlah pesawat turun 17 persen, dan jumlah kargo turun 44 persen.

Di sisi lain, moda transportasi laut terus mengalami peningkatan. Data per 31 Mei 2019, pengguna kapal di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya mengalami kenaikan 46 persen dengan 56.667 penumpang yang turun dari kapal dan 20.576 penumpang yang naik, serta 4.117 penumpang lanjutan. (bas/den)

Cie..cieee... Pak menhub keceplosan apa memang kehabisan ide jawab pertanyaan wartawan?

racho
Member of Senior Mechanic
Member of Senior Mechanic
Posts: 288
Joined: 29 Dec 2012, 05:59
Location: CID +6221
Daily Vehicle: 2012 EX650E and 2008 NA4W-4G69

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by racho » 04 Jun 2019, 05:29

memang dah harus dipecat itu menteri...

kagak mikir apa kalo kondisi begini bisa berlanjut jadi rasionalisasi di airliner atau resesi industri pariwisata dalam negeri.
terus ngapain pemerintah bagusin bandara banyak2, bikin kertajati yang konon sepinya macem kuburan, dst.
punya menteri kek gini ya jangan ngarep pertumbuhan ekonomi bisa > 6%. ngimpi. yang ada masuk foreign debt trap doang.

Koddy
New Member of Mechanic Engineer
New Member of Mechanic Engineer
Posts: 678
Joined: 21 Jan 2016, 18:01
Location: Semarang

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by Koddy » 04 Jun 2019, 09:11

Aneh bahwa di Indonesia harga tiket batas bawah perusahaan swasta ikut diatur.
Untuk harga tiket batas atas mau diatur, sebenarnya ga masalah. Tapi harga batas bawah sebenarnya ga perlu diatur. Yang penting regulasi keselamatan yang diatur, apa aja yang penting dalam penerbangan. Bila ketahuan misal 3x melakukan pelanggaran, maka di-denda yang sangat berat dan besar.
Kasarnya mau kasih promo hingga 1 rupiah pun sebenarnya hak tiap airlines, selama kewajibannya terpenuhi.

Lama² ga sekalian harga mobil dan motor tiap tipe dikasih batas atas dan batas bawah???


User avatar
sandal
Full Member of Mechanic Engineer
Full Member of Mechanic Engineer
Posts: 3389
Joined: 03 Jul 2014, 08:13

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by sandal » 04 Jun 2019, 11:06

By design tapi kok nggak niat nurunin gitu? :mky_05:

Udah melewati masa peak season, keuntungan sudah turun, apa2 udah naik gitu masih aja ngeles dan denial :mky_05:

imanoff
Member of Senior Mechanic
Member of Senior Mechanic
Posts: 198
Joined: 01 Oct 2017, 19:40

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by imanoff » 04 Jun 2019, 12:09

Saya kok punya feeling menteri ini bakal diganti. Kinerjanya nggak bagus dan banyak blundernya.

Regulator, menurut saya, nggak usah ngurusin tarif. Biar diserahkan ke mekanisme pasar saja. Biar airline mencari equilibrium mereka sendiri. Ada yang mahal. Ada yang low cost. Ada yang full service. Regulator cukup main di urusan health/safety standard dan compliance saja. Airline yang lalai atau melanggar aturan keselamatan beneran ditindak. Gak usah ikut ngatur tarif segala. Bisa runyam.

User avatar
dizco
Full Member of Senior Mechanic
Full Member of Senior Mechanic
Posts: 365
Joined: 29 Sep 2016, 18:10
Location: Sleman

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by dizco » 04 Jun 2019, 12:51

imanoff wrote:
04 Jun 2019, 12:09
Saya kok punya feeling menteri ini bakal diganti. Kinerjanya nggak bagus dan banyak blundernya.

Regulator, menurut saya, nggak usah ngurusin tarif. Biar diserahkan ke mekanisme pasar saja. Biar airline mencari equilibrium mereka sendiri. Ada yang mahal. Ada yang low cost. Ada yang full service. Regulator cukup main di urusan health/safety standard dan compliance saja. Airline yang lalai atau melanggar aturan keselamatan beneran ditindak. Gak usah ikut ngatur tarif segala. Bisa runyam.
Hampir pasti ganti, paling tidak nanti september/oktober kan sudah ganti kabinet :ngacir:

Sekarang setelah lebaran kan sudah masuk high season tradisional sampai juli/agustus nah yasudah terusin aja harga tiket di level segini sampai sekalian ganti kabinet :ngacir:

Maskapai asing masuk sekalipun rasanya juga susah ngeladenin dua gajah yang ada, air asia saja bisa ditendang dari agen online sampai ngambek dan ngotot jual tiket dewe :ngacir:
Si ego certiorem faciam, mihi tu delendus eris

hehe001
New Member of Senior Mechanic
New Member of Senior Mechanic
Posts: 161
Joined: 12 Jun 2009, 14:47

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by hehe001 » 08 Jun 2019, 06:23

Code: Select all


Jakarta, CNN Indonesia ‐‐ Gagasan pemerintah mengundang maskapai asing ke pasar penerbangan di Indonesia mengundang protes dari maskapai nasional. Salah satunya, PT Sriwijaya Air yang mengoperasikan dua maskapai di dalam negeri, yaitu Sriwijaya Air dan NAM Air. 

Direktur Utama Sriwijaya Air Joseph Adrian Saul menilai gagasan memasukkan maskapai asing ke pasar penerbangan dalam negeri berpotensi mengubah iklim pasar saat ini. Ia bahkan menyebut bukan tidak mungkin kebijakan tersebut bisa membunuh maskapai nasional yang saat ini masih jatuh bangun mempertahankan bisnisnya. 

Apalagi, sambungnya, jumlah pemain di industri ini tinggal 10 maskapai dari sebelumnya sekitar 30 maskapai beberapa tahun lalu. Sementara sisanya, terpaksa bangkrut karena tidak bisa bertahan.

"Yang saya khawatirkan adalah bisa merusak pasar penerbangan domestik yang kemudian setelah itu ditinggalkan," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (7/6).

Di sisi lain, menurutnya, gagasan mengundang maskapai asing karena isu tingginya tarif tiket pesawat menyudutkan maskapai nasional. Sebab, seolah-olah maskapai nasional menjadi biang keladi kenaikan tarif tiket. 

Lihat juga:
Penumpang Pesawat Rontok Sampai 35 Persen

Maskapai, menurut dia, juga dituding menyebabkan melorotnya pertumbuhan industri pesawat lantaran tarif pesawat yang disebut mahal. Padahal, menurutnya, maskapai nasional perlu melakukan penyesuaian harga untuk bertahan hidup. 

Ia pun mengklaim kenaikan harga sebenarnya dilakukan bertahap dan sesuai dengan sistem travel online. 

"Penerbangan dianggap menjadi satu-satunya penyebab industri pariwisata menurun, tapi di pihak lain, saya tidak dengar industri perhotelan membantu mendorong pariwisata. Toh, peak season Lebaran, harga hotel juga mahal sekali," jelasnya. 

Lebih lanjut, Joseph berpandangan ketimbang menambah maskapai asing ke pasar penerbangan Tanah Air, lebih baik seluruh pihak berusaha untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Dengan begitu, tercipta kemampuan baru di pasar penerbangan dalam negeri. 

"Airlines sudah beroperasi sangat efisien, yang perlu ditingkatkan ya daya beli masyarakat," imbuhnya. 

Lihat juga:
Pengamat: Maskapai Asing Bukan Solusi Persoalan Penerbangan

Sekalipun maskapai asing benar-benar akan masuk ke pasar penerbangan domestik, ia mengaku belum bisa memberi gambaran kesiapan perusahaan. 'Kami masih fokus memperbaiki performance finance dan operation agar melepas 2019 bisa lebih baik dari 2018," tuturnya. 

Tak jauh berbeda, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk memberikan nada khawatir terhadap gagasan tersebut. Meski, secara personal, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu mengaku percaya diri bisa menghadapi persaingan ke depan bila maskapai asing benar-benar masuk ke pasar penerbangan Indonesia. 

Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan mengatakan perseroan siap menghadapi potensi persaingan ke depan karena selama ini sudah menjalankan bisnis sesuai dengan regulasi yang berlaku. Namun, ia menggarisbawahi bahwa pemerintah harus pula memberikan ruang dan aturan yang sama kepada maskapai asing di pasar penerbangan domestik. 

Jika hal tersebut tak dilakukan, menurut dia, kelangsungan bisnis maskapai nasional ke depan bisa lebih muram. "Jangan sampai mengistimewakan maskapai asing. Di Indonesia sudah ada 24 maskapai penerbangan nasional yang bangkrut akibat persaingan yang tidak sehat. Mudah-mudahan jangan ada lagi," ungkapnya. 

Ia juga menyayangkan jika gagasan mengundang maskapai asing dilakukan karena menuding maskapai nasional sengaja mengerek harga tiket pesawat. Padahal, menurutnya, maskapai nasional selalu menaati aturan main yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan. 

Lihat juga:
Pemerintah Diimbau Ekstra Hati-hati Undang Maskapai Asing

Ia mencontohkan, ketika pemerintah menurunkan aturan tarif batas atas (TBA) sekitar 12-16 persen, maskapai nasional tetap menaati aturan tersebut dan melakukan penyesuaian. Lebih lanjut, menurut Ikhsan, ketimbang memasukkan maskapai asing ke persaingan di dalam negeri, lebih baik mengedukasi masyarakat soal harga tiket penerbangan. 
Sementara PT Indonesia AirAsia, maskapai asal Malaysia yang beroperasi di sejumlah rute penerbangan di Indonesia memiliki pandangan yang berbeda. 

Menurut Direktur Utama AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan, gagasan tersebut sejatinya sah-sah saja. 

Baginya, bukan hal yang salah bila pasar penerbangan Indonesia mulai membuka diri dengan maskapai asing. "Kalau seperti katak dalam tempurung terus, kapan majunya?" ungkapnya.

Toh, menurutnya, kehadiran maskapai asing bukan tidak mungkin bisa memunculkan pasar industri yang lebih efisien dan kompetitif untuk meningkatkan daya saing. 

"Airlines nasional juga harus introspeksi, sudah efisien kah kita? Sudah siapkan bersaing kita?" celetuknya. 



Berbeda dengan maskapai selaku pemain utama di pasar penerbangan, PT Angkasa Pura II (Persero) selaku pengelola operasional sejumlah bandara di dalam negeri justru menyambut baik gagasan tersebut. Bahkan, AP II akan 'membuka pintu' dengan menambahkan jadwal penerbangan dari maskapai asing ke jadwal bandara. 

"Kami mendukung sekali. Sebagai operator, bandara kami siap untuk itu," ucap Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin. 

Meski begitu, Awaluddin menekankan kedatangan maskapai asing nanti tentu tetap harus dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku. Khususnya, pemenuhan ketentuan pengangkutan penumpang dan barang antara dua tempat di negara yang sama oleh operator transportasi dari negara lain alias cabotage. 

Berdasarkan aturan ini, maskapai yang beroperasi di Tanah Air tidak bisa melayani rute penerbangan yang populer saja, misalnya antara kota di Pulau Jawa. Namun, maskapai juga perlu membuka rute penerbangan ke luar Jawa hingga daerah-daerah perintis. 

"Badan usaha udara yang baru perlu masuk ke wilayah perintis atau yang sekarang sudah dilayani badan usaha existing. Jadi ada kesetaraan," katanya. 

Lihat juga:
Bila Asing Masuk, Maskapai Nasional Disebut Bakal 'Teriak'

Sementara kalangan pengusaha dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia turut mendukung gagasan memasukkan maskapai asing ke pasar penerbangan dalam negeri. Apalagi bila hasilnya bisa membuat industri ini semakin efisien dan kompetitif. Sebab, dampaknya pun bisa memperkuat lini bisnis lain.

"Tapi yang paling penting, level of playing field-nya harus sama," katanya. 

Lebih lanjut ia melihat maskapai nasional seharusnya tidak perlu khawatir karena kedatangan pemain baru merupakan hal paling standar dalam persaingan bisnis. Toh, menurutnya, masing-masing maskapai nasional saat ini sudah punya pasar dan kualitas layanan yang bisa ditawarkan ke masyarakat. 

"Saya selalu menyatakan, kalau pengusaha takut kompetisi, ya tidak usah jadi pengusaha. Kompetisi bikin apa? Semakin efisien, itu jadi lebih baik," pungkasnya.

Maskapai Nasional Protes Pemerintah Ingin 'Buka Pintu' Asing http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190607183718-92-401659/maskapai-nasional-protes-pemerintah-ingin-buka-pintu-asing

Asing masuk lbh ok dari sisi penumpang, banyak pilihan. Plus service yg lbh beragam, jadi sebaiknya bersiaplah maskapai Domestik untuk bersaing: tarif dan service

kangadut
New Member of Junior Mechanic
New Member of Junior Mechanic
Posts: 22
Joined: 16 Aug 2018, 20:25
Location: jakarta
Daily Vehicle: hyundai

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by kangadut » 08 Jun 2019, 08:05

Pemerintah sdh mulai sadar klo ada yg ga beres dgn harga tiket domestik. Terbukti dgn adanya wacana maskapai asing oleh presiden, ditambah statement adanya duopoli oleh menko Darmin dan KPPU. Yg sy heran JK berkali-kali membantah bahwa tiket pesawat skrg mahal. Malah bilang tiket yg skrg sdh sesuai dgn harga 'keekonomian' dgn mempertimbangkn harga avtur dan maintnance pesawat. :big_think:

Zaxis
Full Member of Senior Mechanic
Full Member of Senior Mechanic
Posts: 536
Joined: 07 Dec 2016, 16:34

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by Zaxis » 08 Jun 2019, 09:07

Bukan nya dari dulu asing dah bole masuk
Cuma maks 49%
Itu air asia kan dari malay

kangadut
New Member of Junior Mechanic
New Member of Junior Mechanic
Posts: 22
Joined: 16 Aug 2018, 20:25
Location: jakarta
Daily Vehicle: hyundai

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by kangadut » 08 Jun 2019, 15:48

Air asia sendiri ga sanggup lawan jaringan duopoli, terbukti ngambek didepak dan bikin tiket online sendiri. Positive thinking nya wacana maskapai asing menurut ane agar penerbangan kita lebih sehat dan kompetitif.
Masukin maskapai asing lebih byk bukan brarti ga nasionalisme. Nasionalisme ga sesempit itu.
Persaingan membuat kita keluar dr zona nyaman dan lebih inovatif.
Pemerintah selaku operator tentunya harus adil dan mengutamakan kepentingan nasional.

User avatar
nugroho bagor
Full Member of Mechanic Engineer
Full Member of Mechanic Engineer
Posts: 5334
Joined: 11 Mar 2011, 05:48
Location: All over the world

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by nugroho bagor » 08 Jun 2019, 18:49

Nasionalisme di saat tiket ,mahal buat apa, ngeluhnya dulu rugi Mulu, masukkan saja ,maskapai asing, semoga lebih baik, everybody can fly

User avatar
grandscenic
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer
Posts: 1464
Joined: 23 Dec 2009, 11:16

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by grandscenic » 08 Jun 2019, 20:52

"Masyarakat kita sudah terlalu lama menikmati tarif murah,” -Jusuf Kalla- :big_biglaugh:
Yang jadi pertanyaan, maskapai yg selama ini pasang tarif murah, dapet profit ga ya? at least biaya operasional ketutup ga ya?
Atau jgn2 selama ini perang tarif murah tp sebenernya maskapai tidak di untungkan, dan justru yg diuntungkan konsumen.
Hukum dasar ekonomi, apapun jenis usahanya, ketika lebih besar pasak drpd tiang,, ya ujung2nya gulung tikar.
Sekarang kalo maskapai asing mau masuk Indonesia utk garap rute domestik, mereka juga akan kalkulasi dulu, kecuali mereka siap LAPAR.
Etme Bulma Dünyası

User avatar
rechtmasta
Member of Senior Mechanic
Member of Senior Mechanic
Posts: 292
Joined: 11 Jan 2010, 17:50

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by rechtmasta » 08 Jun 2019, 22:27

Memang sudah waktunya maskapai asing masuk. Jangan melulu dikaitkan asing aseng deh, liat dulu keuntungannya gimana.
Liat aja segimana mahalnya Garuda grup, karena ga ada saingan tetep aja harga tiket domestik mahal. Liat aja carut marutnya pelayanan Lion grup, tetep aja dibeli karena ga ada pilihan lain. Itulah jeleknya kita, kalo udah di zona nyaman lupa deh sama semuanya.

Kalau saya perhatikan perusahaan BUMN kita ga ada yg beres yah, apakah karena keenakan disuapin terus jadi ga merhatiin loss and gain?

Toh yang untung masyarakat juga kan. Bisa ditiru dari KLM, dulunya BUMN juga, tapi karena merugi terus jadi dilepas ke swasta, yang akhirnya bisa survive. Kalau tetap mau ada BUMN, cukup untuk perusahaan yang menangani sumber daya krusial saha seperti air.

Dari dulu kita selalu ditakut takuti dan didoktrin, kalau sumber daya/posisi strategis diberikan ke swasta apalagi asing harga bakal ga karuan karena mereka ga terkontrol. Justru swasta atau asing bakal mikir beribu kali kalau mereka mau mainkan harga, karena itu pengaruh ke income mereka dan ujungnya pengaruh ke kemampuan mereka survive atau engganya di Indonesia. Bukan sebaliknya.


octafiantos
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer
Posts: 1441
Joined: 11 Nov 2005, 11:10
Location: Hanoi
Daily Vehicle: xebushanoi-18

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by octafiantos » 09 Jun 2019, 01:41

kangadut wrote:
08 Jun 2019, 15:48
Air asia sendiri ga sanggup lawan jaringan duopoli, terbukti ngambek didepak dan bikin tiket online sendiri. Positive thinking nya wacana maskapai asing menurut ane agar penerbangan kita lebih sehat dan kompetitif.
Masukin maskapai asing lebih byk bukan brarti ga nasionalisme. Nasionalisme ga sesempit itu.
Persaingan membuat kita keluar dr zona nyaman dan lebih inovatif.
Pemerintah selaku operator tentunya harus adil dan mengutamakan kepentingan nasional.
QZ udah lama punya tiketing online sendiri, sebelum menjamur broker tiketing online.
Aplikasinya juga udah dari dulu launching. Orang rajin traveling yang mau repot di jaman dulu beli di web langsung, ga ke agen tiket. Kalo di kalangan dunia penerbangan, jokenya itu kalo Air Asia sebetulnya IT company, bukan maskapai. Karena pake dot com di belakangnya kaya ecommerce. Yang dijual memang efisiensi layanan tiketing dan cek-in mandiri, mengurangi biaya agen dan counter di bandara.
grandscenic wrote:
08 Jun 2019, 20:52
"Masyarakat kita sudah terlalu lama menikmati tarif murah,” -Jusuf Kalla- :big_biglaugh:
Yang jadi pertanyaan, maskapai yg selama ini pasang tarif murah, dapet profit ga ya? at least biaya operasional ketutup ga ya?
Atau jgn2 selama ini perang tarif murah tp sebenernya maskapai tidak di untungkan, dan justru yg diuntungkan konsumen.
Hukum dasar ekonomi, apapun jenis usahanya, ketika lebih besar pasak drpd tiang,, ya ujung2nya gulung tikar.
Sekarang kalo maskapai asing mau masuk Indonesia utk garap rute domestik, mereka juga akan kalkulasi dulu, kecuali mereka siap LAPAR.
Lion group ga tahu karena setahu saya bukan perusahaan publik.
Air Asia kan melantai di bursa, bisa liat audited financial reportnya. Meskipun itungannya baru melantai tapi history profit ada dari 2016 seingat saya. 2016-2017 seingat saya sih profit ya, biar lebih yakin coba dicek bisa download di webnya idx. Kalo Garuda tapi full service juga bisa diliat, anaknya Citilink ikut laporan konsolidasi ada summarynya. Ini kayaknya kebiasaan deh emiten satu ini dari dulu labanya ditulis dalam kurung alias minus. Anak usahanya terlalu banyak imo.

Tarif murah emang kesannya semua murah, padahal ngga begitu. Pake alokasi seat dan dibagi class dan sub class yang rumit ngitung peak season, jarak dari pemesanan tiket ke tanggal berangkat, alokasi dsb. Ngga begitu paham ini kerjaannya orang marketing, yang jelas class dan sub classnya tricky alokasinya. Garis besarnya kurang lebih full fare economy, discounted economy, promotion economy. Dan pemasukan tiket bukan satu satunya sumber duit airline. Ada yang orang sering ngga perhatikan, perut pesawat. Itu duit gede banget, volumenya kan ton. Paling gampang ukur peti jenazah, konversi ongkosnya berapa kepala sendiri. Air Asia group salah satu yang jago jualan kargo, jadi kalopun kosong tapi rute bisa jalan terus itu berarti perutnya isi. Selain jago jualan kargo, jualan pernik2 hot seat, prebook meal, dan inflight meals/sales. Dulu banget aja sekali jalan bisa narik 6juta dari jualan makan/minum/merchandise. Kalo dibagi 50k 120 seat pesen mi instan sama minum panas :p

Yang sekarang lagi getol jualan kargo udah keliatan kan di mana-mana iklannya. Si merah, unit usahanya displit jadi Lion Parcel. Off topic, saya sering dari Jakarta-Hanoi pake Thai. Flight BKK-HAN itu dilayani wide body setiap hari, dan kalo week day kosong dengan durasi 2:10. Satu pesawat kadang cuma isi 20-50 dilayani A330-300, 777-200/300 atau 787-900. Agak mustahil kalo perutnya kosong melompong.
Kavling kosong, bisa dikridit.

User avatar
grandscenic
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer
Posts: 1464
Joined: 23 Dec 2009, 11:16

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by grandscenic » 09 Jun 2019, 06:07

octafiantos wrote:
09 Jun 2019, 01:41
grandscenic wrote:
08 Jun 2019, 20:52
"Masyarakat kita sudah terlalu lama menikmati tarif murah,” -Jusuf Kalla- :big_biglaugh:
Yang jadi pertanyaan, maskapai yg selama ini pasang tarif murah, dapet profit ga ya? at least biaya operasional ketutup ga ya?
Atau jgn2 selama ini perang tarif murah tp sebenernya maskapai tidak di untungkan, dan justru yg diuntungkan konsumen.
Hukum dasar ekonomi, apapun jenis usahanya, ketika lebih besar pasak drpd tiang,, ya ujung2nya gulung tikar.
Sekarang kalo maskapai asing mau masuk Indonesia utk garap rute domestik, mereka juga akan kalkulasi dulu, kecuali mereka siap LAPAR.
Lion group ga tahu karena setahu saya bukan perusahaan publik.
Air Asia kan melantai di bursa, bisa liat audited financial reportnya. Meskipun itungannya baru melantai tapi history profit ada dari 2016 seingat saya. 2016-2017 seingat saya sih profit ya, biar lebih yakin coba dicek bisa download di webnya idx. Kalo Garuda tapi full service juga bisa diliat, anaknya Citilink ikut laporan konsolidasi ada summarynya. Ini kayaknya kebiasaan deh emiten satu ini dari dulu labanya ditulis dalam kurung alias minus. Anak usahanya terlalu banyak imo.

Tarif murah emang kesannya semua murah, padahal ngga begitu. Pake alokasi seat dan dibagi class dan sub class yang rumit ngitung peak season, jarak dari pemesanan tiket ke tanggal berangkat, alokasi dsb. Ngga begitu paham ini kerjaannya orang marketing, yang jelas class dan sub classnya tricky alokasinya. Garis besarnya kurang lebih full fare economy, discounted economy, promotion economy. Dan pemasukan tiket bukan satu satunya sumber duit airline. Ada yang orang sering ngga perhatikan, perut pesawat. Itu duit gede banget, volumenya kan ton. Paling gampang ukur peti jenazah, konversi ongkosnya berapa kepala sendiri. Air Asia group salah satu yang jago jualan kargo, jadi kalopun kosong tapi rute bisa jalan terus itu berarti perutnya isi. Selain jago jualan kargo, jualan pernik2 hot seat, prebook meal, dan inflight meals/sales. Dulu banget aja sekali jalan bisa narik 6juta dari jualan makan/minum/merchandise. Kalo dibagi 50k 120 seat pesen mi instan sama minum panas :p

Yang sekarang lagi getol jualan kargo udah keliatan kan di mana-mana iklannya. Si merah, unit usahanya displit jadi Lion Parcel. Off topic, saya sering dari Jakarta-Hanoi pake Thai. Flight BKK-HAN itu dilayani wide body setiap hari, dan kalo week day kosong dengan durasi 2:10. Satu pesawat kadang cuma isi 20-50 dilayani A330-300, 777-200/300 atau 787-900. Agak mustahil kalo perutnya kosong melompong.
wah.. om kerjaannya di maskapai atau bersinggungan langsung dg maskapai? atau hasil analisa sendiri saja, btw mksh pencerahannya.
Klo boleh tanya,, jualan seat itu kasih kontribusi brp persen ya buat omsetnya sebuah maskapai? liat penjelasannya bnyk sekali varian incomenya, yg sebagian dr kita ga tau.
Nah skrg klo maskapai jual tiket dg harga murah, apa sebenernya maskapai msh bisa survive?
dan klo boleh tanya satu lagi, itu airasia didepak dr bnyk agen online.. gmna ceritanya ya, ada permainan atau permintaan dr pihak2 tertentu?
Trims.
Etme Bulma Dünyası

pojokban
Full Member of Junior Mechanic
Full Member of Junior Mechanic
Posts: 78
Joined: 16 Nov 2014, 20:03

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by pojokban » 09 Jun 2019, 08:52

Apa emang sengaja tiket mahal untuk nutupi kerugian akibat sudah order dan booking boeing Max?, yang masih belum jelas pesawat yang bakalan dikirim masih diizinkan terbang, atau cancel dengan penalty. Pemerintah juga gak bisa terlampau nekan karena alasan ini.


kepo2601
New Member of Senior Mechanic
New Member of Senior Mechanic
Posts: 153
Joined: 13 Mar 2016, 10:54

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by kepo2601 » 11 Jun 2019, 15:39

Libur lebaran barusan ada urusan mendadak dan harus pulang kampung ke manado dari jakarta, kaget liat tiket pp yang di kisaran 5 jt pp disaat awal sampe pertengahan tahun lalu masih dapet 2 jt pp :glodak:
As simple as possible to make it easier for you and everyone else

Zaxis
Full Member of Senior Mechanic
Full Member of Senior Mechanic
Posts: 536
Joined: 07 Dec 2016, 16:34

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by Zaxis » 11 Jun 2019, 16:46

Garuda mau bikin kelas premium ekonomi buat domestik
Mungkin biar bisa jual tiket lebih mahal dibanding yg biasa

octafiantos
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer
Posts: 1441
Joined: 11 Nov 2005, 11:10
Location: Hanoi
Daily Vehicle: xebushanoi-18

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by octafiantos » 12 Jun 2019, 14:47

grandscenic wrote:
09 Jun 2019, 06:07
wah.. om kerjaannya di maskapai atau bersinggungan langsung dg maskapai? atau hasil analisa sendiri saja, btw mksh pencerahannya.
Klo boleh tanya,, jualan seat itu kasih kontribusi brp persen ya buat omsetnya sebuah maskapai? liat penjelasannya bnyk sekali varian incomenya, yg sebagian dr kita ga tau.
Nah skrg klo maskapai jual tiket dg harga murah, apa sebenernya maskapai msh bisa survive?
dan klo boleh tanya satu lagi, itu airasia didepak dr bnyk agen online.. gmna ceritanya ya, ada permainan atau permintaan dr pihak2 tertentu?
Trims.
Saya cuma demen nongki di forum, kadang kopdar hahahihi.
Sebetulnya sumber informasinya bertebaran Om. Dulu ada forum aviasi Indoflyer tapi sayangnya forumnya sekarang lagi tidur. Forum aviasi luar masih hidup, pelaku lokal beberapa aktif di sana. Kalo di fb ada group ilmuterbang bikinan Capt Fadjar Nugroho. Ada juga websitenya tapi lebih teknis, kalo saya ga begitu ngikutin topik di sana. Grup fb lebih variatif topiknya, numpang baca hal hal yang orang luar kaya saya ngga paham.

Kalo persentase agak susah buat orang di luar industri dapet angka karena hanya angka seat yang agak keliatan.
Komponen lain kaya kargo agak susah angkanya, paling hanya tahu clue kalo satu kapal perkiraan sekitar 75% seat-occupancy untuk cover cost. Tapi jelas ada pendapatan ini dan angkanya ton, bukan kuintal. Jual tiket murah kalo disensus paling berapa persen doang Om, yang beruntung dapet promo aja. Coba aja nanya iseng sampling kalo pas flight, yang dapet berapa. Contoh gampang misalnya flight SIN-CGK promo all-in dijual S$60, itu lebih dari separo cuma buat bayar passenger service charge di Changi. Sisa S$30 apa cukup buat cost lain? Marketing pasti punya angka standar kalo 10% seat dijual promo, sisanya pasti nanggung yang dapet promo kemudian dipecah seatnya ada sekian per sub klas, selling price x rupiah. Yang ada di industri ini makanya kan usulnya tarif batas bawah dilepas, atasnya ditinggiin. Kalo rangenya sempit kaya sekarang, airline ga bisa bikin promo karena batas atasnya susah cukup buat nutup promo. Ini mengesampingkan praktek kartel kalo memang dilakukan.

AirAsia beritanya cukup clear. Mereka keluar dari jaringan tiket karena merasa diperlakukan tidak fair.
AirAsia upgrade system dan setelah selesai, tiket mereka tetep ngga nongol. Singkat cerita mereka cabut. Beredar kabar kalo layanan tiketing pernah dipanggil petinggi dua grup airline. Ini gosip tapi sampe ke media, bukan bisik bisik. Semua pihak pasti bantah berita ini, tapi arsipnya ada. Betul enggaknya semua orang pasti punya pendapat sendiri :mky_01:
Kavling kosong, bisa dikridit.

User avatar
alvin23
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer
Posts: 1477
Joined: 01 Jan 2007, 09:58
Location: CGK-BDO-JOG

Re: Fenomena Mahalnya Tiket Pesawat Domestik

Post by alvin23 » 12 Jun 2019, 15:02

octafiantos wrote:
12 Jun 2019, 14:47
grandscenic wrote:
09 Jun 2019, 06:07
wah.. om kerjaannya di maskapai atau bersinggungan langsung dg maskapai? atau hasil analisa sendiri saja, btw mksh pencerahannya.
Klo boleh tanya,, jualan seat itu kasih kontribusi brp persen ya buat omsetnya sebuah maskapai? liat penjelasannya bnyk sekali varian incomenya, yg sebagian dr kita ga tau.
Nah skrg klo maskapai jual tiket dg harga murah, apa sebenernya maskapai msh bisa survive?
dan klo boleh tanya satu lagi, itu airasia didepak dr bnyk agen online.. gmna ceritanya ya, ada permainan atau permintaan dr pihak2 tertentu?
Trims.
Saya cuma demen nongki di forum, kadang kopdar hahahihi.
Sebetulnya sumber informasinya bertebaran Om. Dulu ada forum aviasi Indoflyer tapi sayangnya forumnya sekarang lagi tidur. Forum aviasi luar masih hidup, pelaku lokal beberapa aktif di sana. Kalo di fb ada group ilmuterbang bikinan Capt Fadjar Nugroho. Ada juga websitenya tapi lebih teknis, kalo saya ga begitu ngikutin topik di sana. Grup fb lebih variatif topiknya, numpang baca hal hal yang orang luar kaya saya ngga paham.

Kalo persentase agak susah buat orang di luar industri dapet angka karena hanya angka seat yang agak keliatan.
Komponen lain kaya kargo agak susah angkanya, paling hanya tahu clue kalo satu kapal perkiraan sekitar 75% seat-occupancy untuk cover cost. Tapi jelas ada pendapatan ini dan angkanya ton, bukan kuintal. Jual tiket murah kalo disensus paling berapa persen doang Om, yang beruntung dapet promo aja. Coba aja nanya iseng sampling kalo pas flight, yang dapet berapa. Contoh gampang misalnya flight SIN-CGK promo all-in dijual S$60, itu lebih dari separo cuma buat bayar passenger service charge di Changi. Sisa S$30 apa cukup buat cost lain? Marketing pasti punya angka standar kalo 10% seat dijual promo, sisanya pasti nanggung yang dapet promo kemudian dipecah seatnya ada sekian per sub klas, selling price x rupiah. Yang ada di industri ini makanya kan usulnya tarif batas bawah dilepas, atasnya ditinggiin. Kalo rangenya sempit kaya sekarang, airline ga bisa bikin promo karena batas atasnya susah cukup buat nutup promo. Ini mengesampingkan praktek kartel kalo memang dilakukan.

AirAsia beritanya cukup clear. Mereka keluar dari jaringan tiket karena merasa diperlakukan tidak fair.
AirAsia upgrade system dan setelah selesai, tiket mereka tetep ngga nongol. Singkat cerita mereka cabut. Beredar kabar kalo layanan tiketing pernah dipanggil petinggi dua grup airline. Ini gosip tapi sampe ke media, bukan bisik bisik. Semua pihak pasti bantah berita ini, tapi arsipnya ada. Betul enggaknya semua orang pasti punya pendapat sendiri :mky_01:
Hahaha Garuda, Occupancy rata2nya jarang diatas 80%, rute inter kadang hovering di 65-70%, ya gimana mau bersaing di internasional
Captiva VCDi 2012
Yaris S A/T 2012
CRV 2.0 AT 2017

Post Reply