User Review: Wuling Cortez 1.8 L Lux+ AMT, (Hopefully) A Long Term Review

Mau review kendaraan yang ada? Silakan post disini...

Moderators: ChZ, ginting, FRD, artoodetoo, b8099ok, F 272

Post Reply
liemivan86
New Member of Mechanic Engineer
New Member of Mechanic Engineer
Posts: 800
Joined: 24 Jun 2017, 22:39

User Review: Wuling Cortez 1.8 L Lux+ AMT, (Hopefully) A Long Term Review

Post by liemivan86 » 08 Jul 2018, 03:45

User Review: Wuling Cortez 1.8 L Lux+ AMT 
(Hopefully) A Long Term Review 

Akhirnya saya berhasil mengumpulkan niat untuk menulis review ini. Ha2...

Kenapa saya tulis (hopefully) a long term review? Bukan, bukan karena saya meragukan data tahan mobil ini, walaupun memang masih harus dibuktikan lagi, tapi karena saya meragukan niat saya untuk memberi update terkait mobil ini di masa depan. Tapi sebisa mungkin akan saya bahas se netral mungkin. 

Sekedar info, sehari-hari saya menggunakan X-trail T32, sedangkan wuling ini dipakai papa saya, sehingga kebanyakan akan saya bandingkan dengan X-trail ini. 

Warning: review ini panjang banget. Bisa buat bosan kalo baca semua. 

Let's get started! 

1. Sejarah

Seriously? Masih perlu bahas sejarah mobil uji ya? Sejarah nya sih singkat aja, 2017 mobil ini diluncurkan dan 2018 papa saya memutuskan untuk beli 1 unit. Selesai. 

2. Exterior 

Exterior Mobil ini sudah banyak dibahas dimana mana. Dan saya yakin, sebagian member di sini sudah pernah lihat entah di jalan atau di showroom, atau at least di review lah. Jadi saya bahas singkat saja:

Mobil saya adalah tipe wuling tertinggi, Cortez 1.8 L Lux+ AMT, jadi mobil ini sudah menggunakan lampu bi led projector sebagai lampu utama, dan semua lampu di mobil ini sudah menggunakan LED, kecuali fog lamp yang masih menggunakan halogen biasa. 

Untuk tipe ini, saya suka dengan bagian depan nya. Lumayan terlihat mewah dengan lampu yang well designed, coba saja itu lampu sign depan belakang dibuat sekuensial, pasti akan terlihat lebih bagus. Yang agak mengganggu, DRL yang penempatan nya di bawah. Di bawah projector lampu utama sudah ada lampu kecil mirip DRL, jadi seharusnya tidak perlu DRL khusus lagi di bawah, agak terlihat rame menurut saya. Lainnya ok. Karena ini tipe tertinggi, ada 2 corner sensor di depan. 

Image

Dari samping, mobil ini terlihat panjang. Dan memang mobil ini panjang. Total 4.7 m dari depan sampai belakang, dibanding Innova lama (kalo salah mohon dikoreksi) di kisaran 4.5 m. Tidak ada desain aneh ala confero di sini, semua normal2 saja, dan desain nya mudah dicerna. Ada yang mengeluhkan velg dan wheel arch agak kekecilan, kalo saya sih tidak masalah, toh R16 Ban nya murah dan lebih empuk daripada misal dikasih R18 gitu. Ada garis chrome mengelilingi jendela, yang lucu nya, di rusak oleh pemasangan talang air dari dealer. Selain itu, no complaint from me. Not super nice, but acceptable design. O ya, 4 disc brake terlihat di balik velg. Ukuran disc nya lebih besar daripada disc avanza yang menyedihkan itu. Mobil nya juga lebih berat sih. 

Image

Image

Dari belakang, kesan mengotak confero sudah tidak terlihat di sini. Overall bagi saya, desain belakang ini juga mudah dicerna. Lampu ala Audi yang lumayan keren kalo nyala di malam. Dan seperti yang sudah saya katakan tadi, semua lampu LED, bahkan sampai lampu plat nomor sudah menggunakan LED putih. Dari belakang mobil ini tidak terlihat lebar, padahal sebenarnya mobil ini juga lebih lebar dari Innova lama, walaupun tidak terlalu banyak. Ada 4 sensor parkir di belakang, termasuk juga kamera mundur high resolution yang jernih banget. 

Overall exterior: Acceptable design, lumayan stand out di jalan, apalagi dengan logo merah besar gitu. Saya suka desain keseluruhan mobil ini, dengan desain ala estate (atau van?) yang panjang dan lebar. 

2. Interior

Begitu masuk di interior mobil ini, 1 yang langsung menarik perhatian saya: console tengah di row 1 yang tinggi ala HRV gitu. Ini detail desain yang agak jarang di mobil keluarga, biasanya di desain rendah agar memberi ruang lebih lapang, ini justru dibuat tinggi yang memberi kesan sporty. Tapi saya suka sih. 



Beberapa detail menarik di interior:

- Handle pintu yang desain nya "niat" 

Image

- Setir berlapis kulit dengan pola jahitan yang unik. Bahkan kulit yang dipakai ada 2 macam, kulit polos dan perforated. Dan unik nya, di bawah lapisan kulit diberi lapisan empuk, jadi kalo di pencet2 setir nya empuk gitu. 

Image

- tombol ac yang, sekali lagi, "niat". Terbuat dari metal, yang diberi permukaan kasar agar enak di operasikan. Desain controller ac sendiri lumayan keren dan mengingat kan ke Audi. Tulisan derajat dan kecepatan angin ada di dalam knop putar. 

Image

- MID 7" yang keren di tengah speedometer. Keren sih, cuma nda terlalu fungsional sebenarnya. Fitur utama MID ini adalah navigasi yang bisa ditampilkan di sini, masalah nya, saya tidak pernah menggunakan navigasi bawaan head unit. Biasanya pakai Google maps yang bisa disambungkan ke head unit. Jadi MID hanya untuk lihat TPMS, odometer, average fuel consumption dan matikan alarm seat Belt belakang

Image

- Motif kayu yang digunakan berupa kayu doff gitu, yang jauh lebih keren daripada kayu coklat ala pajero sport CBU

- Hampir seluruh bagian atas dashboard dan door trim menggunakan plastik empuk

Image

- Karena ini trim Lux+, jadi di sekujur mobil sudah di lapis kulit sintetis. Arm rest depan, door trim, bahkan bagian samping console tengah yang kena kaki kita dilapisi kulit, dan empuk. Bahkan di T32 aja tidak dilapisi kulit. 

Image

Image

- sama seperti di exterior, semua lampu di interior menggunakan lampu LED. 

- Karena ini trim Lux+, row 2 menggunakan captain seat, yang arm rest nya bisa di atur ketinggian nya. 

- penempatan ac double blower yang unik, di antara row 2 dan 3, karena "diusir" sunroof. Tidak ada masalah sih, justru row 3 jadi lebih dingin dibanding double blower ala avanza. 

- port USB charger yang lengkap di semua baris

- jam analog ala mercy. Itu kenapa coba harus pake gituan, nda kelihatan mewah, malah susah dibaca. Lebih mudah dibaca jam digital biasa. 

Sekarang kita masuk ke review:

Kualitas kulit yang digunakan memang bukan yang terbaik, tapi sekali lagi, buat nya "niat". Bagian tengah dibuat motif perforated dan bagian samping polos, dengan sedikit motif coklat tua untuk menunjukkan kesan Err.. Entah sporty entah mewah. Pokoknya tidak polos lah. Kursi row 1 sangat empuk, kayaknya lebih empuk dibanding T32. Entah daya tahan nya gimana. Kursi row 2 dan 3 sedikit lebih keras, tapi tetap masih ok dibanding avanza. 

AC. Ini bagian yang menjengkelkan. Karena ini trim L, jadi ac nya sudah menggunakan auto climate control. Masalah nya, auto nya bodo banget. Jadi misal kita setel di 24°, walaupun baru nyala dalam kondisi Cabin super panas, auto ac akan set ac di angin 2. Walaupun sebenarnya dalam mode auto, setiap kecepatan angin itu ada beberapa tingkat. Jadi kalo manual, 2 ya 2. Kalo auto, 2 itu ada yang agak pelan, standar, dan agak kenceng. Kalo posisi cabin panas, lalu kita nyala kan ac 24, dia setel angin di 2 tapi yang kenceng, tapi tetap 2, bukan full blast seperti auto climate di mobil lain. Jadi ya kapan dingin nya kalo gitu.. Untung saya pasang kaca film bagus. Kalo ac kita set di 20 kalo tidak salah, baru dia pindah ke angin 3. Selain itu, saat pencet auto, kadang ventilasi jadi terbuka. Harus kita set manual ke tertutup. Tapi sekali set, dia akan tertutup terus sampai kita mati nyala kan mode auto lagi. 

Oh, dan 1 yang agak mengganggu, ac belakang selalu mati setiap kali kita nyala kan ac. Jadi harus pencet tombol rear on setiap kali nyala kan ac. Atau cuek in aja dan biar kan orang belakang nyala kan sendiri kalo mereka merasa kepanasan. 

Waktu malam, aura cabin terasa sangat ramai, karena ada lampu biru di bagian kaki driver dan penumpang depan, lampu di sekeliling cup holder, juga lampu di bawah arm rest door trim row 1. Tapi semua lampu biru ini hanya di depan, row 2 dan 3 mati lampu, gelap gulita seperti layaknya mobil "normal". 

Lanjut ke bagian belakang, semua penumpang di semua row dipastikan akan mendapat ruang kami yang cukup. Bahkan saya yang tinggi 178 cm masih bisa duduk nyaman di row 3 sambil row 2 juga masih nyaman. Yang kurang saya suka, mekanisme pelipatan row 3 masih harus pakai kunci an manual. Jaman apa ini masih pake gituan.. Tapi kabar baiknya, karena mobil ini panjang, bahkan dengan row 3 terbuka full saja bagasi nya lebih besar dari Innova lama. 

Overall interior: terasa cukup mewah. Bahkan bisa dibilang terasa paling mewah di kelas nya (dibanding Innova, dan semua LMPV). Banyak detail cantik yang diberikan yang di desain secara "niat". Bahkan semua tombol di mobil ini menyala, hanya tombol lipat spion saja yang tidak nyala. Kursi nyaman dan banyak material bagus plus build quality yang menurut saya jauh lebih solid dibanding Honda kelas di bawah CRV. O ya, kekedapan interior mobil ini sangat bagus, setingkat dengan Xpander lah. 

3. Fitur

- Sunroof! Nuff said. 

- Head unit yang pinter bodo bodo. Pinter karena ada fitur smartphone link yang saya suka. Tinggal colok kan kabel ke smartphone Android kita, nanti tampilan smartphone kita akan pindah ke layar head unit. Yah, cuma mirroring biasa dong? Tunggu dulu, ternyata keren nya, smartphone kita bisa di operasikan dari layar head unit, walaupun agak laggy, tapi bisa dipakai. Misal, saya sering menggunakan Google maps dengan fitur ini, dan ini sangat berguna saat misal saya mau lihat sekeliling maps, saya tidak perlu ambil hp, utek2 hp, tinggal geser2 di head unit saja. Tapi fitur ini hanya untuk display saja, audio lewat Bluetooth.

Bodo nya head unit ini, setiap kali kita nyala kan, dia selalu set volume di 6, dan kadang 6 ini terlalu keras. Selain itu, bodo lainnya, pada saat kita atur tingkat keterangan display di auto, night mode nya kurang gelap, sehingga masih sedikit terlalu terang bagi saya. Tapi kalo kita set manual, waktu siang tidak kelihatan layar nya. 

Overall, head unit ini lumayan lah. Bisa dipakai, banyak fitur, dan ada mode suara Yamaha yang sangat membantu agar suara lebih merdu. Ya tetap jauh dari standar audiophile, tapi cukup untuk kuping kaleng saya. 

- parking sensor, it works. 

- 4 airbags

- ABS, EBD, Auto vehicle hold, stability control, sudah menjadi standar di kelas LMPV dan MPV. Eh, Innova belum ada ya? 

- electric parking brake. Mobil termurah dengan fitur ini? Dan auto hold juga lumayan membantu di kemacetan. 

- auto folding mirror, otomatis melipat spion saat pintu di kunci. Dan buka spion saat kunci dibuka. 

Kayaknya itu aja deh. Kalo ada yang kelewatan, silahkan tambahkan di bawah. 


4. Fitur unik

- buka semua jendela dan sunroof dengan remote. Bisa juga tutup sunroof dengan remote, tapi jendela harus tutup manual

- buka bagasi dengan remote. Bukan, bukan ala power back door seperti di T32, tapi kalo tombol bagasi di remote ditahan, pintu bagasi akan "meloncat", tinggal kita tarik untuk membuka. Semua pintu lainnya tetap terkunci. Setelah selesai masukkan barang, tinggal ditutup pintu bagasi dan langsung terkunci lagi. 

- radio tidak mati walaupun kunci sudah ditarik dari tempat nya. Baru mati waktu pintu driver dibuka. Cocok untuk yang sering tunggu di mobil kayak saya. 

- waktu kita berhenti dan nyala kan hazard, lalu buka pintu bagasi, lampu hazard dan lampu kecil akan pindah ke bawah bumper belakang, sehingga orang dari belakang tetap bisa lihat kalo di depan ada mobil. 

- indicator seat belt untuk semua penumpang. Ini agak bikin kesel. Karena indicator ini akan terus menyala kalo ada penumpang bandel yang tidak pasang seat belt. Bisa dimatikan, tapi hanya temporary, nanti begitu mesin mati, lalu dinyalakan lagi, indicator nyala lagi. 

5. Mesin

Mesin 1.8L dengan teknologi VVTI yang memang kerjasama GM dengan Toyota. Tadinya saya pikir ini mesin Altis lama, tapi ternyata berbeda. Mesin ini tenaga nya keluar di putaran bawah dan menengah, putaran atas nya agak kosong. Jadi memang dibuat untuk city driving dan long range driving, bukan high speed driving. 

Pada RPM 3000, kecepatan di 105 km/jam. RPM nya agak sedikit terlalu tinggi menurut saya, tapi ya mungkin ini karena mengejar tenaga di putaran bawah. 

Konsumsi bbm menurut MID di kisaran 8 km/l di kemacetan Surabaya, dan sekitar 10-11 km/l untuk keluar kota agak macet. Bensin selalu menggunakan pertamax. Tidak hemat untuk ukuran 1800 cc. I expect more. 

6. Transmisi AMT! 

Ini bagian paling kontroversial dari mobil ini.

Perlu diketahui, AMT mobil ini menggunakan buatan Aisin, bukan Magneto Marelli (bener nda namanya?) seperti ignis. Jadi buang jauh2 kesan dari AMT ignis. 

Halus? Tidak juga. Untuk gigi 1 ke 2, kalo kita tidak lepas gas saat pindah gigi atau kita posisi full throttle, masih terasa perpindahan nya seperti nenek2 yang belajar pindah gigi. Tapi kalo kita lepas gas, masih mendingan lah. Dari gigi 2 ke 3 jauh lebih halus. 3 ke 4 dan 4 ke 5 saya bisa bilang mirip Matic konvensional. Ini dalam keadaan setir santai di dalam kota ya, bukan dalam keadaan ditarik2. 

Dalam mode eco transmisi ini selalu berusaha pindah gigi serendah mungkin, akibat nya kadang akselerasi terasa lambat karena pindah di bawah 2000 rpm, yang mana tenaga belum keluar. Untuk paksa transmisi shift down, kita harus pedal to carpet, kalo tidak mau pakai model manual. Proses shift down jauh lebih cepat daripada shift up. 

Dalam mode sport, transmisi ini langsung berubah karakter nya. Dari asal nya pindah gigi seperti nenek2 belajar setir, di mode sport jadi seperti Dominic Toretto yang shifting. Shift up jauh lebih cepat dari mode eco, dan tidak akan pindah sebelum 4000 rpm. Bahkan shift down nya juga agresif, begitu turun di bawah 2000 rpm, langsung shift down supaya tenaga tersedia terus. Memang terdengar enak, tapi untuk santai di dalam kota, jadi ajrut2an karena tidak mau pindah sebelum 4000 rpm. 

Overall transmisi: kalo ada pilihan lain, saya mending Matic konvensional atau CVT. Tapi berhubung tidak ada pilihan lain, I can live with this. Ada beberapa cara agar bisa lebih halus, salah satunya dengan lepas gas sebelum ganti gigi, selain itu juga bisa menggunakan mode manual. Dan yang terasa jendul hanya gigi 1 ke 2, sisanya tidak terlalu terasa. Yang penting, harus selalu ingat bahwa ini adalah transmisi manual yang dibuat otomatis, jadi ya karakter nya tetap manual, termasuk engine brake, dll. 

Oh, ada 1 yang saya kurang suka, karena tidak pakai torque converter, jadi saat di rem di kemacetan atau saat mau parkir agak terasa jendul2. Jadi begitu di rem, kopling masuk, lepas rem, 1 detik, jendul jalan, rem lagi, kopling masuk lagi, lepas, jendul lagi, dst. Termasuk waktu mundur mau parkir. Jadi agak jendul2 gitu, beda dengan transmisi yang pakai torque converter. Ini yang paling tidak saya suka dari transmisi ini. 

7. Driving dynamics 

Kita mulai dari posisi nyetir. Posisi nyetir di mobil ini agak tinggi dibanding LMPV monocoque. Posisi duduk sebenarnya sudah enak, tapi saya setir hanya bisa tilt, belum telescopic, jadi untuk saya yang tinggi 178 cm dan suka duduk selonjoran, setir ya kurang maju. Sebagai gambaran, di T32, posisi setir saya selalu mentok ke posisi paling dekat ke badan. Dan itu baru nyaman untuk saya. 

Lanjut ke kenyamanan. Bagaimana kenyamanan mobil ini? Nyaman, nyaman banget. Mobil ini di set sebagai mobil keluarga, jadi benar-benar mengutamakan kenyamanan. Karakter Suspensi nya mengayun, mirip dengan Nav1. Sangat berbeda dengan T32. Setelah naik Cortez, T32 terasa keras. Tapi memang, baik saya maupun istri yang selalu duduk belakang bersama baby, lebih suka bantingan T32 yang lebih terasa mantap, tidak terlalu mengayun. 

Saat melewati speed trap, T32 terasa keras, dan interior terasa goyang semua, tapi waktu naik Cortez, melewati speed trap yang sama, terasa sangat halus. Jadi memang Suspensi mobil ini sangat empuk, nyaman, tapi memang terlalu mengayun untuk saya yang terbiasa naik T32. 

Karena ini trim L, jadi Suspensi belakang menggunakan full independent. Ini sangat terasa sih, kombinasi Suspensi independent dan empuk sangat baik dalam meredam jalan yang "luar biasa" waktu perjalanan saya dari Surabaya ke Jombang lewat jalur non tol. Cabin tidak terasa terlalu terguncang saat melewati gundukan yang tidak rata, dan tidak membuang kanan kiri kanan kiri seperti di pajero sport, Innova, avanza, dll, dulu. 

O ya, sebelum beli mobil ini, waktu saya test drive, sempat saya tes sikat polisi tidur dengan kecepatan agak tinggi. Suspensi depan terasa langsung mentok, bukan mentok ke atas (stopper), tapi mentok ke bawah. Dan saya ulang beberapa kali hasil nya sama. Analisa saya, travel shock breaker kurang panjang, atau shock breaker nya hanya single action, sehingga tidak meredam saat expansion dan hanya meredam saat compression. Tapi ini belum pernah saya temukan di kehidupan nyata, karena kalo pakai mobil sendiri ya lewat polisi tidur pelan2 lah. Bahkan saat dipakai luar kota pun belum pernah menemukan kejadian yang sama. Jadi tidak perlu dikhawatirkan sih.. 

Ban menggunakan Goodyear assurance, yang memiliki grip A. Ditambah traction control, seharusnya susah untuk buat mobil ini melintir dalam pemakaian sehari-hari. 

Overall driving dynamics: mobil ini di desain untuk kenyamanan. Jadi lupakan high speed cornering, lupakan handling, lupakan mesin kencang, ini adalah mobil keluarga, dan orientasi nya murni ke kenyamanan, titik. Suspensi sangat nyaman, peredaman jalan yang halus, dan Suspensi independent sangat membantu menciptakan kenyamanan ini. Sayang nya, ciri khas monocoque, waktu melewati jalan jelek, suara glodak2 masuk ke Kabin, walaupun getaran nya bisa di redam dengan baik. 

Sebagai gambaran mengenai kenyamanan mobil ini: pada perjalanan Surabaya Jombang, saya naik Cortez dengan 5 penumpang, ada rombongan di mobil lain bawa fortuner VNT TRD dengan 4 dewasa dan 4 anak2. Istri saya yang duduk di Cortez row 3 agak mabuk karena jalan yang "luar biasa" itu, sedangkan saudara yang di row 2 fortuner VNT mabuk setelah jalan di rute yang sama.

Kesimpulan saya setelah (Kadang2) menggunakan mobil ini: salah satu mobil dengan value for money terbaik di kelas nya. Suspensi independent yang nyaman, satu-satunya di kelas di bawah 400 jt, fitur seabrek, harga beli (relatif) murah, mesin yang cukup kuat di putaran bawah (jauh dibanding mesin Xpander) dan kenyamanan yang diberikan, menurut saya adalah best deal di kelas nya, bahkan saat dibandingkan dengan innova baru dan semua LMPV saat ini. Tapi memang jangan mengharapkan handling bagus, setir hidup, mesin kencang, dll, karena memang mobil ini bukan untuk itu. 

Saya (berencana) akan update berkala mengenai mobil ini. Semoga benar-benar jadi long term review. Posisi saat ini ada di 3500 kilometer, dan semua masih ok. Tidak ada rattle, tidak ada masalah sama sekali, dan servis pun masih gratis (termasuk sparepart) untuk 60rb km atau 3 tahun ke depan. Kita lihat apakah mobil ini tahan disiksa papa saya, terakhir dia sudah "menyiksa" 2 ekor Innova, masing-masing sudah sampai 250rb km dalam 13 tahun ini. Seharusnya wuling ini akan mengalami "siksaan" yang sama. 

Thanks buat semua yang sudah baca sampai sini, mohon maaf membuang banyak waktu kalian. Ha2... 

Yuk diskusi, but keep an open mind. Jangan berpikir negatif karena merk, negara asal, fans [cencored], dll nya, tapi diskusi secara objektif mengenai mobil nya. Bukan berarti karena fans nya [cencored] semua, terus mobil ini jadi jelek. Atau bukan berarti karena saya sudah beli terus mobil ini jadi bagus semua. Posisi saya netral koq, toh saya cuma konsumen, bukan pemilik dealer wuling. 

Regards. 
IMG_20180512_170006_HDR.jpg
IMG_20180512_170304_HDR.jpg
IMG-20180426-WA0076.jpg
You do not have the required permissions to view the files attached to this post.
Last edited by ChZ on 08 Jul 2018, 10:24, edited 2 times in total.
Reason: Perbaikan posisi foto dengan caption

This topic has 58 replies

You must be a registered member and logged in to view the replies in this topic.


Register Login
 
Post Reply

Return to “Review Corner”