[REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Mau review kendaraan yang ada? Silakan post disini...

Moderators: FRD, y_anjasrana, artoodetoo, b8099ok, F 272, ginting

akulemu
Member of Senior Mechanic
Member of Senior Mechanic
Posts: 274
Joined: 13 Jun 2012, 16:11
Location: Persebaya sampe tuek
Daily Vehicle: Venturer + cx9 sky + mobilio rs mt

[REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by akulemu »

Untuk menggantikan penjelasan historis nan teknis tentang mobil yang akan direview, saya akan coba menyajikan hal lain. Semoga berkenan.






Kisah Seorang Culun. Diinspirasi dari kisah nyata.

Suatu masa di periode kuliah, si culun, yang sedang berada dibalik kemudi seekor boxy-jeep-wannabe Xtrail T30 yang selalu dia bangga-banggakan ke teman-temannya (yang jumlahnya sedikit) soal bantingan empuk serta mesin bertenaga (padahal tidak juga) nan borosnya (1:7 at best), melihat sebuah CX7 melintas. He skipped a heartbeat then jumped, "Whoa.. watch dat booty, gurl.". Di dalam sebuah nissan crossover yang selama 2 tahun terakhir sempat terasa his pride and perfect mate, kedua bahu si culun langsung turun beriringan dengan ego nya. Dia berpikir, "Ahh... if only..."

Waktu berlalu, masih di dalam now-not-so-perfect-mate-anymore nissan, kali ini melintaslah sebuah CX9, dan BOOM! Pikiran ngeres si culun langsung overlapping, "This is illegal! That chic has even a hotter sister...?". A realization came through! His love for his nissan was as much as until he sees another better booty.

Dari momen itu terpatrilah sebuah cita-cita luhur didalam hati si culun, "Suatu saat ketika aku tidak culun lagi, itu hanya karena aku berada dibalik kemudi the hottest chic in town, the bootylicious CX9!"

Fast forward years later, T30 sudah habis manisnya dan tinggal sepahnya. Pinangan kedua tak terelakkan. Namun isi dompet si culun, very much like him, tidak juga menunjukkan tanda-tanda peningkatan kedewasaan. Si culun compromized. Seekor CX5 dipinang. Dia mencoba berpikir bahwa inilah yang terbaik yang bisa dia raih. "She's pretty alright. I think she's okay. I mean, yea, I like her... right?" Si culun sedang mencoba melakukan pembenaran didalam otak ngeresnya.

But deep inside his fatty intestines, culun had always known that she'd be never enough. 'Cos it would just take only a mere snap look at his truly-longing-for chic driving by and he's sold in a blink. Nonetheless, bahtera kehidupan baru toh terbangun selama 5 tahun. Romance dan saling menghargai ada dalam perkawinan itu. Si culun can be proud again... or can he?

Suatu hari, culun membawa his 5years-old-obsolete mate ke salon resmi untuk operasi organ. Selagi menunggu, culun mencoba sliwar-sliwer santai ke arah lobi sambil melipat kedua tangannya dibelakang, whilst thinking, "I'm at peace... I'm complete... spirit of thankfulness is within me... I can't be happier than this phase".

And then... dat snappy microsecond moment, that's all it takes... That moment when being complete is not enough... That moment when soulmate become just mere pink slips... Sebuah lusty encounter terjadi! Lewat indera penglihat, sumber wahid segala dosa pria, terpampang sebuah newly updated Soul Red Crystal CX9 2019 duduk manis bahenol menggoda di showroom salon.

Temptation waves overflowing... like those tsunamis in apocalypse movies... like those high school degenerates hear class-is-over bell!... Like those counter attacks when Madrid still had Cristiano!!... like staring at that KFC chicken skin left by friend to eat later!!!... like hearing those guitar notes playing Go Go Power Rangers on Sunday 9:30 AM!!!!... like finally see Tom beating Jerry!!!!!... like finally defeating that ever-cocky friend in Winning Eleven!!!!!! In your face, BITC.....!! ................ehm.. ahem!

Intinya... nafsu yang merobohkan segala bentuk integritas dan kesetiaan (kalaupun si culun memang punya). Hati si culun segera mendua... atau mentiga. Dia login internet banking untuk cek kedewasaan saldo. "Untuk mas kawin cukup!" Not-anymore-10seconds-ago soulmate yang sedang dioperasi tergadaikan begitu saja statusnya. Si culun meminang untuk kali ketiga.

Maka terjadilah sesuai nubuatan dari lirik sebuah lagu prophetic, "Kalau dua-dua merajuk... ana kawin tigaa..". Si culun tidak culun lagi, tidak setelah ketiga kalinya. Tamat.
Cars have soul.
akulemu
Member of Senior Mechanic
Member of Senior Mechanic
Posts: 274
Joined: 13 Jun 2012, 16:11
Location: Persebaya sampe tuek
Daily Vehicle: Venturer + cx9 sky + mobilio rs mt

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by akulemu »

Tulisan ini lebih kepada sharing daripada ulasan.


Sebenarnya keputusan membeli mobil ini termasuk tindakan mencoba naik kelas yang ternyata lebih menegangkan dari yang saya pikirkan. Seumur hidup kendaraan yang pernah saya miliki tidak pernah lari dari brand mainstream atau batas harga within psikologis pembeli mayoritas. Seumpama kalau sekarang batasnya suv mayoritas adalah 500 jtan, saya tidak pernah menyentuh sesuatu di level atasnya. Bahkan mobil terakhir saya masih 400 jutaan.

Dulu tipe-tipe kendaraan saya adalah Baleno 1999, xtrail 2005, innova 2006, CrV 2010, Fortuner 2012, Cx5 2014. Penyebabnya, tentu selain isi dompet, adalah jarak antara suv 400-500 juta dan level di atasnya yang langsung 2x lipat.

Namun urge untuk naik kelas mulai muncul di tahun 2010 ke atas ketika muncul tipe mobil yang menjembatani range 'harga naik kelas' yang 2x lipat itu. Santa fe muncul 2012, sedona odyssey elgrand 2.5 di 2014 (memang mpv bukan suv, tapi secara angka, range harga 'penengah' nya andil mendorong saya naik kelas). Lalu belakangan ada Tiguan allspace dan 5008.

Khususnya di 2016, muncullah CX9 Skyactiv secara internasional dan saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama (atau clbk merujuk novel di atas). Yang bikin saya lebih excited lagi adalah mesinnya kali ini 2.5L, yang kalau dimasukkan ke Indonesia akan berada didalam range harga 'penjembatan' tadi. Dan benar, di 2018 masuk di Indonesia dengan harga 800 juta dan selama setahun menghantui pikiran saya.

Di 2019 saya benar-benar putuskan beli karena ada diskon akhir tahun dan ada sedikit update tidak terlalu major, tapi bagi saya esensial dan bikin saya bersyukur tidak segera beli di 2018. Updatenya yaitu 360 camera, cooling seats, dan apple carplay & android auto.

Ketegangan naik kelas tadi muncul karena saya seperti masuk ke dalam tahap I've never been here before, will be lots of surprise, both good and bad ones. Here we go.



1. Exterior

- Depan

Image
Image
Image

Waktu pertama kali melihat fotonya di netcarshow, saya terpesona sekali dengan wajahnya. Design lampunya merupakan variable kecantikan yang tidak bisa saya pungkiri. Para reviewer luar negeri tidak jarang menyebutnya the most beautiful or sleek SUV design ever.

Namun karena design ini lahir di 2016, maka lineup mazda yang muncul belakangan membuat CX9 kadang terlihat outdated, terutama gara-gara Mazda3 yang cantik banget itu. Menurut saya yang membuat outdated nya paling kelihatan adalah grill krom horizontal nya. Design ini muncul pertama kali di CX5 facelift 2015 tapi tanpa krom. Saya lebih suka grill polos honeycomb hitam di versi prefacelift milik saya. Dan memang di all new 2017 CX5 dihilangkan design grill garis horizontalnya. Namun di CX9 2016 sampai sekarang masih dipertahankan, bahkan versi update 2020 nya tidak ada perubahan.

Lebar CX9 yang mencapai 1969 MM kadang bisa tidak disadari baik di foto maupun real world. Faktanya, dia lebih lebar dari Porsche Cayenne (1938 MM). Dari depan kalau dilihat urut atas ke bawah, fender ban nya mekar banget dibanding pilar kabin nya dan memberikan perspektif yang agresif. Siluet seperti ini memberi kesan sangar layaknya di mobil-mobil musclecar dengan sentuhan widebody sebagai cirikhas muscle nya.

Foglamp mungil khas Mazda diperkenalkan di CX5 2015 facelift. Saya suka sekali bukan karena fungsinya yang memang tidak ada, tetapi secara estetika. Fungsi foglamp di jaman teknologi lampu LED projector atau laser praktis tidak ada. Namun saya melihat mobil tanpa foglamp seperti wanita tanpa earrings.

Tarikan krom panjang di bagian bawah bumper lalu naik dan mengerucut mengikuti bentuk housing foglamp, kembali memberikan ketegasan akan lebarnya mobil ini.


- Belakang


Image
Image

Salah menebak CX9 sebagai CX5 kebanyakan terjadi ketika melihat bagian belakang. Kalau saja tidak ada tarikan krom antara taillight kiri dan kanan, kedua mobil seperti identik. Namun sebenarnya kesan widebody di depan tadi masih berlanjut ke belakang, namun memang perlu kejelian lebih untuk membedakannya dibanding melihat dari depan. Still, CX5 terlihat cukup jelas tidak memiliki fender selebar CX9.

Image
CX5

Sebenarnya kemiripan ini bisa diobati lebih lagi andai exhaust tip nya tidak mungil dibanding ukuran tubuhnya. Bahkan Mazda6 yang tidak berturbo memiliki ukuran tip lebih besar. Atau mungkin bisa dibentuk oval pipih macam Bentayga. Tidak jarang terdapat owner-owner yang mengeluhkan kecilnya lubang exhaust CX9 kalau kita masuk kedalam forum pemilik Mazda. Beberapa dari mereka menggantinya dengan freeflow merk Corksport, dan suaranya boleh juga sekilas didengar lewat video upload an mereka.


- Samping


Image
Image

Pemandangan dari samping adalah neck breaker utama dari CX9. Orang boleh mengira dirinya melihat another Mazda ketika berkendara dibelakangnya. Namun seiring mereka mulai mendahuluinya dan mulai menoleh kesamping, "whoa... dat long-legged chic."

Panjang mobil ini 5075 MM. Panjang seekor Alphard adalah 4935 MM dan seekor LC200 adalah 4990 MM, fyi.

Namun kuotanya ternyata memang tidak serta merta untuk alokasi kelegaan kabin yang akan kita bahas nanti. Low-sloping-coupe-like pilar D dan bonnet yang panjangnya seperti Cadillac Eldorado bagi saya, terasa lebih memakan banyak kuota panjang 5 meternya. Tapi itu bukanlah design flaw atau inefficiency, namun sebaliknya diciptakan dengan maksud artistik yang unselfish karena tidak menghapus unsur utility nya, more on that later.

Velg ukuran 20 inch masuk so properly. Tapi kalau boleh memberi masukkan, andai warna gun metalnya lebih gelap lagi, flawless.

Bagian samping CX9 dipadu warna Soul Red Crystal benar-benar tidak pernah salah. Begitu cantik sampai ketika saya memperhatikannya di jalanan, entah kenapa membuat saya cemburu melihat orang lain juga memilikinya padahal saya pun punya.

Saya melihatnya dari samping sama seperti saat Sam Witwicky memandangi Mikaela ketika dia sedang membantu Sam mengencangkan distributor cap di mesin alien Corvette pura-pura mogok nya.

Image



2. Interior

- Build Quality

Image

Pengalaman saya memiliki CX5 selama 5 tahun meninggalkan kesan yang nyaris tanpa cacat kecuali kelegaan kabin. Kesan yang sangat baik itu salah satunya datang dari tidak adanya rattle sedikitpun hingga kali terakhir mengendarainya. Kesan solid itu saya recognize lagi saat ada di dalam CX9, even more karena kabin nya jauh ebih kedap, sehingga kalau sedikit rattle muncul akan kedengaran.

Image

Saya cukup tercengang melihat tebalnya pintu dari CX9. Lengan saya bisa sepenuhnya bersandar di atas pintu dekat kaca ditopang sepenuhnya oleh tebal ukurannya, tanpa ada gejala mudah terpeleset jatuh. Reviewer lain beberapa kali mengakui mantapnya bunyi pintu saat ditutup.

Untuk saya mantan pemilik suv kelas menengah, jok kulitnya adalah yang terlembut yang pernah saya rasakan. Tidak tega rasanya masuk mobil dengan kasar dan menggeserkan celana jeans di atasnya. Juga begitu duduk dan memegang setirnya, balutan kulit kemudinya memberikan impresi I'm not in another 500 mills car.

Dan saya merasa panel plastikpun, yang ada di Mazda pada umumnya, terasa lebih kokoh dan berkualitas dibanding mobil Jepang lain yang pernah saya miliki. Warna hitam memang bisa memberi kesan tersebut, nevertheless, saya tetap merasa demikian.

Image

Yang saya kurang suka, dan baru sadar ketika melihat review online, adalah gap antara pintu dan dashboard kalau diperhatikan lama-lama jadi kelihatan lebar sekali. Terlalu lebar menurut saya, gap yang terlebar yang pernah saya lihat di sebuah mobil premium. Saya cek di unit lain misalnya Mazda6, juga terjadi gap besar di tempat yang sama.


- Design

Image

Bagi current pengendara Mazda katakanlah CX5 facelift 2015, Mazda2 2014, atau lebih jauh lagi mazda6 skyactiv 2012, intinya unit yang sudah dibekali control infotainment ala Mazda, memiliki CX9 bisa dikatakan bukanlah lompatan senilai 800 juta ketika melihat design interior depannya.

Center console, khususnya di susunan tombol dan controller head unitnya, nyaris tidak berubah sejak diperkenalkan di Mazda6 2012. Bahkan speedometernya secara teknis lebih kuno dibanding all new CX5 ketika peluncuran di 2017, karena milik CX9 yang di Indonesia belum di update versi center TFT screen sperti di luar.

Pun dengan housing interior lamp nya yang jadul dan nyaris sama dengan CX5 prefacelift saya, hanya saja CX9 sudah menggunakan LED. Versi negara lain design nya jauh lebih sleek, persis seperti versi Mazda6 Estate 2019 Indonesia. Belum lagi frameless rearview mirror juga tidak segera dimasukkan di sini, sehingga faktor pembeda dengan trim bawah makin berkurang.

Andai versi signature di luar negeri dimasukkan, yaitu nappa leather seat dan rosewood trim di handrest dan center console, maka kemiripan design dengan trim bawah bisa ditoleransi.

Namun kesan unimpressive memang tidak sekental itu terjadi pada saya mengingat CX5 saya adalah prefacelift. Ketika saya masuk dan mendapati center console khas Mazda itu, saya embrace dengan kepuasan, kontras dengan para pemilik Mazda lain 4-5 tahun terakhir yang sudah kebosanan.

Beberapa reviewer atau bahkan pemiliknya tidak suka dengan finishing black piano di beberapa tempat yang biasanya makan debu dan sidik jari. Saya termasuk orang yang masih bisa dibujuk dengan nilai kemewahan yang dimaksudkan dalam black piano finish, karena mengingat alternatif yang lebih baik adalah finishing matte dan hanya bisa dicapai dengan aluminum atau real wood (not plastic with aluminum finishing atau wood sticker lho ya), yang mana adalah barang mahal didalam urusan interior. I don't expect car factories to be that generous in this class.

Letak center console yang tinggi dan bentuknya yang melebar ke depan juga memberikan impresi premium tersendiri bagi saya. Impresi center console semacam itu banyak ditemui di mobil sport.

Design dashboardnya yang menurun dari windshield ke arah pengemudi membantu mengatasi kesan gepeng di dalam kabin CX9 layaknya mobil sport dengan sudut kaca depannya yang landai. Sebagai pembanding, saya tidak suka design dashboard innova reborn karena meninggi ke arah pengemudi semacam ombak yang menghalangi pandangan, untungnya sudut kemiringan kaca depan innova tidak selandai CX9.

Image

Ada detail menarik, saya cukup kaget ketika suatu hari membawa mobil ini di terik matahari. Saya baru sadar bahwa dashboard CX9 rupanya tidak berwarna hitam. Dia berwarna coklat gelap kemerahan, seperti warna yang sama dengan trim nappa leather versi signature di negara luar, namun ini jauh lebih gelap lagi. What a pleasing surprise.

Image

Warna hitam melingkupi seluruh ruangan kabin CX9 secara 360⁰ dengan sesekali dilewati garis krom di beberapa tempat. Impresi premium nya jauh lebih terasa dibanding unit test drive versi 2018 nya yang masih jok putih dan sudah kotor.


- Features

Dengan sedikit kecewa saya katakan, bahwa Mazda masih menganut sunat fitur dalam membawa produknya ke Indonesia. Secara utility, sebagian besar tidak essential, namun bagi penggemar Mazda yang juga menitikberatkan aesthetics, saya relatif kecewa.

Beberapa fitur CX9 standard yang disunat, tadi sudah di sebut sebagian:

* Updated speedometer (versi luar sudah ada dari 2018)
* Frameless RVM
* Interior lamp housing
* Front speaker finishing (lingkaran silver bertuliskan 'BOSE' di atas speaker dashboard)
* Adaptive Cruise Control
* TPMS (tidak ada di CX9 seluruh dunia, namun pernah ada di prefacelift CX5; tidak menampilkan tekanan, hanya mendeteksi kesetaraan tekanan antar ban, essential bagi saya, beberapa kali memperingatkan saya ada salah satu ban yang bocor)

Belum lagi kalau ditambah fitur yang sudah ada di adik-adiknya semacam autohold dan paddle shift (autohold akan muncul di 2020 update; info dari atpm soal pemasangan paddleshift: part dari mazda6 atau CX5 tidak kompatibel dengan CX9. Aneh, saya rasa bisa, a lazy answer I think). Flaws kecil-kecil tadi jika dikumpulkan kadang bisa memunculkan rasa kecewa yang lumayan ketika memiliki CX9 saat ini.

Yang bisa menutupi kumpulan flaws tadi adalah:

* Cooling seat.

Image

Kedepan ini harus menjadi standard feature bahkan di suv Indonesia kelas 500 jutaan. Saya, yang baru kali ini mengetahui apa itu rasanya cooling seat, akhirnya benar-benar merasakan fungsinya di negara tropis kita tercinta ini. Saya baru sadar bahwa kesusahan mendinginkan badan di dalam mobil yang dijemur, bahkan dengan kompresor Toyota yang terkenal dingin itu, adalah karena hembusan angin hanya menyembur bagian depan tubuh sedangkan punggung dan pantat tertutup rapat. Cooling seat balances it all. Hanya, suaranya di CX9 relatif berisik bahkan di level 1, imo.


* 360 camera.

Image
Image
Image
Image

Saya bisa mengerti rasa kecewa reviewer melihat resolusi kamera CX9. Namun karena keculunan saya yang juga baru kali ini memiliki mobil dengan 360 camera, sekali lagi, kekecewaan saya tidak seekstrim mereka. Guideline assistnya ada di bagian belakang maupun depan.

Cuma ketika digabung dengan park sensor depan belakang, dan berada di jalanan kota besar yang macet, headunit sering sekali gonta-ganti tampilan dari Home ke 360 display nya ketika di intersep oleh motor, terutama di traffic light. Atau pun hanya sekedar berhenti di belakang mobil, padahal proximity termasuk jauh menurut standar kota 3rd world country with motorcycle stampede everywhere. Bisa dimatikan sih sensornya.


* Apple/Android Auto.

Image

Salah satu yang saya syukuri karena tidak segera meminang CX9 di 2018 adalah adanya update fitur ini di 2019. Mazda memang menawarkan update untuk fitur ini bagi yang belum memiliki, namun saya pernah melihat online bagaimana proses update melalui pembongkaran di bagian center console (perlu update socket USB) dan dengan harga kalau tidak salah tembus 2 juta rupiah. Saya tidak suka proses bongkar center console, khawatir mempengaruhi munculnya rattle.

* Bose.

Image

Saya masih ingat scene film Click dimana seorang bocah songong banggain mobil bapaknya ke Michael Newman soal feature speaker Bose di mobil mereka. I can relate to that boi. Karena sudah termanja oleh 10 speakers sound system di CX5 saya dulu, maka 12 Bose speakers in CX9 was a wise upgrade.

Image
Image
Image




* Lane Departure Warning with Steering Assist

Image
Image
Image

Nilai plus datang dari steering assistnya. Pertama kali merasakan intercept dari fitur itu kaget juga. Cukup kuat vibrasi dan powernya dalam menahan putaran kita ke setir. Saya bisa merasakan fitur ini tidak terlalu muluk untuk dibayangkan bisa menjadi death dodging moment di kesempatan tertentu terutama di highway ling trip.


* Blindspot Monitoring

Image

Maaf lagi-lagi culun, tapi saya memang baru pertama kali punya mobil dengan fitur ini, jadi saya sangat suka. Banyak kali memberitahu saya bahwa ada sosok lain diluar jangkauan spion samping. Pergerakan sepeda motor di negara ini benar-benar tidak bisa diprediksi dan jumlahnya banyak, jadi fitur ini bagi saya bisa mengurangi resiko dari semrawutnya lajur yang digunakan para biker.


* Smart City Brake Support

Image

Pernah terjadi 2x, ABS nya bunyi menggeretak dan di HUD muncul tulisan kedap-kedip huruf capital BRAKE! Kalau tidak salah font nya kuning, dengan border merah. Peristiwa ini bisa terjadi karena settingan pedal rem CX9 ini tidak cocok bagi saya, more on that later.


*Sunroof

Image

Jujur, dibanding kompetitor ukurannya kelewat mungil untuk mobil ukuran ini meski saya tetap suka.

Sebenarnya sunroof sekecil itupun secara fungsional tidak ada masalah selama masih bisa dibuka kacanya, karena sejatinya fungsinya untuk sirkulasi udara, bukan untuk menikmati cahaya matahari mengingat kita di equator line. Namun karena hari ini fitur panoramic roof sudah menjadi marketing gimmick di beberapa suv 500 jutaan dan juga berada di mobil-mobil eksotis, layaknya foglamp yang sudah kurang fungsinya namun hanya untuk penampilan, akhirnya sunroof pun diukur secara estetika lebih dari fungsinya. Sedikit seperti stigma, wanita berambut panjang lebih cantik daripada yang berambut pendek.

Sedikit ootd sharing pemikiran soal panoramic roof, saya merasa fitur ini hampir tidak pernah digunakan oleh masyarakat dengan cara dibuka sekatnya dan membiarkan cahaya matahari masuk lalu penumpang bisa melihat langit seperti yang dimaksudkan dalam fitur itu. Bahkan saya memahami panoramic roof sebagai kosmetik dan hanya bisa di exploit kalau warna mobilnya tidak hitam. Sehingga bisa terkesan percuma memiliki panoramic roof kalau mobilnya berwarna hitam, padahal fitur tersebut sejatinya tidak ada hubungannya dengan warna mobil. Tapi berapa banyak mobil tanpa fitur itu sliweran di jalan namun atapnya di cat hitam demi sensasi memiliki mobil dengan panoramic roof?

Fitur ini mungkin akan benar-benar berfungsi jika suatu hari Jurassic World dibuka di Indonesia dan kita bisa drive-by, lalu perlu membuka sekat panoramic roof untuk bisa melihat sepenuhnya leher brontosaurus.


- Kelegaan Kabin

Sejak era Skyactiv dimulai, ukuran kabin seperti dianggap lelucon bagi Mazda. Mulai dari CX5 saya sendiri, yang kerebahan jok tengahnya hanya bisa dianggap sedikit lebih baik dari jok kedua double cabin. Legroom? Mungkin seperti Baleno 00's saya. Makin terasa saat saya sudah memiliki anak dan membawa baby sitter. Saya harus lebih peduli dengan memajukan dan menegakkan seat saya menjadi tidak santai, membuat saya lebih berdosa dalam berkeluarga karena adanya godaan untuk mengeluh akan adanya tambahan anggota saat berkendara.

Belum lagi kalau membahas tipe dibawahnya, semuanya seperti prank dari Mazda terhadap pembelinya, khususnya Mazda 2 dan CX3 yang saya pernah lihat sendiri. Bahkan untuk ukuran orang Asia Tenggara, hanya cocok untuk teens, yang mana artinya akan banyak pengemudi illegal karena sebagian besar akan nembak SIM. Ruangan kaki seperti itu akan imbang hanya bila disandingkan dengan Brio.

Image

Tapi, di CX9 syukurlah DNA guyonan tadi tidak berlanjut. Di kursi penumpang depan dan pengemudi, posisi sandaran punggung pengemudi yang biasa di kendaraan saya sebelumnya harus berada di belakang pilar B sejauh 7-8 CM kalau menginginkan kaki lega dan posisi mengemudi yang pas, tidak diperlukan di CX9. Posisi sandaran punggung driver tepat berhenti di akhir pilar B (lihat foto selanjutnya) dan itu adalah posisi mengemudi santai saya. Tinggi saya 171 CM. Saya prediksi, ukuran bonet yang panjang tidak serta merta habis untuk ruang mesin, namun juga dialokasikan cukup signifikan untuk ruang kaki kabin depan. Meskipun saya anggap dengan panjang 5 meter lebih, overall legroom seharusnya masih bisa lebih baik.

Image
Image

Still, efek wheelbase panjang juga secara kasat mata dan psikologis terasa di kabin kedua. Dengan sudut kerebahan 2nd row di set yang paling rendah, saya merasa CX9 tidak memiliki garis keturunan yang sama dengan adik-adiknya, yaitu sifat ukuran kabin guyonan. Secara psikologis, anak saya umur 3 tahun yang biasa di CX5 lebih tenang (terjepit/terjebak) duduk di 2nd row bersama babysitter, sekarang seperti merasakan kabin luas dan suka wira-wiri ke depan dan belakang.

Ditambah support jok dari CX9 yang lebih baik menampang paha, menjadi penumpang di 2nd row pun bagai bumi dan langit dibanding CX5 lama saya. Untuk ukuran para caucasian reviewer pun, saya hampir tidak mendengar keluhan 2nd row dengan perbandingan kelas yang sama.

Image
2nd row full rebah

Image
2nd row rebah separuh

Image
Posisi duduk 3rd row

3rd row? Meskipun panjangnya 5,075 meter, saya sempat ragu dengan row ketiganya karena design buritan CX9 yang landai sekali. Seperti 35-40 CM terakhir habis dianggarkan untuk low sloping coupe designnya. Namun dulu saat di showroom, saya coba sendiri tanpa memajukan row kedua (hanya sudut rebahnya saya taruh di level tengah), saya cukup puas manggut-manggut. Wow, not only pretty, but she is properly functional still.

Wheelbase CX9 adalah 2930 MM, naik 5.5 CM dari generasi sebelumnya. Sebagai perbandingan:

* Grand Santa Fe 2765 MM
* Odyssey RC1 2900 MM
* LC Prado 2790
* LC200 2850 MM
* Tiguan Allspace 2791 MM
* Peugeot 5008 2840 MM

Saya yang impian terbesarnya adalah LC200 malah tidak habis pikir dengan 3rd row nya si mighty Toyota itu, lebar sih iya tapi paha dengkul betis sudah seperti posisi pub tulen. Tapi surprisingly tidak di CX9, Mazda did well considering her sleek design. Bahkan rata-rata westerner owner di forum Mazda yang saya ikuti, puas dengan kabin ketiganya. Beauty and utility are in a good relationship here in CX9



3. Driving Impression

Secara umum di mobil modern, biasanya pilar D lebih tegak daripada pilar A. Nah di CX9, pilar D nya sudah landai. (Btw, inilah yang membuat CX8 tidak bisa menyamai kecantikan CX9 karena terpaksa menegakkan pilar D nya untuk memberi ruang kepala penumpang 3rd row akibat dari wheelbase yang lebih pendek). Hal itu membuat pilar A dari CX9 lebih landai lagi sudutnya. Dan itu terasa ketika duduk dibalik kemudi CX9. I'm feeling rather in somewhat a sport car than suv. Cukup mempengaruhi visibilitas ke depan dengan design kabin gepeng sporty begini.

Image
Buritan CX8 terlihat lebih tegak

Memutar setirnya keluar dari garasi terasa lebih berat dibanding CX5 lama saya. Memang belum tentu karena settingannya diberatkan, bisa saja murni karena ukuran velg dan ban.

Untuk seorang pria yang sudah menyetir mobil selama 18 tahun terakhir, saya kembali menjadi nervous saat pertama mulai mengendarai mobil ini. Terutama gara-gara bonetnya yang entah dimana letak ujungnya berakhir. Pikiran saya langsung everwhelmed dengan kalkulasi dan perkiraan haluan yang belum pernah saya alami sebelumnya. Keluar masuk garasi saja membutuhkan fokus, waktu, dan pretty intimidating for a grown man.

Barulah setelah di atas aspal dan jalanan yang widely proper, maka komentar bahwa "mengemudikan CX9 hampir sama dengan sensasi membawa CX5" seperti yang sering digaungkan reviewer manapun bisa sedikit masuk akal, meski saya merasa tidak persis amat. Karena taruhlah ada kesamaan sensasi dengan adiknya, tapi ketika masuk ke dalam suburbs, kemacetan, parkiran hotel/mall, atau di garasi rumah sendiri, maka kesamaan itu akan sirna sama sekali. She is huge, numbers can't lie. Dimensi overallnya sudah nyerempet banget full size SUV eropa/amerika.

Melewati jalanan aspal perkotaan bergelombang tidak jelas, peredaman goncangannya bagi saya mantan owner CX5 terasa tidak melompat jauh bagaimana refinement nya. Ya, ada tambahan efek lembut signifikan pada shockbreaker nya. Namun vibrasi khas CX5 2014 milik saya terasa sesekali masih merasuki CX9.

Di poldur, perbedaan dengan adiknya barulah berbicara lebih banyak. Meskipun tidak bisa memungkiri marwah fun to drive nya yang mengharuskan settingan shock keras, peredaman suspensi di poldur dengan angle tajam terasa baik apalagi kalau diisi 5 orang dewasa. Berbeda dibanding CX5 lama saya yang tidak enak sekali melewati poldur tinggi. This is still a comfort car.

G Vectoring? Well, another marketing gimmick, fortunately now the gimmick really works. Pernah sekali saya mencoba exit tol bentuk huruf O dengan kecepatan lumayan menyalahi aturan, membawa 3 penumpang dan 2 balita. Mobil ini jelas jauh lebih stabil dibanding CX5 lama saya. It turns so well you almost forget about physics and families.

Akselerasi? Saya memang tidak pernah mencoba akselerasi ekstrim dari berhenti. Namun di tol, pengalaman saya dengan mobil-mobil terdahulu benar-benar bikin saya sama sekali tidak bisa relate dengan sensasi baru ini. Melaju dari 60kmh ke 100kmh di dalam CX9 adalah hal terindah yang pernah saya rasakan dalam mobil yang saya pernah miliki. You press the pedal, it pulls. O, how physic is so simple.

Hal yang saya belum terbiasa adalah respond injakan pedal terhadap akselerasinya. Terutama di keadaan berhenti di tanjakan, atau saat berhenti tepat ban approach poldur tinggi. Kadang saat saya memberi input injakan yang saya kira cukup untuk hill climb, mobil masih enggan bergerak. Namun ketika input saya tambah sedikit lagi, mobil terkesan tiba-tiba melompat lebih dari yang saya maksudkan. Seperti antara putaran 1500 rpm dan 1800 rpm ada lompatan torsi yang tiba-tiba.

Efek jumpy itu membuat saya sering tidak bisa santai dalam menyetir CX9 karena sensitivity dari pedal ke mesin belum pernah saya temui sebelumnya. Kadang membuat saya emosi ingin mendahului mobil di depan karena mesin seperti latah ingin segera accelerate. Solusinya simple, sebenarnya cukup menambah mode eco, yang mana tidak ada indikasi akan disematkan di lineup Mazda manapun dalam waktu dekat.

Syukurlah kekedapan kabin masih bisa membantu saya untuk tidak cepat panas di dunia jalanan yang penuh intimidasi. Kekedapannya adalah yang terbaik seumur hidup saya menyetir. Well, tau lah ya ex mobil saya itu apa saja. Terutama, kalau dibandingkan CX5 saya, suara rodanya jauh sekali tereduksi padahal ban standar CX9 adalah tipe eco. I'm yearning for Conti tires.

Ada hal minor lain yang tidak saya sukai. Pernah saat menyetir sendirian keadaan audio mati, pada frekuensi rpm tertentu diputaran rendah, saya merasa bunyi mesin terdengar mendengung dan sedikit memberi sensasi ke ubun-ubun, akan sangat terasa dan lebih mengganggu jika saya tahan putaran mesin di rpm tersebut. Saya rasa kekedapan kabin membuat kuping lebih rewel terhadap segala bunyi-bunyian yang no problem di mobil lain.

Pedal rem. Entah feeling saya yang sudah salah kaprah karena mobil-mobil terdahulu, atau pedal rem CX9 kurang sensitif. Saya merasa harus menginjak rem jauh lebih dalam dibanding mobil mainstream saya terdahulu, bahkan mungkin dibanding CX5 saya. Saya mendapati sensasi adanya sisa dorongan mesin meski throttle saya sudah lepas dan kaki beralih ke pedal rem, bahkan saya tambah memakai triptonicnya untuk engine break. Entah apakah settingan pedal remnya tidak cocok buat saya, atau ada boost turbo yang tersisa dan masih memberi dorongan, atau karena just simple things: big rims, heavier weight & higher power.

Road feel steering. Tidak ada alasan lagi bagi produsen mobil untuk mengatakan bahwa mereka mempertahankan hydraulic power steering karena ingin pengemudi lebih merasakan pijakan roda pada jalanan. That's some cheap multilevel marketing kinda argument for cost cutting. Start dari kecepatan 40 kmh keatas, saya merasa electronic adjustment dari steering CX9 bisa memberikan feel yang proper terutama di tikungan. Dan saat masuk keluar garasi, tidak seperti sistem hidrolik, e-power steering membuat paru-paru saya tidak perlu bekerja lebih keras mengirup udara seraya memutar setir seperti yang saya selalu lakukan ketika di dalam mobil ladder frame pasaran.


4. Kesimpulan

Bagi seseorang yang tidak pernah memiliki Mazda, lalu memutuskan membeli CX9, saya boleh pastikan anda akan mencapai kepuasan klimaks dengan harga dan barang yang di dapat. You can't get a car this big, with proper looks, features, power, and handling, with established Japan brand and comes with this price, since forever.

Begitu anda menoleh option lain, anda akan menemukan pilihan pertama yang mainstream dimana harganya akan menjulang tinggi and doesn't even come with the same 3rd row praticality (rx300). Atau pilihan kedua yang comes with better price but much compromized in power & cabin size: Tiguan allspace, plus boring sekali interiornya. Atau harga yang sama di pilihan ketiga, the full of tech 5008, tapi dengan 2nd & 3rd row passenger seat nya yang enggak banget dan lagi-lagi mesin mungil (namun cockpit design & gimmicks nya Peugeot memang menggugah sekali). Yang satu-satunya secara teknis sempat membuat saya bimbang adalah Grand Santa Fe. Hanya, imo, overall design K car terkenal cepat obsolete. Namun andai tidak ada CX9, saya sepertinya akan beli Hyundai.

Di sisi lain, jika 2019 CX9 bukanlah Mazda pertama anda, maka akan ada beberapa pilihan skenario kepuasan, tergantung lineup apa yang sebelumnya anda miliki.

Jika anda ex-pemilik lineup pre skyactiv era, anda boleh berbangga bahwa brand kecintaan anda berinovasi demi kepuasan pelanggan tercinta. Kepuasan yang sama masih bisa didapat seolah selama ini tidak pernah mencicip Mazda. Karena era skyactiv membawa Mazda menjadi manusia baru yang lebih mature dibanding masa pernikahannya terdahulu dengan Ford. It's more like a change than upgrade.

Selanjutnya jika anda seperti saya, sudah pernah merasakan apa itu skyactiv sebelumnya, maka anda dihimbau untuk lebih ambil waktu berpikir dalam memutuskan meminang another skyactiv, even if it's newer and a higher lineup. Saya coba beri pencerahan.

Andai saja saya adalah pemilik CX5 facelift 2015, dipastikan secinta-cintanya saya dengan CX9 2019, saya akan tunda membelinya minimal hingga 2021, dan masih sangat mungkin lebih lama lagi mengingat umur CX9 skyactiv masih muda untuk major remodelling. Saya bisa membayangkan merasa turned off ketika melihat interior dari CX9 sekarang karena sudah menikmati interior yang secara prinsip masih sama selama 4 tahun terakhir. Itu seperti melihat seorang wanita lain yang lebih cantik paras luarnya, namun saya menyadari isi hatinya tidak lebih dewasa untuk dijadikan alasan legit putus dengan pacar lama.

Namun background saya adalah pemakai CX5 pre facelift. Saya memang pernah menikmati skyactiv, namun saat itu masa dimana era tersebut masih dalam early stage, yang akhirnya truly blossom pada 2016 saat CX9 Skyactiv meluncur. Dan benar-benar berbuah di tahun-tahun berikutnya dengan CX5 2017, Mazda6 2018, Mazda3 2019, dan lineup lain.

Tidak bisa dipungkiri, andai ketika 2014 saya memutuskan untuk membeli other brand macam X-Trail, CRV, atau Captiva (thank God i didn't), maka kepuasan saya ketika di 2019 membeli CX9 akan jauh lebih extravagant. Saya akan merasakan kehidupan baru yang lebih tulen.

Afterall, saya ada didalam kategori pelanggan yang puas diatas rata-rata dengan upgrade tongkrongan saya, terlepas dari adanya karakter yang sedikit sama dengan pendamping lama saya. Saya pikir apa yang ditembus CX9 dalam sisi kecantikan luar, tenaga mesin, pengendalian, luas kabin, atmosfer mewah di build quality, brand recognition, dibungkus dengan nominal harga demikian, membuat saya tidak bisa berpikir akan adanya pilihan lain yang lebih value for money.




Tambahan

Image
Istri tua
Cars have soul.
User avatar
sukribo
Full Member of Senior Mechanic
Full Member of Senior Mechanic
Posts: 547
Joined: 06 Sep 2013, 10:44
Location: Surabaya

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by sukribo »

Wah mantap kali love letter nya... Eh repiu nya

Salam zoom zoom dah... Semoga bahagia selalu pasangan barunya
**************
The only reason I'm giving it five stars is because I can't give it 14 - Clarkson
User avatar
sintoni
Full Member of Mechanic Engineer
Full Member of Mechanic Engineer
Posts: 3525
Joined: 05 Jun 2014, 20:03
Daily Vehicle: Yaris

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by sintoni »

Mantapppp curhatan campur repiunya om.

Salah satu mobil yang selalu bikin mupeng, cuma pernah liat sekali di jalanan tapi mantep bener sih tongkrongannya.

Dulu ortu pernah punya yang model sebelumnya, tahun 2012 tapi karena boros + terlalu gede akhirnya dilego. Haha.
KielConstantine
New Member of Mechanic Engineer
New Member of Mechanic Engineer
Posts: 906
Joined: 03 Jul 2013, 13:23
Location: Indonesia

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by KielConstantine »

Itu istri tua cat soul red-nya masih bagus loh. Emang ya namanya kualitas CBU memang beda...
S̶h̶e̶e̶r̶ ̶D̶r̶i̶v̶i̶n̶g̶ ̶P̶l̶e̶a̶s̶u̶r̶e̶
Sheer Repairing Pleasure :big_smoking:
martinnn
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer
Posts: 2795
Joined: 17 Aug 2015, 13:32
Location: Jabodetabek
Daily Vehicle: Innova gen 1 vvti + Supra X 125 with Givi Top box

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by martinnn »

enjoy the ride [emo-mark-A] [emo-mark-A] [emo-mark-A] [emo-mark-A]
Morv.co.id ( Brand marketing Agency & Production House )
Astha Jaya Indo ( Distributor of FMCG and LED Lamp Nanolite )

https://api.whatsapp.com/send?phone=6281288415145
User avatar
ChZ
SM Specialist
SM Specialist
Posts: 10710
Joined: 08 Oct 2013, 21:30
Location: Semarang
Daily Vehicle: Civic FK4

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by ChZ »

Honestly I really enjoy your review, oom... you got some writing talent. Pemilihan kata dan narasinya sungguh enak dibaca.
Di sisi lain, jika 2019 CX9 bukanlah Mazda pertama anda, maka akan ada beberapa pilihan skenario kepuasan, tergantung lineup apa yang sebelumnya anda miliki.

Jika anda ex-pemilik lineup pre skyactiv era, anda boleh berbangga bahwa brand kecintaan anda berinovasi demi kepuasan pelanggan tercinta. Kepuasan yang sama masih bisa didapat seolah selama ini tidak pernah mencicip Mazda. Karena era skyactiv membawa Mazda menjadi manusia baru yang lebih mature dibanding masa pernikahannya terdahulu dengan Ford. It's more like a change than upgrade.

Selanjutnya jika anda seperti saya, sudah pernah merasakan apa itu skyactiv sebelumnya, maka anda dihimbau untuk lebih ambil waktu berpikir dalam memutuskan meminang another skyactiv, even if it's newer and a higher lineup. Saya coba beri pencerahan.

Andai saja saya adalah pemilik CX5 facelift 2015, dipastikan secinta-cintanya saya dengan CX9 2019, saya akan tunda membelinya minimal hingga 2021, dan masih sangat mungkin lebih lama lagi mengingat umur CX9 skyactiv masih muda untuk major remodelling. Saya bisa membayangkan merasa turned off ketika melihat interior dari CX9 sekarang karena sudah menikmati interior yang secara prinsip masih sama selama 4 tahun terakhir. Itu seperti melihat seorang wanita lain yang lebih cantik paras luarnya, namun saya menyadari isi hatinya tidak lebih dewasa untuk dijadikan alasan legit putus dengan pacar lama.

Namun background saya adalah pemakai CX5 pre facelift. Saya memang pernah menikmati skyactiv, namun saat itu masa dimana era tersebut masih dalam early stage, yang akhirnya truly blossom pada 2016 saat CX9 Skyactiv meluncur. Dan benar-benar berbuah di tahun-tahun berikutnya dengan CX5 2017, Mazda6 2018, Mazda3 2019, dan lineup lain.

Tidak bisa dipungkiri, andai ketika 2014 saya memutuskan untuk membeli other brand macam X-Trail, CRV, atau Captiva (thank God i didn't), maka kepuasan saya ketika di 2019 membeli CX9 akan jauh lebih extravagant. Saya akan merasakan kehidupan baru yang lebih tulen.
well exactly what I feel ketika nyetir CX-9.

ane bukan pemilik Mazda SKYACTIV manapun tapi cukup akrab dengan experience nya, FYI sejak 2013 hampir semua lini Mazda Sky udah pernah ane pegang. Biante Sky, CX-5 2.0 & 2.5 First generation 2012 / 2015, CX-5 2nd generation, Mazda2 Sky, Mazda3 2018, Mazda3 2019, Mazda6 2012, CX-3 2017, dan CX-9 2018, dan jujur aja pegang yang manapun itu generik, paling bedanya dari Mazda2 / CX-3 ke CX-5 ke atas. Masuk interiornya tidak ada yang baru, jadi sedikit letdown.

Sisanya experiencenya mirip - mirip saja. Karakter maticnya ane sudah hapal, karakter steering dan handlingnya sudah hapal, driving feelnya mirip-mirip cuma beda ukuran bodi dan bentuk bodi saja. Makanya waktu nyetir CX-9, paling yang terasa perbedaannya dan satu-satunya hal yang baru disini ya mesin turbonya.

sisanya ane merasa... ya gak ada yang salah dengan mobil ini, tapi nggak merasa mobil ini terlalu spesial saking feelnya Mazda Sky ya begitu itu. Kayak beli CX-5 dengan bonus row tambahan dan wheelbase tambahan + mesin turbocharged.

Dulu waktu awal-awal platform ini diperkenalkan ya rasanya spesial, tapi makin kesini rasanya antar lineup justru generik dan... cenderung boring karena sudah hapal. Mazda3 baru pun sebenernya kurang memuaskan karena mesin lawasnya malah disunat powernya.

jadi kalo ane yang cuma ngicip2 beberapa lineup aja udah ngerasa kurang dapet rasa spesialnya, kebayang gimana orang yang sehari-hari pake CX-5 Facelift 2015 terus mau upgrade ke CX-9 dengan layout kabin yang nyaris sama, gak berasa ganti mobil :mky_07:
2011 Toyota XU30 / 2016 XP170
2015 Honda RU5 / 2017 FK4 / 2018 RW1
2019 Mitsubishi NC1W

https://livingwithcars.wixsite.com/livingwithcars/blog
epurba
Visitor
Visitor
Posts: 8
Joined: 06 Jul 2018, 17:11

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by epurba »

Sharing experience yg warbyasah..
Serasa baca cerpen..
Kereeenn..!
akulemu
Member of Senior Mechanic
Member of Senior Mechanic
Posts: 274
Joined: 13 Jun 2012, 16:11
Location: Persebaya sampe tuek
Daily Vehicle: Venturer + cx9 sky + mobilio rs mt

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by akulemu »

sukribo wrote: 17 Dec 2019, 21:04 Wah mantap kali love letter nya... Eh repiu nya ImageImageImage

Salam zoom zoom dah... Semoga bahagia selalu pasangan barunya ImageImageImage
Selama indera penglihatan saya masih oke, saya ragu bisa setia selamanya 🤣

sintoni wrote: 17 Dec 2019, 22:00 Mantapppp curhatan campur repiunya om.

Salah satu mobil yang selalu bikin mupeng, cuma pernah liat sekali di jalanan tapi mantep bener sih tongkrongannya.

Dulu ortu pernah punya yang model sebelumnya, tahun 2012 tapi karena boros + terlalu gede akhirnya dilego. Haha.
Makasi om.

Btw, saya bisa membayangkan lo jadi pemilik CX9 pre skyactive yang masih bangga dengan roadmate nya di saat sekarang ini.

Banyak jenis mobil tua yang saya merasa ke premium an mereka di masa lalu tidak pudar sampai hari ini, antara lain Odyssey RB1 Absolute, Harrier AirS, CX7, Elysion, Toyota Will VS, Accord Euro... aah saat mereka di masa jaya nya saya hanya kecebong

KielConstantine wrote: 18 Dec 2019, 02:43 Itu istri tua cat soul red-nya masih bagus loh. Emang ya namanya kualitas CBU memang beda...
Sebenernya sudah tidak segelap asli nya om. Memang mobil kalau warnanya pingin cantik terus, mau ga mau harus di coating. CX5 saya dipoles saja ga sampai coat

martinnn wrote: 18 Dec 2019, 08:57 enjoy the ride [emo-mark-A] [emo-mark-A] [emo-mark-A] [emo-mark-A]
Every second, om :big_okay:

ChZ wrote: 18 Dec 2019, 15:32 Honestly I really enjoy your review, oom... you got some writing talent. Pemilihan kata dan narasinya sungguh enak dibaca.
Terima kasih om. Saya banyak belajar dari tulisan para sesepuh reviewer di SM sejak awal join termasuk om Chz. Saya kangen in depth review dari user gaek SM yang sudah jarang muncul baik orangnya maupun reviewnya. Jadi saya coba-coba ngibasin lagi api indepth review ala SM.

ChZ wrote: 18 Dec 2019, 15:32 well exactly what I feel ketika nyetir CX-9.

ane bukan pemilik Mazda SKYACTIV manapun tapi cukup akrab dengan experience nya, FYI sejak 2013 hampir semua lini Mazda Sky udah pernah ane pegang. Biante Sky, CX-5 2.0 & 2.5 First generation 2012 / 2015, CX-5 2nd generation, Mazda2 Sky, Mazda3 2018, Mazda3 2019, Mazda6 2012, CX-3 2017, dan CX-9 2018, dan jujur aja pegang yang manapun itu generik, paling bedanya dari Mazda2 / CX-3 ke CX-5 ke atas. Masuk interiornya tidak ada yang baru, jadi sedikit letdown.

Sisanya experiencenya mirip - mirip saja. Karakter maticnya ane sudah hapal, karakter steering dan handlingnya sudah hapal, driving feelnya mirip-mirip cuma beda ukuran bodi dan bentuk bodi saja. Makanya waktu nyetir CX-9, paling yang terasa perbedaannya dan satu-satunya hal yang baru disini ya mesin turbonya.

sisanya ane merasa... ya gak ada yang salah dengan mobil ini, tapi nggak merasa mobil ini terlalu spesial saking feelnya Mazda Sky ya begitu itu. Kayak beli CX-5 dengan bonus row tambahan dan wheelbase tambahan + mesin turbocharged.

Dulu waktu awal-awal platform ini diperkenalkan ya rasanya spesial, tapi makin kesini rasanya antar lineup justru generik dan... cenderung boring karena sudah hapal. Mazda3 baru pun sebenernya kurang memuaskan karena mesin lawasnya malah disunat powernya.

jadi kalo ane yang cuma ngicip2 beberapa lineup aja udah ngerasa kurang dapet rasa spesialnya, kebayang gimana orang yang sehari-hari pake CX-5 Facelift 2015 terus mau upgrade ke CX-9 dengan layout kabin yang nyaris sama, gak berasa ganti mobil :mky_07:
Jangan cuma di icip om, ayo kawini dia, rasakan kehidupan bersamanya. Kalau dia merajuk, bisa kawin tiga :off_ladies:

epurba wrote: 18 Dec 2019, 21:48 Sharing experience yg warbyasah..
Serasa baca cerpen..
Kereeenn..!
Makasih om. Saya sempat kuatir kepanjangan.
Cars have soul.
User avatar
ChZ
SM Specialist
SM Specialist
Posts: 10710
Joined: 08 Oct 2013, 21:30
Location: Semarang
Daily Vehicle: Civic FK4

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by ChZ »

akulemu wrote: 19 Dec 2019, 00:25
Terima kasih om. Saya banyak belajar dari tulisan para sesepuh reviewer di SM sejak awal join termasuk om Chz. Saya kangen in depth review dari user gaek SM yang sudah jarang muncul baik orangnya maupun reviewnya. Jadi saya coba-coba ngibasin lagi api indepth review ala SM.


Jangan cuma di icip om, ayo kawini dia, rasakan kehidupan bersamanya. Kalau dia merajuk, bisa kawin tiga :off_ladies:

wkwkwkwkwkwk sesepuh2 review skrg udah jarang turun gunung, dan kayaknya user SM sekarang udah jarang yang minat baca review... baru-baru ini post review gak bisa serame dulu lagi :mky_07: apalagi skrg musimnya review video. SM kekurangan SDM yang bisa rutin bikin video soalnya

yah selama ini belum berjodoh aja um kapan lalu hampir ambil CX-5 seken eh zonk gegara ngirain unit 2.5 ternyata 2.0 liat di STNKnya. Yang sekarang kurang minat kecuali CX-9 krn ane udah cinta mobil berturbo sejak pake civic & CRV baru :big_love: paling nanti kalau Mazda3 Sky-X mulai dimasukin ane mulai tertarik :big_love:
2011 Toyota XU30 / 2016 XP170
2015 Honda RU5 / 2017 FK4 / 2018 RW1
2019 Mitsubishi NC1W

https://livingwithcars.wixsite.com/livingwithcars/blog
black2345
Member of Senior Mechanic
Member of Senior Mechanic
Posts: 177
Joined: 30 Sep 2015, 16:29

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by black2345 »

Wah selamat om atas mobil barunya..

entah kenapa selalu mupeng lihat cx series yg baru di jalanan, apalagi kalo warnanya merah ..

btw bawa mobil segede itu di jalan macet apa nggak khawatir om?
akulemu
Member of Senior Mechanic
Member of Senior Mechanic
Posts: 274
Joined: 13 Jun 2012, 16:11
Location: Persebaya sampe tuek
Daily Vehicle: Venturer + cx9 sky + mobilio rs mt

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by akulemu »

ChZ wrote: 20 Dec 2019, 09:45
wkwkwkwkwkwk sesepuh2 review skrg udah jarang turun gunung, dan kayaknya user SM sekarang udah jarang yang minat baca review... baru-baru ini post review gak bisa serame dulu lagi :mky_07: apalagi skrg musimnya review video. SM kekurangan SDM yang bisa rutin bikin video soalnya.
Iya memang budaya informasi audio visual lebih bikin menoleh. Namun membaca jauh lebih melatih kekritisan kita berpikir atau olahraga otak.

Kalau di video review, kita bisa terpukau duluan dengan angle + efek animasi gambarnya dan music vlog nya. Konten dari narasinya bisa di toleransi banyak kalau audio visualnya sudah menjerat kita, padahal kita perlu banyak cerita 'rasa' di detail mobil nya karena mengingat kita cuma bisa lihat dan bayangin, tapi ga bisa pegang.

Secara pribadi, yang narasinya bagus cuma om fitra eri dan om audi (autonetmagz). Yang lain kebanyakan slang atau gimmick2 receh dalam jelasin mobilnya. Andai dituliskan dalam sebuah bacaan, maka tidak akan enak dibaca, karena tanpa bumbu audio visual, narasi receh tidak akan bisa di presentasikan.

Saya suka baca review sesepuh di SM karena penulis bisa menggambarkan secara audio visual tapi melalui kata-kata tanpa kehilangan maksud konten nya.



https://kominfo.belitungkab.go.id/2017/ ... -terpuruk/

"Budaya Indonesia adalah budaya mendengar, bukan budaya membaca. (Tidak heran berita bohong subur)."

Soesilo Ananta Toer

black2345 wrote: 20 Dec 2019, 10:09 Wah selamat om atas mobil barunya..

entah kenapa selalu mupeng lihat cx series yg baru di jalanan, apalagi kalo warnanya merah ..

btw bawa mobil segede itu di jalan macet apa nggak khawatir om?
Terima kasih, om. Saya yang sudah punya saja masih mupeng kalo liat di jalanan lewat. "Anjir! Dia juga punya, asem!"

Iya, memang jauh lebih tegang nyetir mobil ini daripada crossover 2 kabin umum. Pindah jalur harus lebih disiplin memakai lampu sein (sebenernya sampai sepedamotor pun ya seharusnya begitu). Kalau macet tangan saya selalu standby di klakson, biker makin banyak dan makin agresif
Cars have soul.
User avatar
ChZ
SM Specialist
SM Specialist
Posts: 10710
Joined: 08 Oct 2013, 21:30
Location: Semarang
Daily Vehicle: Civic FK4

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by ChZ »

akulemu wrote: 20 Dec 2019, 11:20
Iya memang budaya informasi audio visual lebih bikin menoleh. Namun membaca jauh lebih melatih kekritisan kita berpikir atau olahraga otak.

Kalau di video review, kita bisa terpukau duluan dengan angle + efek animasi gambarnya dan music vlog nya. Konten dari narasinya bisa di toleransi banyak kalau audio visualnya sudah menjerat kita, padahal kita perlu banyak cerita 'rasa' di detail mobil nya karena mengingat kita cuma bisa lihat dan bayangin, tapi ga bisa pegang.

Secara pribadi, yang narasinya bagus cuma om fitra eri dan om audi (autonetmagz). Yang lain kebanyakan slang atau gimmick2 receh dalam jelasin mobilnya. Andai dituliskan dalam sebuah bacaan, maka tidak akan enak dibaca, karena tanpa bumbu audio visual, narasi receh tidak akan bisa di presentasikan.

Saya suka baca review sesepuh di SM karena penulis bisa menggambarkan secara audio visual tapi melalui kata-kata tanpa kehilangan maksud konten nya.



https://kominfo.belitungkab.go.id/2017/ ... -terpuruk/

"Budaya Indonesia adalah budaya mendengar, bukan budaya membaca. (Tidak heran berita bohong subur)."

Soesilo Ananta Toer
hihihi asik ada yang sepemikiran. betul oom ane juga jauh lebih suka nulis ketimbang bikin video. Soulnya lebih dapet di tulisan. Kalo video itu jujur gak semua orang punya bakat presentasi dgn pemilihan diksi dan body language yang bagus. Video review ane juga jujur ngaku kacau pemilihan diksinya, sebagai orang yang gak biasa presentasi di depan umum apalagi di depan kamera.

tapi jujur yah makin kesini ane makin bosan juga dengan video review yang kebanyakan gimmick tapi kontennya nol. Udah jarang liat video review karena rata-rata gak ada isinya. Utk video saat ini setuju yang paling bagus narasinya emang mas Fitra, pengalaman jadi jurnalis cukup lama gak bohong lah dia. Audi itu kontennya cukup bagus krn memang paham, sama 1 lagi Franciscus Rosano nya Carmudi juga enak.

Lainnya pure entertainment purpose kontennya nol besar. si om bertopeng juga lebih seru vlog bengkelnya ketimbang reviewnya. Fokusnya di gimmick audiovisual dan guyonan receh yang cuma dipahami crew + fans setia. Ngomongnya belepotan "suspensinya nyaman", "mesinnya responsif", "sasisnya enak", lah enak tuh gimaneeeee bambang?? dari Agya sampe Alphard dibilang enak enak doang. Karakter powerband gimana, karakter transmisi gimana, suspensinya reboundnya mental mentul atau firm, kalo belok pantatnya nurut atau bisa ngeslide, traction controlnya bekerja enggak, dll.

Dulu yang mendorong ane join SM taun 2013 juga review - review berkualitas dimari, dan skill nulisnya juga berkembang, dulu awal-awal sih belepotan banget :mky_07:

Hahahaha bener banget orang kita kan suka banget lebih percaya "katanya katanya". Kata si anu gini, kata si anu gitu. Yutuber ngomong apa dipercaya. Marketing ngomong apa dipercaya.
2011 Toyota XU30 / 2016 XP170
2015 Honda RU5 / 2017 FK4 / 2018 RW1
2019 Mitsubishi NC1W

https://livingwithcars.wixsite.com/livingwithcars/blog
User avatar
sintoni
Full Member of Mechanic Engineer
Full Member of Mechanic Engineer
Posts: 3525
Joined: 05 Jun 2014, 20:03
Daily Vehicle: Yaris

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by sintoni »

akulemu wrote: 19 Dec 2019, 00:25 Makasi om.

Btw, saya bisa membayangkan lo jadi pemilik CX9 pre skyactive yang masih bangga dengan roadmate nya di saat sekarang ini.

Banyak jenis mobil tua yang saya merasa ke premium an mereka di masa lalu tidak pudar sampai hari ini, antara lain Odyssey RB1 Absolute, Harrier AirS, CX7, Elysion, Toyota Will VS, Accord Euro... aah saat mereka di masa jaya nya saya hanya kecebong
Haha.

Will VS sama Accord Euro kan ga keluar resmi disini om.

Nah, ya karena itu dulu di garasi ada CX9 ini sama RB om, akhirnya CX9 yg dijual, si RB sampe skrg masih ada. Enakan naik RB biarpun tenaga kalah jauh, soalnya RB ane keluaran ATPM. Haha.
benzz89
New Member of Mechanic Engineer
New Member of Mechanic Engineer
Posts: 707
Joined: 09 Feb 2008, 21:32

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by benzz89 »

Kalau gak ada garis chrome di buntutnya sih ane pasti keselimpet matanya ama CX5.

Benar sekali harusnya itu exhaust tip dibuat seperti model sebelumnya, jujur ane lebih suka model buntut yang sebelumnya.
20191220_140226.jpeg
20191220_140226.jpeg (103.66 KiB) Viewed 1365 times
akulemu
Member of Senior Mechanic
Member of Senior Mechanic
Posts: 274
Joined: 13 Jun 2012, 16:11
Location: Persebaya sampe tuek
Daily Vehicle: Venturer + cx9 sky + mobilio rs mt

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by akulemu »

[emo-mark-A]
ChZ wrote: 20 Dec 2019, 11:49
Lainnya pure entertainment purpose kontennya nol besar. si om bertopeng juga lebih seru vlog bengkelnya ketimbang reviewnya. Fokusnya di gimmick audiovisual dan guyonan receh yang cuma dipahami crew + fans setia. Ngomongnya belepotan "suspensinya nyaman", "mesinnya responsif", "sasisnya enak", lah enak tuh gimaneeeee bambang?? dari Agya sampe Alphard dibilang enak enak doang. Karakter powerband gimana, karakter transmisi gimana, suspensinya reboundnya mental mentul atau firm, kalo belok pantatnya nurut atau bisa ngeslide, traction controlnya bekerja enggak, dll.
Kemungkinan positifnya, mereka yang kita maksud itu sudah siapkan bahan untuk video, namun ketika on camera pertimbangan bahasa tubuh mulai muncul. Gerakan tangan, arah mata, cara senyum, pergerakan langkah, posisi bahu, pengambilan nafas, jeda per kalimat, intonasi, karakter selfimage depan kamera yang ingin dibangun. Reviewer bisa overwhelmed ketika ingin mengutarakan bahan yang telah disiapkan tapi concern body language etc membebani sekaligus. Retake juga bukanlah segalanya.

Makanya om the mask mempertahankan topengnya semata-mata membuang beberapa variabel yang memberatkan review via vlog, yaitu raut wajah.

Andai mereka mengambil kesempatan membuat review komersil dengan tulisan, mungkin hasilnya akan lebih berkualitas. Variabel yang harus dipikirkan tidak sebanyak bikin video, tapi fokus betul pada satu hal saja, artikulasi bahasa.

Saya sendiri yakin, kalau saya membuat review di atas pakai media video, pasti ancur 😆

Bolehlah para mod invite 'mereka' ke SM, kita periksa narasinya layak ga jadi reviewer 😚
sintoni wrote: 20 Dec 2019, 12:57 Haha.

Will VS sama Accord Euro kan ga keluar resmi disini om.

Nah, ya karena itu dulu di garasi ada CX9 ini sama RB om, akhirnya CX9 yg dijual, si RB sampe skrg masih ada. Enakan naik RB biarpun tenaga kalah jauh, soalnya RB ane keluaran ATPM. Haha.
Oiya, kebetulan 2 teman kuliah pakai Will VS dan Acc Euro jadi meski ga sliweran di jalan, saya sempat selama sekian tahun liat 2 sosok itu setiap hari.

Willvs suka karena design nya macam jetfighter dengan tuas gear selector macam tuas sama yang didorong pilot untuk take off. Kalo si euro suka karena ada roh honda Integra kalau dilihat dari belakang.


benzz89 wrote: 20 Dec 2019, 14:34 Kalau gak ada garis chrome di buntutnya sih ane pasti keselimpet matanya ama CX5.

Benar sekali harusnya itu exhaust tip dibuat seperti model sebelumnya, jujur ane lebih suka model buntut yang sebelumnya.
Sebenarnya kalau selama ada matahari masih dapat dibilang jelas bisa dibedakan om. Cuma kalau sudah gelap dan lihatnya sejak dari jarak 20 meter ke atas, nyala lampu ring merah nya nyaris ga ada bedanya dengan CX5, dan krom tengah plus siluet widebodynya sudah gak jelas.

Sudah buang duit 50% lebih banyak, tapi kadang masih dikira tongkrongan suv pasaran.. naseeb... 🤣
Cars have soul.
benzz89
New Member of Mechanic Engineer
New Member of Mechanic Engineer
Posts: 707
Joined: 09 Feb 2008, 21:32

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by benzz89 »

Nah itu dia om... CX9 sebagai kasta tertinggi dari SUV mazda, dengan selisih harga hampir 50% dengan CX5, kasihlah perbedaan yang agak mencolok di bagian buntutnya.

Kalaupun stop lamp sudah agak mirip dengan adiknya, paling enggak itu exhaust tip bikin kaya tiguan all space kan keren, menyatu dengan bumper lips. Meski palsu itu exhaust gak apalah yang penting enak aja diliatnya Image

Dari CX3, CX5, CX8 CX9, mazda 3, 6, 8 (old) sama semua itu model exhaust tip nya Image

Bagian buntut mobil menurut ane paling penting, karena paling sering diliat dari belakang. Ane naksir berat ama mazda 6 estate elite & berharap besar ada improvement di sektor ini.
akulemu wrote:[emo-mark-A]
ChZ wrote: 20 Dec 2019, 11:49
Lainnya pure entertainment purpose kontennya nol besar. si om bertopeng juga lebih seru vlog bengkelnya ketimbang reviewnya. Fokusnya di gimmick audiovisual dan guyonan receh yang cuma dipahami crew + fans setia. Ngomongnya belepotan "suspensinya nyaman", "mesinnya responsif", "sasisnya enak", lah enak tuh gimaneeeee bambang?? dari Agya sampe Alphard dibilang enak enak doang. Karakter powerband gimana, karakter transmisi gimana, suspensinya reboundnya mental mentul atau firm, kalo belok pantatnya nurut atau bisa ngeslide, traction controlnya bekerja enggak, dll.
Kemungkinan positifnya, mereka yang kita maksud itu sudah siapkan bahan untuk video, namun ketika on camera pertimbangan bahasa tubuh mulai muncul. Gerakan tangan, arah mata, cara senyum, pergerakan langkah, posisi bahu, pengambilan nafas, jeda per kalimat, intonasi, karakter selfimage depan kamera yang ingin dibangun. Reviewer bisa overwhelmed ketika ingin mengutarakan bahan yang telah disiapkan tapi concern body language etc membebani sekaligus. Retake juga bukanlah segalanya.

Makanya om the mask mempertahankan topengnya semata-mata membuang beberapa variabel yang memberatkan review via vlog, yaitu raut wajah.

Andai mereka mengambil kesempatan membuat review komersil dengan tulisan, mungkin hasilnya akan lebih berkualitas. Variabel yang harus dipikirkan tidak sebanyak bikin video, tapi fokus betul pada satu hal saja, artikulasi bahasa.

Saya sendiri yakin, kalau saya membuat review di atas pakai media video, pasti ancur Image

Bolehlah para mod invite 'mereka' ke SM, kita periksa narasinya layak ga jadi reviewer Image
sintoni wrote: 20 Dec 2019, 12:57 Haha.

Will VS sama Accord Euro kan ga keluar resmi disini om.

Nah, ya karena itu dulu di garasi ada CX9 ini sama RB om, akhirnya CX9 yg dijual, si RB sampe skrg masih ada. Enakan naik RB biarpun tenaga kalah jauh, soalnya RB ane keluaran ATPM. Haha.
Oiya, kebetulan 2 teman kuliah pakai Will VS dan Acc Euro jadi meski ga sliweran di jalan, saya sempat selama sekian tahun liat 2 sosok itu setiap hari.

Willvs suka karena design nya macam jetfighter dengan tuas gear selector macam tuas sama yang didorong pilot untuk take off. Kalo si euro suka karena ada roh honda Integra kalau dilihat dari belakang.


benzz89 wrote: 20 Dec 2019, 14:34 Kalau gak ada garis chrome di buntutnya sih ane pasti keselimpet matanya ama CX5.

Benar sekali harusnya itu exhaust tip dibuat seperti model sebelumnya, jujur ane lebih suka model buntut yang sebelumnya.
Sebenarnya kalau selama ada matahari masih dapat dibilang jelas bisa dibedakan om. Cuma kalau sudah gelap dan lihatnya sejak dari jarak 20 meter ke atas, nyala lampu ring merah nya nyaris ga ada bedanya dengan CX5, dan krom tengah plus siluet widebodynya sudah gak jelas.

Sudah buang duit 50% lebih banyak, tapi kadang masih dikira tongkrongan suv pasaran.. naseeb... Image
20191220_165643.jpeg
20191220_165643.jpeg (88.44 KiB) Viewed 1318 times
Fiskus
Newbie
Newbie
Posts: 11
Joined: 15 Nov 2018, 12:32
Daily Vehicle: Honda

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by Fiskus »

tadi pagi, di tol arah menuju jakarta. Di depan saya ada cx9.

Seksi.
mr_mytplx
New Member of Mechanic Engineer
New Member of Mechanic Engineer
Posts: 1233
Joined: 20 Apr 2009, 13:17

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by mr_mytplx »

ChZ wrote: 20 Dec 2019, 11:49
hihihi asik ada yang sepemikiran. betul oom ane juga jauh lebih suka nulis ketimbang bikin video. Soulnya lebih dapet di tulisan. Kalo video itu jujur gak semua orang punya bakat presentasi dgn pemilihan diksi dan body language yang bagus. Video review ane juga jujur ngaku kacau pemilihan diksinya, sebagai orang yang gak biasa presentasi di depan umum apalagi di depan kamera.

tapi jujur yah makin kesini ane makin bosan juga dengan video review yang kebanyakan gimmick tapi kontennya nol. Udah jarang liat video review karena rata-rata gak ada isinya. Utk video saat ini setuju yang paling bagus narasinya emang mas Fitra, pengalaman jadi jurnalis cukup lama gak bohong lah dia. Audi itu kontennya cukup bagus krn memang paham, sama 1 lagi Franciscus Rosano nya Carmudi juga enak.

Lainnya pure entertainment purpose kontennya nol besar. si om bertopeng juga lebih seru vlog bengkelnya ketimbang reviewnya. Fokusnya di gimmick audiovisual dan guyonan receh yang cuma dipahami crew + fans setia. Ngomongnya belepotan "suspensinya nyaman", "mesinnya responsif", "sasisnya enak", lah enak tuh gimaneeeee bambang?? dari Agya sampe Alphard dibilang enak enak doang. Karakter powerband gimana, karakter transmisi gimana, suspensinya reboundnya mental mentul atau firm, kalo belok pantatnya nurut atau bisa ngeslide, traction controlnya bekerja enggak, dll.

Dulu yang mendorong ane join SM taun 2013 juga review - review berkualitas dimari, dan skill nulisnya juga berkembang, dulu awal-awal sih belepotan banget :mky_07:

Hahahaha bener banget orang kita kan suka banget lebih percaya "katanya katanya". Kata si anu gini, kata si anu gitu. Yutuber ngomong apa dipercaya. Marketing ngomong apa dipercaya.
Iy tuh, si Rosano. Lumayan bagus, detail jg.
akulemu
Member of Senior Mechanic
Member of Senior Mechanic
Posts: 274
Joined: 13 Jun 2012, 16:11
Location: Persebaya sampe tuek
Daily Vehicle: Venturer + cx9 sky + mobilio rs mt

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by akulemu »

benzz89 wrote: 20 Dec 2019, 17:45 Nah itu dia om... CX9 sebagai kasta tertinggi dari SUV mazda, dengan selisih harga hampir 50% dengan CX5, kasihlah perbedaan yang agak mencolok di bagian buntutnya.

Kalaupun stop lamp sudah agak mirip dengan adiknya, paling enggak itu exhaust tip bikin kaya tiguan all space kan keren, menyatu dengan bumper lips. Meski palsu itu exhaust gak apalah yang penting enak aja diliatnya Image

Dari CX3, CX5, CX8 CX9, mazda 3, 6, 8 (old) sama semua itu model exhaust tip nya Image

Bagian buntut mobil menurut ane paling penting, karena paling sering diliat dari belakang. Ane naksir berat ama mazda 6 estate elite & berharap besar ada improvement di sektor ini.
Satu-satunya solusi paling OEM yang tersedia adalah Corksport Axleback Exhaust USD599. Tapi stelah saya dengerin lagi, suaranya ga seneng ah. Jadi macem suara 'murah'. Mungkin gara-gara terjebak dalam mesin 4 silinder, sulit mau bagusin suara mesin spec begini.
Image

Image

Fiskus wrote: 21 Dec 2019, 12:34 tadi pagi, di tol arah menuju jakarta. Di depan saya ada cx9.

Seksi.
Reminder
:mky_06:
Image


mr_mytplx wrote: 21 Dec 2019, 16:11 Iy tuh, si Rosano. Lumayan bagus, detail jg.
Bener, yang paling ingetin saya ke dia itu waktu di review all new CRV. Banyak detail yang ga pernah di marketingkan Honda tapi muncul di reviewnya. Jarang-jarang nih brand mainstream berlagak cool dengan gimmicknya. Biasanya update krum doang aja keterangannya masuk brosur bagai update mutakhir.
Cars have soul.
Pboyz97
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer
Posts: 2609
Joined: 09 Oct 2016, 22:14
Location: East Jakarta
Daily Vehicle: CX5 Elite 2018

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by Pboyz97 »

Nice review and also nice story om. Pembawaannya bener - bener enak dibaca. Congrats om atas CX9 nya. CX9 ini apalagi kalau warna soul red memang cakep banget bentuknya, dan salah satu mazda idaman saya selain AN Mazda 3 hatchback. Selain itu, CX9 ini juga mobil yg mewah dan kaya fitur, cuma sayangnya, konsol tengah dan bentuk layar mzd connectnya masih mirip sm CX5 yg lebih murah. Anyway mazda memang reliable kok. Bapak saya dulu juga mantan pengguna CX5 Gen 1 PFL ,tapi yg 2.0 2013, sampe dijual beberapa bulan lalu gak ada rattle atau masalah apapun padahal odo dah 150 rb. Sekarang pake CX5 Elite 2018 dan CRV Turbo 2019 , masih jauh lebih suka mazda dibanding Honda, awalnya sih pengen upgrade ke AN Mazda 3 hatchback, sayang karena GC rendah dan mentingin comfort akhirnya mau gak mau SPK CRV Turbo deh
Past:
1NZFE 4AT / L15A 5AT / K24Z1 5AT / 2.0 Skyactiv 6AT / 4A91 4AT / 2NRFE CVT / K3VE 5MT / 1NRVE 5MT

Now:
2.5 SKYACTIV - G 6AT / 1.5 VTEC Turbo CVT / L15Z1 CVT
akulemu
Member of Senior Mechanic
Member of Senior Mechanic
Posts: 274
Joined: 13 Jun 2012, 16:11
Location: Persebaya sampe tuek
Daily Vehicle: Venturer + cx9 sky + mobilio rs mt

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by akulemu »

Pboyz97 wrote: 22 Dec 2019, 15:44 Nice review and also nice story om. Pembawaannya bener - bener enak dibaca. Congrats om atas CX9 nya. CX9 ini apalagi kalau warna soul red memang cakep banget bentuknya, dan salah satu mazda idaman saya selain AN Mazda 3 hatchback. Selain itu, CX9 ini juga mobil yg mewah dan kaya fitur, cuma sayangnya, konsol tengah dan bentuk layar mzd connectnya masih mirip sm CX5 yg lebih murah. Anyway mazda memang reliable kok. Bapak saya dulu juga mantan pengguna CX5 Gen 1 PFL ,tapi yg 2.0 2013, sampe dijual beberapa bulan lalu gak ada rattle atau masalah apapun padahal odo dah 150 rb. Sekarang pake CX5 Elite 2018 dan CRV Turbo 2019 , masih jauh lebih suka mazda dibanding Honda, awalnya sih pengen upgrade ke AN Mazda 3 hatchback, sayang karena GC rendah dan mentingin comfort akhirnya mau gak mau SPK CRV Turbo deh
Wow 150rb? Btw, interesting story soal realibility skyactive ini ya. Karena dipikir2 selama 7 tahun sejak lahir saya inget-inget lagi emang ga ada cerita problem aneh-aneh dari mesin mazda kompresi tinggi ini dimana-mana. Juga masalah part mekanikal maupun elektronik ga inget pernah jumpain apalagi mengalami.

Btw, saya kira ada kebaikan dari banyaknya sharing part antar lineup yang dianggap jadi faktor generik seperti kata om Chz. Yaitu sparepart akan banyak tersedia dan tidak cepat punah, serta bisa ditekan harganya dibanding lineup dengan banyak part yang khusus di tiap lineup. Bandingkan di era Mazda sebelum skyactive, memang asik juga punya mobil berkarakter, tapi begitu 1 jenis lineup diskontinu maka segera punah juga lah ketersediaan spare partnya.

Makanya saya ga seneng sekali dengan jawaban atpm mazda yang begitu saja respon bahwa paddleshift CX5 atau Mazda6 tidak kompatibel dengan CX9. Sedangkan interface mid, speedo, setir, trans sama plek.
Cars have soul.
Pboyz97
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer
Posts: 2609
Joined: 09 Oct 2016, 22:14
Location: East Jakarta
Daily Vehicle: CX5 Elite 2018

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by Pboyz97 »

akulemu wrote: 23 Dec 2019, 00:24
Pboyz97 wrote: 22 Dec 2019, 15:44 Nice review and also nice story om. Pembawaannya bener - bener enak dibaca. Congrats om atas CX9 nya. CX9 ini apalagi kalau warna soul red memang cakep banget bentuknya, dan salah satu mazda idaman saya selain AN Mazda 3 hatchback. Selain itu, CX9 ini juga mobil yg mewah dan kaya fitur, cuma sayangnya, konsol tengah dan bentuk layar mzd connectnya masih mirip sm CX5 yg lebih murah. Anyway mazda memang reliable kok. Bapak saya dulu juga mantan pengguna CX5 Gen 1 PFL ,tapi yg 2.0 2013, sampe dijual beberapa bulan lalu gak ada rattle atau masalah apapun padahal odo dah 150 rb. Sekarang pake CX5 Elite 2018 dan CRV Turbo 2019 , masih jauh lebih suka mazda dibanding Honda, awalnya sih pengen upgrade ke AN Mazda 3 hatchback, sayang karena GC rendah dan mentingin comfort akhirnya mau gak mau SPK CRV Turbo deh
Wow 150rb? Btw, interesting story soal realibility skyactive ini ya. Karena dipikir2 selama 7 tahun sejak lahir saya inget-inget lagi emang ga ada cerita problem aneh-aneh dari mesin mazda kompresi tinggi ini dimana-mana. Juga masalah part mekanikal maupun elektronik ga inget pernah jumpain apalagi mengalami.

Btw, saya kira ada kebaikan dari banyaknya sharing part antar lineup yang dianggap jadi faktor generik seperti kata om Chz. Yaitu sparepart akan banyak tersedia dan tidak cepat punah, serta bisa ditekan harganya dibanding lineup dengan banyak part yang khusus di tiap lineup. Bandingkan di era Mazda sebelum skyactive, memang asik juga punya mobil berkarakter, tapi begitu 1 jenis lineup diskontinu maka segera punah juga lah ketersediaan spare partnya.

Makanya saya ga seneng sekali dengan jawaban atpm mazda yang begitu saja respon bahwa paddleshift CX5 atau Mazda6 tidak kompatibel dengan CX9. Sedangkan interface mid, speedo, setir, trans sama plek.
Yes, sering dipake bolak balik , jakarta- depok- bekasi- bogor sama dah dulu sering dibawa ke bandung sama udah pernah ke cirebon dan tegal juga hehehe. Setuju om, skyactiv emang gak pernah ada masalah aneh - aneh dan kelihatannya sudah well built dari awal. Poin terakhir, mending om bandingin sm beres lainnya aja om, soalnya jawaban tiap bengkel resmi mazda bisa aja beda - beda. Btw istri tuanya masih mulus tuh om hehehe, jadi kangen sm cx5 2013 saya yg udh kejual beberapa bulan lalu, tampilan persis kek punya om tapi warnanya putih , nyesel saya ganti CRV Turbo, dah BQ jelek, boros oli pula, masa km blm 3.000 indikator oli dah nyala :frm_bang_head: :frm_bang_head:
Past:
1NZFE 4AT / L15A 5AT / K24Z1 5AT / 2.0 Skyactiv 6AT / 4A91 4AT / 2NRFE CVT / K3VE 5MT / 1NRVE 5MT

Now:
2.5 SKYACTIV - G 6AT / 1.5 VTEC Turbo CVT / L15Z1 CVT
VoxPopuli
Member of Senior Mechanic
Member of Senior Mechanic
Posts: 182
Joined: 07 Aug 2016, 23:52
Location: Jakarta Selatan
Daily Vehicle: M264 - PY-VPTS

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by VoxPopuli »

Review bagus, Om.

Emang Mazda baru seperti CX-9, CX-5 gen 2, Mazda6 FL terakhir, harus dicoba dulu sehari-hari untuk di appreciate mobil nya. Rasanya sudah seperti naik mobil premium, kayak VW.

Tapi hal ini jadi ada negatif nya, naik mobil non-premium jadi nggak enak rasanya.

Gue setelah ada CX-9, kalau naik Voxy rasanya kurang banget. Ade gue juga setelah pakai CX-5, kalau naik CR-V Turbo pun rasanya kurang.

Mazda dan VW emang brand tanggung. Kalau turun ke brand biasa, rasanya kurang. Kalau naik ke luxury brand, kemahalan.
erwinign
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer
Posts: 2500
Joined: 19 Apr 2014, 10:45
Location: SRG

Re: [REVIEW] Owning Experience Mazda CX9 2019

Post by erwinign »

Kemarin nyoba CX9 yang unit 2017, jok masih beige dan ban falken. Impresi nyetir mobil ini= gila deh, bener2 well built kaya mobil europe dg harga yang cengli. Dan karakternya amerika banget scr dimensi.

Turbo lag nya minim banget dan toel dikit tau2 dah 130 kmh aja krn peak torque nya di rpm 2000an . Suspensi punya karakter sdkt kaya kapal, cuma ayunan nya pas sama nose divingnya keitung minim buat suv segede ini. Posisi nyetir malah saya jauh lebih seneng cx9 daripada cx5 yg commanding banget. Cx9 mirip sedan gara2 dash nya rendah, dan selama nyetir nggak kerasa bawa mobil panjang 5m dan lebar 2m.

Nggak heran mobil ini cukup banyak di jalanan sekarang, even kota kecil model semarang. Buat saya yg punya mobil seneng "beli jadi" mazda paling oke deh. Oya, satu lagi yg cukup surprise buat saya radius puternya jg oke unt ukuran panjang 5 meter
Don't Judge The Book By It's Cover
Post Reply