Review & Owning The Old Beast, Toyota Camry V6 3.5Q

Mau review kendaraan yang ada? Silakan post disini...

Moderators: y_anjasrana, F 272, ginting, FRD, artoodetoo, b8099ok

Post Reply
User avatar
Jose
Full Member of Senior Mechanic
Full Member of Senior Mechanic
Posts: 375
Joined: 02 Jan 2008, 12:19
Location: Southern Batavia
Contact:

Review & Owning The Old Beast, Toyota Camry V6 3.5Q

Post by Jose » 04 Apr 2018, 13:26

Review & Owning Experience Toyota Camry 3.5Q

Image

Halo para penghuni SM, setelah bertahun-tahun nggak review mobil, kali ini saya mau review sebuah mobil yg usianya cukup tuwir namun (menurut saya) istimewa, yaitu Toyota Camry XV40 3.5Q, mobilnya punya saya sendiri, beli akhir tahun 2017, baru sempet review sekarang.


Backgound

Image

Sudah entah sejak kapan saya tidak bisa jauh-jauh dari Honda, dimulai sejak dapat lungsuran Accord CM5 dari ortu dan kemudian beli Brio 1.3 untuk harian. Bagi saya karakter Honda sangat cocok dengan saya waktu itu, handling oke, fun to drive, bantingan keras, gesit dan karakter mesinnya high rev a.k.a tenaganya nendang di putaran atas. Namun setelah berkeluarga rasanya hal tersebut sudah kurang memungkinkan, karena setiap nyetir kemanapun terutama di tol luar kota sering ditegur oleh isteri dan anak yang mengeluhkan gaya nyetir saya nggak nyaman..ya mau gimana lagi, power baru nendang di putaran atas plus bantingan keras jadilah kaki kanan berasa impoten demi mengakomodir kenyamanan berkendara. Akhirnya saya pun mulai mempertimbangkan untuk mengganti dengan mobil-mobil bertipe "Low Rev" yang masih bisa diajak berlari dengan nyaman, saya mulai melirik mobil-mobil diesel berturbo karena selain torsinya besar, powernya dapat diupgrade dengan mudah dan murah, hasil output yang meningkat signifikan dibanding petrol car, apalagi di SM ini adalah wadah tempat berkumpulnya jaguh-jaguh diesel, sayapun membaca hampir setiap thread yang membahas diesel car, sempat sudah hampir yakin untuk meminang 2nd innova or fortuner 2KD.

Namun entah mengapa seperti ada ganjalan, karena sebetulnya saya adalah pengemudi dengan tipe "High Rev", sama seperti bro Chz (pernah kita bahas di salah satu topik di SM). Rasanya ada bagian di diri saya yang menolak jika harus rubah karakter nyetir, ditambah lagi harga sedan-sedan bekas dengan displacement besar saat ini sangat menggiurkan kerena mulai ditinggalkan orang. Disini Kaki kanan saya yang sempat impoten tadi serasa membisikkan sesuatu ; "kenapa nggak V6 sekalian, karena konfigurasi ini mungkin sebentar lagi Punah"...pikir-pikir bener juga sih, terlihat dari passenger car termasuk yang performance oriented keluaran terakhir hampir semua menggunakan konfigurasi small displacement (4 cylinder) + turbo, praktis mesin-mesin V6 saat ini hanya ada di lineup sportcar atau luxury car yang harganya makin menggila saat ini. akhirnya putusin tetap di habitat awal searching2 mobil sedan 2nd dengan kriteria :
- midsize/semi full sized, karena anak udah dua, butuh space ruang belakang dan bagasi yang luas
- Comfort dengan karakter bantingan empuk dan low-mid torque baik
- V6 engine

Dari hasil search info terkumpullah 4 kandidat..Mercedes W204 C280, Toyota Mark-X, Toyota Camry XV40 3.5Q dan Honda Accord CP 3.5 VCM.
Disini analisa yang saya pakai dalam memilih lebih dominan ke maintenance aspect, karena this is Used Car..with bigger engine, more running (fuel) cost, (used to) premium segment with premium labor charge per treatment..mengandalkan Ego dan Idealisme bisa menjurus ke expenses yang bikin dompet jebol, so...
Mark-X saya coret karena spare part cukup langka di sentra onderdil, most parts hanya tersedia di bengkel resmi dan beberapa item harus inden, ini karena tidak ada common parts dengan model lain. Saya sendiri emoh untuk maintenance di beres.
Tadinya mupeng banget sama W204 C280, tapi terpaksa ikutan dicoret, karena walau parts melimpah di sentra onderdil, namun maintenance cost terutama ketika terjadi trouble tetap cukup tinggi, plus kabin belakang yang ternyata cukup sempit.
Accord 3.5VCM pun setelah pertimbangan panjang akhirnya dieliminasi karena walau secara handling lebih baik dan sama-sama reliable, ada beberapa poin minus, pertama transmisi hanya 5-speed torque converter, serupa trim 2.4 nya bahkan ratio gearnya pun serupa, plus keberadaan VCM yang bagi saya justru membuat mesin V6 nya seperti dikebiri, karakter V6 yang halus terasa hilang diputaran bawah karena silinder yang aktif hanya tiga, beberapa reviewer diluar mengatakan efek dari VCM pada efisiensi pun tidak terlalu signifikan sehingga ditinggalkan Honda dan ikutan fokus ke Hybrid. Satu hal lagi, karena mesin ini juga tidak hadir di lineup honda lainnya di Indonesia, maka parts & komponen yang interact langsung dengan VCM nya lebih sulit didapat.
So, The choices goes to Camry 3.5Q..populasi banyak, common parts banyak (alphard & harrier), parts grade bervariasi dari yang ori sampai local made pun ada dan..Powerr paling gede :D
Dengan budget yang ada pilihan awal saya adalah XV40 3.5Q Facelift (2009-2012), namun unitnya sangat sulit dicari dan kalaupun ada, yang jual pasang harga gak kira-kira. Pasaran 3.5Q pre FL (2006-2008) sudah stabil berkisar Rp.155-175 juta, yang FL (2009-2012) bisa di Rp.200-350 juta. Gap yang terlalu jauh untuk sebuah mobil yang sama, mesin sama dan fitur hanya beda di kursi pijat. Akhirnya putusin ambil Pre-FL.

**note : data yg saya dapat berdasarkan hasil menyambangi langsung ke bengkel resmi dan beberapa sentra onderdil seperti atrium senen, dutamas fatmawati (Rio Motor & Toko 74), bintaro BTC, cibubur point & ramanda depok.

Pada saat keliling cari unitnya, saya dibantu 2 temen saya, yg pertama om YK16, kebetulan beliau kerja di showroom mobkas bagian unit hunting, otomatis tau kondisi mobil yang baik atau buruk, yang kedua om Faisal (bukan warga SM), beliau minjemin camry XV40 2.4V seharian sekalian keliling jakarta dan sekitarnya ketika hunting mobilnya, katanya biar saya bisa ngerasain nyetir Camry XV40 sebelum beli. So far impresi saya XV40 2.4V pun sudah cukup baik dan meet my expectation yg memang nyari mobil nyaman, bantingan pas, empuk tapi tidak over & tarikan awal lincah, di towel dikit mobilnya udah loncat, putaran menengah masih enak hanya di putaran atas rada kosong & steering hambar, tapi surprisingly cukup asik utk selap-selip karena pas nyetir bodynya tidak berasa sebesar accord CP2, bikin saya makin nggak sabar utk punya XV40 3.5Q.
Oh iya dlm pencarian unitnya saya memang hanya cari di showroom mobkas dan balai lelang, alasannya saya orang yg pengen prosesnya cepet dan gak ribet, kalau dari pemilik biasanya harus janjian dulu, sampe rumahnya ketok-ketok dulu, belum lagi gak tau karakter pemiliknya seperti apa, misal gak tau harga pasar, tukang galau tiba-tiba gak jadi dijual dll, sedangkan di pedagang udah jelas, posisi kita sebagai pembeli diatas penjual dan semua diurusin, IMO. Yang kedua adalah Insurance is a Must, karena ini mobil tua, sulit cari insurance yang mau cover, sedangkan via pedagang mereka bisa bantu uruskan melalui koneksinya.

So here it is, Camry XV40 3.5Q

Image


Brief History

Saya gak terlalu banyak bahas ini, yg jelas

Predecessor : Camry XV30 (Camry Pejabat/Menteri)
Successor : Camry XV50

Camry XV40 ini bisa dibilang cukup unik, dimana merupakan generasi yang memiliki diferensiasi model dan nama paling banyak sesuai region pemasarannya. Di negara asalnya Jepang, ada dua base model yaitu Regular Camry & Prestige Camry. Utk pasar Amerika, Eropa & sebagian Asia hanya ada model Regular Camry yg modelnya seperti unit Camry pada Armada Silver Bird.

Sedangkan di Pasar Asia Timur & Tenggara kebagian Prestige Camry, Australia & Middle East malah dapat dua model seperti Japan, Regular & Prestige, tapi Prestige Camry disana di rebadge dengan nama Aurion yg bentuknya seperti yang ada di Indonesia.
Beruntunglah kita di Indonesia kebagian model Prestige/Aurion, karena eksterior & interiornya IMO jauh lebih bagus dari versi Regular.
Secara dimensi Camry XV40 lebih panjang 10mm, lebih lebar 25mm, lebih rendah 15mm serta wheelbase yang lebih panjang 55mm dari pendahulunya, namun space interior justru sedikit lebih sempit dibanding pendahulunya, sepertinya hal ini disebabkan melarnya space tersebut untuk mengakomodir mesin 3.5 V6 yg berukuran besar.
Di Indonesia sendiri mobil ini terpilih menjadi Car of The Year tahun 2006 oleh beberapa tabloid otomotif sehingga menjadi satu-satunya generasi Camry yang pernah mendapat COTY di Indonesia. Hal ini disebabkan perubahan signifikan dari generasi sebelumnya, mulai dari desain yg progresif namun tetap cantik, sampai fitur-fitur yang jauh lebih lengkap dari pendahulunya dan belum dimiliki kompetitornya. Camry XV40 mengalami facelift pada awal 2010, trim Q ada tambahan fitur kursi pijat, ambient light dan suspensi lebih empuk, menjawab banyaknya complain dari user khususnya di asia yang mengeluhkan bantingan yang terlalu keras untuk sebuah Camry.

Oke segitu aja paparan history nya..kita langsung aja review mobilnya


Exterior

Image

Image

Frankly speaking, tadinya saya tidak begitu suka desain Camry XV40, entah kenapa rasanya boring, definitely not a head turner. Namun ketika nyari unitnya dan melihat lebih detil bagian per bagian dari berbagai arah, akhirnya saya menyimpulkan presepsi saya yang melihat desainnya boring disebabkan sangat banyaknya populasi Camry XV40 ini di Indonesia. Desainnya sendiri menurut saya bagus, mengotak namun tanpa sudut dan garis-garis tajam, menegaskan bahwa this model is more progressive but still has a Camry blueprint sebagai sedan midsize elegant. Overall it looks very-very safe, tidak ada bagian yang terlihat janggal dari berbagai angle, yang merupakan kelemahan most of japanese car yg sering tampak tidak proporsional dari angle “serong belakang”, entah itu terlihat nungging, cingkrang atau janggal, plus modelnya serasa long last and eternal, sampai sekarang pun tidak terlihat outdated, proporsi chrome pun terasa pas, hanya sebatas lis, grille nya sendiri tidak berlapis chrome. Namun minusnya modelnya gampang terlihat boring, apalagi dengan karakter desain mobil keluaran sekarang yang lebih dinamis plus banyaknya populasi model XV40 ini di jalanan. Oh iya, ada sedikit perbedaan looks antara trim 3.5Q dan 2.4 jika dilihat dari belakang dengan hadirnya twin tailpipes dan dan wheel alignment yang di set sedikit negative camber, menjadikan stance 3.5Q terlihat lebih “napak” dibanding trim 2.4. Makanya saya suka sekali looks tipe Q dari belakang. Velg menggunakan diameter 17 inch dibalut ban Bridgestone Turanza, sedangkan di unit yang saya beli sudah diganti Yokohama C-Drive oleh owner sebelumnya.

Image

Image

Interior

Masuk ke interior, yang terlihat adalah ambience dark elegant, karena jok dan seluruh trim di dashboard dan pintu semua berwarna hitam, kelebihannya kabin tidak mudah terlihat kotor dibanding versi 2.4 yang berwarna beige. Center fascia diberi plat alumunium pada bagian atas berlanjut wood panel di bagian bawah yang memanjang sampai armrest console, lis wood panel dipasang memanjang dari tengah sampai ke door trim depan dan belakang. Saya suka banget wood panelnya yang berkelir glossy red-ish, because this is an origin of a modern wood panel ambient, nuansa modern-klasiknya dapet, wood panel dengan ambient serupa juga dipakai oleh mobil-mobil legendaris seperti Toyota Century 2nd gen dan Mercedes Boxer series (300CE). Sedangkan mobil-mobil sekarang lebih banyak menggunakan piano black yang mulai luntur nuansa mewahnya karena sudah banyak dipasang di low-end segmented car.

Image

Kualitas interior sangat baik dengan banyaknya material soft-pad, leather seats yang empuk dan berjenis porforated dengan kualitas yang sangat baik, tombol-tombol di center fascia pun terasa solid ketika ditekan. Sayangnya kualitas fit and finish terasa kurang untuk mobil sekelas ini, stitching di beberapa bagian terlihat kurang rapih dan beberapa panel gap yang tidak sama/konsisten, contohnya adalah gap di speaker atas atas dashboard sebelah kiri dan kanan tidak sama. Poin minus lainnya ada pada steering wheel yang ukurannya agak kebesaran dan desainnya yang menyulitkan jempol untuk membunyikan klakson. Hadirnya moonroof pun terasa nanggung karena ukurannya yang kekecilan. Overall menurut saya desain interior XV40 adalah yang terbaik dari semua generasi Camry, so genuine dibanding layout XV50 yang seperti mencomot punya Lexus, dan so eternal, masih terlihat cantik untuk ukuran mobil sekarang dibanding layout XV30 yang mulai terlihat tuwir.

Image

Dari sisi kelegaan kabin, ukuran full size menjadikan mobil ini sangat roomy, 5 penumpang bisa duduk dengan nyaman. Penumpang belakang dimanjakan dengan ruang kaki melimpah ditambah electric reclining seat dan sunshade elektrik serta audio switch yang semuanya bisa dikontrol dari panel di arm rest belakang, kursinya sendiri sangat enak dan nyaman diduduki, tak ada masalah duduk berjam-jam dimobil ini, malah menurut saya duduk di jok belakangnya memancing orang untuk tidur karena seating yg nyaman plus ambience yg gelap.

Image

Untuk ruang penyimpanan, mobil ini bisa dibilang cukup banyak. Ada 4 cupholder, 2 disamping tuas transmisi, 2 lagi di armrest belakang. Console box model double tray yg bisa dibuka dengan tuas yang berbeda, ruang penyimpanan lain ada banyak namun ukurannya kecil yang letaknya ada di depan console box, bawah center fascia, di masing-masing door trim, sampai di bagian kiri dan kanan center console pun ada.

Fitur

Image

Di sektor ini, Camry 3.5Q adalah salah satu yang terlengkap pada zamannya, bahkan dengan standar midsize sedan sekarang. Fitur seperti Rear seat reclining dan Rear Center Arm Rest with audio switch + reclining switch + sun shade switch bahkan belum dimiliki oleh BMW 5-series & Mercedes E-Class terbaru.

Image

Fitur plasma cluster bikin hembusan AC bener-bener segar, very different dengan hembusan AC pada mobil lain, lucunya fitur ini tidak dimiliki Camry XV50 sebagai penerusnya. Pengaturan seat & steering serba elektrik, enaknya adjusting tilt & telescopic steering jadi effortless tanpa harus dongkrak tuas dan menahan bobot steer, nice. Adanya krey samping dan belakang sangat disukai isteri saya yang sedang dalam masa menyusui, kegiatan menyusui dan breast pumping menjadi semakin nyaman dengan adanya fitur ini.

Kekurangannya, karena mobil ini lahir pada masa dimana Head Unit dengan Screen belum lazim jadi ya begitulah, walaupun sudah integrated dengan dashboard namun fitur-fitur koneksi dengan perangkat smartphone tidak ada, ada sih bluetooth tapi hanya untuk terima panggilan telepon, cukup membosankan. Kualitas suaranya sendiri cukup baik, diatas Accord CM5 saya.

Sebagai perbandingan fitur dengan trim 2.4V, 3.5Q mempunyai :

- Pengatur Ketinggian Lampu Depan / Head Leveling Device, sedangkan 2.4V tidak ada.

- Dual Ornament Knalpot / Muffler Cutter utk 3.5Q, sedangkan 2.4V hanya single.

- Warna Dashborad / Dashboard Color: Black utk 3.5Q, sedangkan 2.4V: Ash Brown / Grege.

- Meter Kombinasi / Combination Meter: Km/H, 6 A/T, Seq, MID, Tri Color-Optitron utk 3.5Q, sedangkan 2.4V: Km/H, 5 A/T, Seq, MID-Optitron.

- Kontrol Spion Elektrik / Electric Outter Mirror Control: Electric Retractable + Memory + Reverse Link utk 3.5Q, sedangkan 2.4V hanya Electric Retractable tanpa Memory & Reserve Link.

- Kursi Depan / Front Seat: Head rest, sliding, height adjuster, reclining di 3.5V ada memory, sedangkan di 2.4V tidak ada memory.

- SRS Airbag Samping / Side SRS Airbag, sedangkan 2.4V tidak ada.

- VSC , sedangkan 2.4V tidak ada.

- Arm Rest Belakang / Rear Center Arm Rest: 3.5Q With Cup Holder + Wood + Switch:Audio,HVAC,Reclining,Sun Shade. Sedangkan 2.4V With Cup Holder + Wood

- Sun Roof: With, Tilt&Slide (w/ anti-pinch), sedangkan 2.4V tidak ada.

- Tirai UV: side manual & rear electric, sedangkan 2.4V tidak ada.

- Tilt & Telescopic Electric, sementara kalau 2.4V manual.

- mesin 2GR-FE, V6, 24-valve DOHC, dual VVT-i 3.456cc, sedangkan 2.4V memakai 2AZ-FE, IL4, 16-valve DOHC, VVT-i 2.362cc

- transmisi 6 Speed A/T Sequential, sedangkan 2.4V 5 Speed A/T

Saya tidak bandingkan dengan tipe G karena perbedaannya terlalu banyak :D


Driving

Image

Ketika pertama kali duduk di driver seat yang saya rasakan adalah kursinya nyaman dan empuk, enak untuk berlama-lama nyetir, sayangnya lumbar supportnya kurang, tidak mendekap punggung dengan sempurna. Start the engine, suara idle sangat halus begitu pula getarannya yang tak terasa ke kabin, V6 gitulohh..
Ok lepaskan rem tangan, eh bukan..rem tangan yang posisinya di kaki..jujur baru sejak pakai mobil ini saya menghilangkan kata “rem tangan” di otak saya dan menggantinya dengan “parking brake”. Mungkin yang biasa bawa mobil matic tidak terlalu sulit adaptasi, namun yang biasa pakai Manual harap fokus saat proses adaptasi karena posisinya hanya beda sedikit dengan pedal kopling pada M/T.
Geser gear lever ke “D” dan mulai jalan..agak surprise karena ternyata berbeda dengan versi 2.4 yang langsung responsif saat pedal di tekan halus, di 3.5Q the car feels heavy dan seakan malas bergerak, even worse, setirnya beraat sekali, ya ini memang hydraulic based, tapi ini rada kelewatan beratnya, udah berat plain pulak, tipikal steering Toyota yang minim feedback dan ada sedikit jeda sebelum mobil start turning. Setelah ditambah sedikit injakan accel barulah mobil ini terasa responsif, proses kickdown sangat effortless, di rpm rendah pun cukup di towel sedikit power dan torsi sudah ready, urusan overtaking di jalanan perkotaan menjadi hal yang mudah.

Karakter suspensi menurut saya unik (atau aneh), karena pada saat jalan perlahan bantingannya empuk, melewati polisi tidur dan jalan rusak terasa nyaman, namun ketika jalan agak cepat bantingannya surprisingly agak keras, menjadikan mobil ini cukup stabil dan terasa lengket dengan aspal. Namun sayangnya, bantingan keras tadi tidak disertai kualitas damper yang baik seperti kebanyakan European cars, sehingga ketika melintasi speed trap atau lubang pada kecepatan sedang ada suara metal clunking di bagian kaki belakang..suara yang tidak enak di telinga.

Driving position mobil ini tinggi, walau sudah settingan posisi paling rendah tetap masih cukup tinggi untuk ukuran saloon, jadi mirip bawa crossover atau mini hatch/MPV seperti Jazz, peyuka sedan sejati yang doyan duduk mendelep tenggelam sepertinya bakal kecewa. Tapi sisi positifnya kita jadi gampang untuk memprediksi body mobil terutama ketika masuk jalan tikus atau ketika manuver pindah jalur kondisi macet.

Kekurangan lain mobil ini adalah sangat minimnya efek engine brake karena pada saat pedal dilepas putaran mesin langsung drop, sepertinya tujuannya untuk efisiensi (mungkin fuel pump langsung di cut off untuk efisiensi, namun sekaligus menghilangkan efek engine brake), hal tersebut menjadikan kerja rem menjadi semakin berat. Saya sendiri melihat ada potensi bahaya disini karena beberapa kali rem terasa kewalahan ketika panic braking yang lazim dikakukan ketika traffic di tol tiba-tiba berhenti. Yup this car needs bigger brakes to handle tons of power it has.

Beberapa poin yang sangat baik dari mobil ini adalah Turning Radius-nya yang hanya 5,5m, lebih baik dari semua mobil seukurannya, bahkan the latest CRV yg size nya lebih compact pun radiusnya 5,7m, Kelebihan yang menurut saya sangat useful dengan kondisi jalanan di jakarta dan sekitarnya. Belum lagi Ground Clearance mobil ini ternyata cukup tinggi, lebih tinggi dari mini hatch/mini MPV yang membuatnya cukup versatile di jalan perkotaan maupun luar kota.

Powertrain

Image

Under the hood, Camry 3.5Q menggunakan mesin berkode 2GR-FE, 3.5 L V6, 277 hp, 353 nm, membuat mobil ini menjadi yang paling bertenaga dikelasnya. Ruang mesin yang terlihat kopong dan telanjang di trim 2.4 sangat kontras berbeda di trim Q, ruang mesin terlihat penuh dan rapih karena ditutup cover.

Transmisi menggunakan 6-speed sequential dengan semi close ratio yang partisi antar gear-nya rapat dengan perpindahan yang sangat halus, saking halusnya sensasinya seperti CVT without that infinite plain engine note, karena semua beban mobil saat normal driving bisa dihandle di RPM rendah, ditambah peredaman kabin yang sangat baik, baru di mobil ini saya merasakan sensasi CVT yang menyenangkan, perpindahan yang halus, power tersedia di lower RPM, gear berpindah juga di lower RPM sehingga suara mesinnya tidak kedengaran. Nice

Masuk ke jalan tol, saya ganti gaya mengemudi jadi agresif, injak pedal agak dalam dan... seketika badan tertarik kebelakang disertai engine note yang.. uhuhuuy... so ear pleasing... this is it.. the famous V6 signature notes.. pada four cylinder engine, suara mesin bisa beda-beda dari mulai suara perasan tebu, suara kambing tercekik sampai suara yang crisp seperti Honda K engine (pure series), tapi V6 engine has a signature notes yang identik walau beda mobil...”wuuurrrrr rrrooorrrrrr”...saya sampe nggak sadar tau-tau udah 180 kpj dan harus slowdown karena traffic tol siang itu cukup ramai.

Thats all? No..Ternyata mobil ini masih menyimpan potensi terpendam, how..? Now switch from D to S, maka karakter mobil berubah dari mobil “bertenaga” menjadi “brutal”.. Throttle Response, Shifting Response and Torque Curve berubah menjadi sangat agresif. Pada mode “D” sebagian power dan torsi seakan disimpan / disembunyikan saat low-mid RPM dan baru nongol ketika full throttle untuk mengakomodir Comfort yang mana menjadi habitatnya sebagai mobil yang sebagian pemiliknya menggunakan jasa Chauffeur, yang biasanya selama mengemudi hanya di posisi “D”. Di mode S, semua serba instan, ketika pedal accel ditekan, saat itu juga power dan torque tersalur ke roda, pun perpindahan gear menjadi lebih agresif. Saat pedal gas dilepas RPM dijaga dalam posisi “Ready to Fire”, sehingga saat kickdown power dan torque berada dalam posisi sweet spot yang sangat minim power loss. Hal ini pun menghapus kekurangan mobil ini yang pada mode “D” sangat minim efek engine brake.
Beberapa bulan setelah beli, akhirnya saya berkesempatan untuk test akselerasi mobil ini dengan record video, karena selain lagi niat, beberapa parts sudah diganti baru, sudah carbon clean dan flushing (kuras) ATF. Mempertimbangkan usia mobil yang sudah satu dekade, saya tidak melakukan start dengan metode “hold & launch” (tahan rpm di 3000-4000 dengan rem lalu lepas & launch), melainkan dari idle rpm. Posisi idle, release brake and full throttle...bangg..sedikit spin dan badan terbenam ke jok..kemudian saya terkejut karena moncong mobil tiba-tiba menjadi liar dan refleks saya segera mengkoreksi steering wheel..what a hell..Torque Steering..!!? Padahal mobil ini ditanam VSC dan TSC yang cannot be switched off tapi masih terjadi torque steer...wew..
Akhirnya didapat angka 7,5 detik untuk 0-100 kpj..not bad untuk sebuah saloon tua berukuran gambot.



Handling & Stability

Hmm..tadi saya sempat bilang bahwa steering mobil ini dull, lifeless dan agak lambat, but somehow the car turns quite well, body roll minim dan ukuran mobil yang besar seakan mau saja diajak menikung cepat, handlingnya lebih enak dari versi 2.4, apalagi yang versi Facelift dengan karakter bantingan yang sudah disetting lebih soft. Selidik punya selidik yang mempengaruhi adalah perbedaan setting suspensi yang keras dibanding versi facelift yang lebih soft dan perbedaan di as roda depan dengan versi 2.4. Perbedaan itu juga yang menjadikan kestabilan 3.5Q saat highspeed cukup baik, saya pernah test sampai diatas 200 kpj tidak ada gejala melayang.

Image

Sayang seribu sayang segala kelebihannya tadi dirusak oleh kualitas rem yang menurut saya sangat kurang untuk mobil dengan power sebesar ini. Ukuran discbrake yang sama berikut brake pad yang nyaris serupa dengan trim 2.4 menjadikan mobil ini agak menakutkan ketika hard braking, sering gelosorr...diperparah dengan minimnya efek engine brake di posisi “D” seperti yang sudah saya bahas sebelumnya. Handling mobil ini memang cukup baik namun tetap saja ketika masuk ke tikungan yang lebih menantang barulah mobil ini mulai kewalahan, ukuran besar dan basic layout mobil ini yang FWD with tons of horsepower yang semua hanya tersalur ke roda depan menyebabkan understeer yang cukup intens ketika masuk sharp cornering, even worse steering yang payah meningkatkan statusnya jadi “Dangerous” dalam situasi seperti diatas.

Fuel Consumption

Mobil ini sekarang adalah daily driver saya, rata-rata jarak tempuh harian saya adalah 80km. Dari hasil perhitungan dengan metode Full to Full, angka yang didapat adalah :
Konsumsi dalam kota = 1:6-7
Konsumsi luar kota/tol = 1:10-11
Konsumsi kombinasi = 1:7-8

Konsumsi real time terboros adalah pada saat macet total yang hanya mencatat 1:5, sedangkan dengan gaya nyetir brutal super agresif malah bisa 1:6-7

Boros? Exactly..mobil ini adalah sahabat SPBU, kurang cocok bagi para ECO fans club atau yang tiap cari mobil selalu tanya “konsumsi bbm nya gimana?”..but for me, setiap rupiah yang saya keluarkan untuk beli pertamax turbo terasa worthed dengan power, ride, fitur dan versatility mobil ini, belum lagi jika harga mobil ini juga dihitung, akan terasa lebih efisien secara whole package.

The “Q” Factor

Image

Ada satu hal menarik yang dimiliki mobil ini, saya menyebutnya “Q Factor”, apa itu? Gampangnya seperti ini, dalam dunia “Performance Car” ada beberapa mark/emblem/logo yang mengisyaratkan “don’t play with me” seperti “AMG” dan “M” yang dengan melihatnya saja orang sudah gamang dan ciut untuk menantang. Nah di kelas Normal Car (mobil massal), logo “Q” pada Camry di indonesia kasusnya mirip, sering sekali saya ketemu sedan-sedan maupun VGT-Diesel SUV yang agresif di tol, begitu saya salip/overtake biasanya memutuskan untuk tidak mengejar/menantang mobil ini dan seolah mengatakan “you’re out of my league” setelah melihat logo “Q” di buritan mobil ini. Quite interesting..

Unfortunately TAM ruined this sacred mark in 2014 by launching Sienta Q then Innova Q in 2016..f*ck
However this mark still sacred in Camry..hohoho


Homework / Maintenance Cost

Image

Ok now we play as an accountant (coz I use to be an accountant). Di awal saya bilang, tadinya saya mau ambil yang Facelifted, namun karena harganya yang abu-abu dan kebanyakan kelewatan, akhirnya ambil yang pre-FL dimana harganya sudah stabil di sekitar 155-175 juta (Pedagang) untuk keluaran 2007-2008. Mobil ini saya beli di angka Rp.165 juta, sebetulnya banyak yang harganya dibawah itu, namun setelah cek lebih mendetail, unit saya kondisinya yang paling lumayan, plus si pedagang bisa push untuk dapat Asuransi Comprehensive, as a person who is in the insurance industry, total protection is essential, coz saat review ini ditulis, mobil ini sedang cacat karena kaca spion nya dicuri, sebuah bencana andaikata tidak tercover, karena di mobil kelas ini, hampir semua bagian yang menempel pada body mobil harganya mahal, untunglah spare parts nya ternyata tidak demikian.

Oke, saya akan rinci total pengeluaran saya selama sekitar 5 bulan untuk beresin PR mobil ini :

Mesin
Lokasi : Toda, DTMF, Auto2000
- Ganti oli (6 liter) + filter oli Rp.810k
- Carbon clean, injector cleaning & spark plug cleaning Rp.800k
- MAF sensor cleaning Rp.200k
- Engine Mounting atas Rp.800k
Total = Rp.2610k

Kaki-kaki
Lokasi : Atrium Senen, Karya Per, DTMF, Bengkel Marathon, Banceuy, Indomakmur, Cibubur Point, Yans Speed
- Shock breaker depan sepasang Rp.1400k
- Stopper shock depan sepasang Rp.100k
- Support shock depan kiri Rp.250k
- Bearing depan kiri Rp.385k
- Ball joint kanan Rp.300k
- Recalibrate ball joint kiri Rp.150k
- Booth as roda kanan Rp.150k
- Tierod end sepasang Rp.400k
- Link stabiliser sepasang Rp.300k
- Long tierod kanan Rp.200k
- Bushing arm Rp.100k
- Bushing stabiliser sepasang Rp.120k
- Jasa (total ongkos jasa) Rp.1600k
Total = Rp.5455k

Brakes
Lokasi : Indomakmur, Auto2000
- Brake pad sepasang + jasa Rp.1000k
- Bubut disc brake Rp.200k
Total = Rp.1200k

Transmission
Lokasi : Cibubur Point
- ATF flushing/kuras (12 liter) + jasa Rp.1200k

Grand Total : Rp.10,465,000,-

Mahal? Bisa iya bisa enggak, bagi saya sih enggak karena seperti kata “Sultan” di vlog nya, “jika ingin beli mobil bekas, harus ada spare dana minimal 10 juta untuk beresin PR”, dan memang sekitar segitu biaya beresin PR mobil ini.


Conclusion

Image

What car you can afford with less than IDR 170 mio in your pocket ?
You can buy a brand new, super small, super efficient and super dumb & dull LCGC car, live in peace of mind, place of Zen, killing the petrolhead desire that you read everyday in Serayamotor, and drive slow in this fast world.
You can also buy a used people carrier, that can carry your whole family, plus your grandparent and your cousins with ultra great resale value, because the car is your investment.
Or...let your desire take control..desire of having a powerful car, desire of speeding, desire of earpleasing engine note..because you had more than 250 horsepower to play with..
Yeah, Life is a Choice, Logic or Desire? Well, I choose Desire...with Logic...hahaha :D

Buying a Camry 3.5Q is all about Versatility, you can drive normally, feel the super comfort ride..mobil besar dengan GC cukup tinggi yang jarang mentok polisi tidur dan gampang putar balik karena turning radius lebar..you can also doing a highspeed cruising (in highway) without waking up your family, baru di mobil ini saya bisa cruising 160-190 kpj di Cipularang dan keluarga tetap tertidur lelap..or you can also drive mad, nyetir seperti orang gila dengan memainkan gear lever transmisi dengan rasio rapatnya untuk mempertahankan power optimalnya di high rev, karena dengan cara inilah potensi mobil ini bisa keluar sepenuhnya plus alunan suara V6 nya yang membuat adrenalin terus memompa..but don’t treat this car as a race car, on the race track, coz she will kill you.. treat her as a tourer, and she will bring a smile on your face. Yes, this car is a longhaul highway cruiser, that can eat easy to mild corner..and all of those comes with easy & quite cheap mainenance..

Pros :
- Powerrrr
- Fast
- Stabil
- V6 note
- Comfort
- Tons of feature
- Transmisi halus, cepat & rapat
- Pricetag seharga LCGC
- Easy & Cheap Maintenance, Spare parts mudah dan murah
- Reliable
- “Q” factor, klo kita nyetir agresif, banyak yg udah jiper duluan
- Dignified..image mobil pejabat, gampang dapat parkir khusus

Cons :
- Boross
- Boring, saking banyaknya model ini dijalan
- Steering lifeless, heavy & laggy
- Brakes are dangerous, perjauh jarak pengereman saat highspeed
- Definitely not a sharp cornering eater..tend to understeer
- Komponen kaki-kaki rentan problem (untungnya parts berlimpah)


Sekian review dari saya, mungkin review ini terkesan subyektif seperti lazimnya orang-orang yang me-review mobilnya sendiri. Namun percayalah, apa yang saya katakan tentang mobil ini benar adanya. Silahkan buktikan sendiri.

Thanks
Increase speed = increase Risk

This topic has 144 replies

You must be a registered member and logged in to view the replies in this topic.


Register Login
 
Post Reply