SM Special: Liga LMPV

Mau review kendaraan yang ada? Silakan post disini...

Moderators: b8099ok, F 272, ChZ, ginting, FRD, artoodetoo

Post Reply
User avatar
madcat015
SM Specialist
SM Specialist
Posts: 13575
Joined: 29 Nov 2012, 15:52
Location: Surabaya

SM Special: Liga LMPV

Post by madcat015 » 31 Aug 2014, 20:12

Halo dan selamat malam para pembaca, members, momod dan mimin, juga para piyikz... :mky_01:

Kali ini, sekali lagi, ane mencoba membuat ripiu yang mencoba memberikan gambaran secara subyektif dari sudut pandang ane mengenai fenomena paling ahoy di dunia otomotif Indonesia belakangan ini.

Bukan tentang pasokan bbm yang berkurang, atau tentang protes ATPM mengenai harga LCGC yang terlalu murah... melainkan mengenai LMPV: volume maker bagi banyak ATPM dan memang menjadi segmen paling gemuk dan berdarah2. Kodrat MPV sebagai Multi Purpose Vehicle menjadi daya tarik terbesar karena MPV bisa digunakan sebagai people carrier, cargo carrier, bisa juga digunakan untuk pergi ke pesta atau acara resmi, hingga ngesot di ladang atau melintir di tikungan atau tailgating roadster. MPV = Anything you can imagine in a car.

===========================

Ripiu ini sebenarnya sudah ada di otak kecil ane sejak ane berhasil TD R3 GX AT temen ane dan ngesot TD VX-1 top line di dealer Mazda. Dilanjutkan dengan ngesot ke dua dealer Chevy untuk TD Spin LT Diesel dan LTZ AT petrol... Sementara untuk Apanja, ane tidak kekurangan bahan, tinggal ngesot ke Pandaan dan culik mobil om ane dari pelataran pabriknya *meski sebenarnya ane pengen culik Hino FM320JD nya... tapi ga ketemu kuncinya...* :frm_bang_head:

Dan setelah combo TD ANGL XV CVT dan Mobilio RS dengan om sukribo, plus dengan kedatangan R3 GX AT di garasi ane, rasanya ane harus menunaikan kewajiban dan tugas ane di SM...

Membuat Liga LMPV: Clash of the Low... :big_smoking:

===========================

Sebelum ane menjabarkan para kontestan, istilah LMPV ini sudah mulai santer diperkenalkan sejak 2013 lalu. Saat ane ke Thailand, Honda Asia Pacific HQ di Bangkok masih bingung dengan nama proyek terbaru mereka, akhirnya diputuskan dengan LMPV hingga menjelang IIMS 2013, dan akhirnya LMPV dibaptis Mobilio...

Setelahnya, semua MPV yang mini2 dengan ukuran dan harga dibawah Toyota Innova lgs diberi embel2 LMPV dengan harapan customer bingung dan akhirnya membeli mobil yang benar2 salah spek. :e-snooty:

LMPV: Low MPV? Definisi Low nya apa dulu skr. Low spek? Low built quality? Low ground clearance? Low maintenance? Low power? Low fuel quality requirement? Low calorie? Low fat? Low sugar? Lowak? :ngacir:

Tidak pernah ada definisi sejati ternyata... *plakkk!* :big_slap:

Baiklah, mari temui para kontestan:
1. Toyota Avanza dan Veloz plus Xenia
The undisputed champion selama 10 tahun, duo combo MPV paling laris di pasaran dan tentu semua orang uda khatam dengan ketangguhan mobil ini. Hingga pasarnya diganggu pendatang baru dan akhirnya Avanza diberi update minor yang menggelikan. Either you hate it or you despise it.
2. Honda Mobilio RS
Jika ada yang protes kenapa ane memasukkan versi RS alih2 Prestige dimarih silahkan protes ke tembok. Ane yang bikin ripiu, ya suka2 ane. :ngacir:
Anyway, Mobilio RS menurut ane adalah produk yang benar2 mengalami perbaikan yang cukup besar dari versi awalnya yang menyedihkan. Bahkan versi Prestige nya pun tidak mampu membuat ane meliriknya. Tapi RS..., benar2 menjadi the new kid on the road...
3. Suzuki Ertiga dan Mazda VX-1
Sebulan sebelum kemunculannya di April 2012, ane diundang secara personal oleh bos UMC A Yani, saat itu Ertiga masih belum dibadge Suzuki... Melainkan Maruti Ertiga, dan ane lgs terkesan dengan interiornya... Salah satu MPV compact yang dibuat dan dirancang dengan baik.
4. Chevrolet Spin
Proyek ujicoba Chevrolet di MPV compact. Sayangnya, kualitas dan fitur yang luar biasa tersandung brand image yang masih berantakan. Jujur, mobil ini memiliki banyak sekali potensi sebagai city dwelling people mover.
5. Nissan Grand Livina
Major change tanpa keberanian untuk mendobrak desain, ANGL menderita akibat proyek LMPV Datsun dan munculnya pemain baru seperti Ertiga dan Mobilio. From hero to zero, ane ingat sekali sebelum muncul, GL digadang2 sebagai Innova Killer oleh pers. Ternyata malah terkapar.

Bangku cadangan:
# Datsun Go+
Datsun lahir kembali di Indonesia dengan satu misi: menyediakan mobil murah... dan memang mobil ini terasa menjadi suatu big bang for the bucks... Ane sangat mengapresiasi nilai mobil ini dibandingkan dengan harganya.

Deus Ex Machina buat lucu2an:
# Mazda8
MPV medium paling ga jelas, paradox di mana2. Bahkan fitur beberapa LMPV mampu menghempaskan mobil segede gaban ini dan membuat MPV ini memiliki spek seperti mobil era jaman Mesir Kuno. Ane memutuskan untuk memasukkan Mazda8 karena adanya Ertiga yang sudah bayar sewa garasi ane dan beberapa permintaan komparasi dari member2 yang sangat "peduli" dengan kesehatan "psikis" ane. :e-wall:

============================

Eksterior

Untungnya, semua kontestan memiliki bentuk yang sesuai dengan selera masyarakat... Mobil yang terlihat cantik dan keren meski price tagnya cukup terjangkau. Beberapa pabrikan dengan tim desain yang disekap di gudang, menggunakan tim marketing dan tim dukun entah dari hutan mana, yang langsung menterjemahkan: "Aha! Menurut selera masyarakat, we need more chrome, spoiler segede tail fin A380, massive bumper add-on kit mirip sekop, dan tentu saja, more chrome! agar terlihat seperti Bentley, Royces, Astons, dan mobil2 aristokratik lainnya... Make it Sporty Elephant! err... Elegant." :ngacir:

Intinya, mobil2 dress up malah terlihat menggelikan dan alih2 terlihat aristokratik, mobil2 naas tersebut malah terlihat monochromatic karena lens flare segambreng saat chrome memantulkan cahaya.



Sang pemimpin pasar yang sedang gundah gelana karena tahta nya terancam dan melihat side kick Xenia nya babak belur, Toyota Avanza, memutuskan untuk memberikan Trim Luxury dengan aero kit segambreng yang tidak ada gunanya secara aerodinamis... Plus aksen krom di mana2 dan garnish yang kebanyakan... dan sebutan Sporty di mana2.. Bagaimanapun, DNA asli Avanza sudah terlihat cukup bagus. Muncung dan kap mesin terlihat baik dengan dua garis tegas, seakan2 Avanza ditenagai mesin V16 1300cc supercharged. Bokongnya pun mirip dengan sodara sepupunya, Toyota Prado. Sayangnya, lekukan plat body mengesankan mobil ini seperti baru terguling2 dan penyok di mana2... Guratan garis body original dan penyok akibat gagal drift benar2 tidak bisa dibedakan.

Image

Image




Nah, sang pendatang baru, Honda Mobilio, ternyata memberikan pukulan yang cukup telak ke market MPV. Avanza nyaris goyah, sementara yang lain langsung tiarap. Mobilio RS terutama. Dia memiliki penampilan muncung terbaik diantara semua LMPV dengan desain headlamp baru yang begitu keren dan agresif. Sotoynya, Honda malah iseng mem-php ribuan pasang mata dengan DRL-faux nya, yang ternyata malah jadi lampu senja/posisi. Bagaimanapun, Mobilio RS menjadi satu2nya kontestan yang dilengkapi head lamp proyektor dan grill aksen piano finish. Dari samping, Mobilio terlihat seperti dua mobil yang disatukan dengan patahan unik di pintu kedua dan garis2 tegas yang bertubrukan. Entah super glue apa yang digunakan HPM untuk merekatkan dua mobil ini. Kenapa ane menulis dua mobil? Karena bokong Mobilio memiliki desain yang benar2 berbeda dengan muncungnya. Sepertinya tim desain mendesain muncung nya di pagi hari, makan siang, keracunan makanan yang ketumpahan chrome, opname seminggu di rumah sakit, lalu mendesain bokong dengan pencerahan berbeda dan selesai.

Image

Image




Suzuki Ertiga dan kembaran mautnya, Mazda VX-1 juga mencoba peruntungan di pasar MPV dengan desain yang terbilang sangat segar saat itu. Muncung seperti sodara Swift nya terlihat manis dengan head lamp yang cukup cantik dan grill unyu. Muncung ini malah membuat pabrikan sebelah meradang karena mirip dengan creme de la creme MPV nya. Akhirnya Mazda melakukan rebranding. Nuff said, sisi samping R3 terlihat cukup baik dengan head lamp yang menempel di fender dengan kurva badan yang cukup halus, clean look if i must say. Sayangnya, bokong Ertiga menjadi kekacauan tersendiri. Tail lamp terlalu kecil dan mengesankan tim desain kehabisan ide dan budget untuk bokong nya.

Image

Image





Sang underdoq, Chevrolet Spin sempat menarik banyak perhatian melalui pendekatan berbeda. Di saat semua MPV sekelasnya mencoba terlihat sporty, atau malah elegan, Spin mencoba terlihat mencolok dengan desain berotot yang maskulin. Desainnya flawless tak ternoda patahan atau penyok berlebihan dari depan ke belakang. Garis fender yang tegas semakin mencolok dengan tambahan lekukan di atas. Muncung terlihat menarik dengan grill dan airdam khas Chevrolet yang sudah menjadi identitas pabrikan ini. Sayangnya, lampu depan diletakkan terlalu jauh, andai dibuat lebih dekat 10km lagi, akan terlihat pas. Karena dari pandangan full frontal, muncung Spin terlihat seperti emo: (>O<) Bokong di desain unik dengan pillar D sewarna badan dan lampu2 bokong yang di desain baik plus sedap dipandang.

Image

Image





Sementara pemain2 baru meramaikan pasar, Nissan Grand Livina tampil dengan desain yang... mulai mirip2 dengan pabrikan eropa macam Porsche: terlalu malas untuk desain ulang. Nyaris terlihat sama. Bahkan siluet samping Grand Livina generasi sebelumnya yang terlihat begitu streamline dan cantik benar2 sama persis dengan generasi yang sekarang beredar. Lampu depan memang sudah diganti plus tambahan krom 100 ton di grill. Tetapi desain lampu belakang yang malah membuat generasi sekarang terlihat terlalu memaksakan untuk disebut model change. Meski demikian, Grand Livina yang terlihat paling MPV dengan low slung body nya, dan jika mobil memiliki gender, Grand Livina adalah wanita. She is still beautiful even in her new but old looking crappy dress...

Image

Image




Dari bangku cadangan, Datsun GO+ hadir dengan penampilan yang menyenangkan. Muncung terlihat cantik dengan lampu dan gril yang pas desainnya. Sisi samping pun terlihat menyenangkan untuk dipandang dengan bahu cantik di bawah kaca jendela samping belakang yang memberikan kesan curvy yang pantas bagi mata rabun ane. Bokongnya juga cantik dengan lampu belakang berbentuk wajik, mengesankan mobil ini adalah mobil yang lebar, selebar daun tjabe. Dengan sedikit kreativitas, para ababil tentu dapat memodifikasi Go+ untuk terlihat lebih mahal dari pesaingnya dengan budget yang bersahabat.


Image

Image




Sementara itu, Mazda8, melihat para mere miserable MPVs lainnya dengan muncung garang. Headlamp two tiered nya terlihat gagah dipadukan dengan garis chrome setebal bantal. Sayangnya, garnish chrome di airdam bawah membuat mobil ini terlihat seperti tokoh kartun di film besutan Disney, dan chrome di garnish foglamp terlihat berlebihan. Dari samping, MPV gambot ini memiliki desain yang paling bersih dengan minimnya lekukan, dan membuat profile nya semakin panjaaaaaang dan lamaaaaaaaaa... Bokong Mazda8 terlihat begitu sporty dengan twil tail pipes, tail lamp dan high mount LED lamp, plus spoiler yang sesuai. Sayangnya, DNA sodara SUV nya terlalu dipaksakan di tail lamp dan membuat penampilan bokong nya rada menggelikan. Kecuali di malam hari... no one will ever miss the bright red blinding circular LED for sure..., unless he/she is blind.

Image

Image

Verdict:
1. Spin
#. Go+
2. Grand Livina
3. Mobilio RS
4. Ertiga
5. Avanza

Kenapa Spin?
Secara subyektif ke selera ane, Spin yang paling menarik karena tidak mau mengikuti arus elegan atau sporty atau sporty elegan, melainkan menganut aliran maskulin SUV Chevrolet. Daya tarik terbesar Spin selain di muncung (>o<), juga di bagian samping dan bokong. Clean design, not too much stray lines or dent.



==============================

Interior

Sesuai namanya, LMPV berarti Low Expectation MPV. Jangan harap ada sentuhan kulit sapi wagyu, real wood panel dari pohon berusia 100 abad, soft pad setebal kasur, atau stitching kontras dengan benang emas. Bahkan sebuah MINI yang mengadopsi interior Rolls Royce dengan trim MINI GoodWood nya langsung melesatkan harga menjadi nyaris dua kali lipat, tepatnya hampir mencapai 500juta untuk interior.

Di kelas LMPV, interior lebih mengedepankan reliability dan spartan (baca: sederhana, dengan plastik yang lumayan baik hingga plastik ember), tentu juga diberikan tombol2 yang mudah dijangkau dan tidak mudah patah saat diabuse (baca: sesedikit mungkin tombol dan aroma digital di dash kecuali MID). Estetika menjadi urutan ke-... sekian.



Avanza memulai evolusi dashboard nya di 2011 saat New Avanza casing meluncur. Dengan desain dashboard yang lebih dari generasi sebelumnya dan material yang terlihat lebih baik dengan garis2 guratan emboss. Sayangnya, instrumen cluster Avanza terlihat menyedihkan dengan aksen merah, mungkin maksud nya sporty, tetapi terlihat... errr... merah? Nah, beruntunglah, setir memiliki desain dan fitur yang baik dengan steering switch dan aksen silver. Untuk konsol yang sering digunakan, konsol AC, Toyota memutuskan mengambil inspirasi dari radio militer jaman Perang Dunia Pertama dengan knob putar segede gaban yang benar2 tidak impresif meskipun urusan ergonomis memiliki nilai lebih baik. Toyota juga entah mengapa, memutuskan membuat in-dash HU yang terlihat mengerikan dengan knob super besar di tengahnya. Secara keseluruhan, fit and finish interior Avanza berada di tengah2, andai Glove box dibuat lebih baik lagi.

Image




Sang pendatang baru, Mobilio RS yang terkenal dengan desain Brio telah melakukan uprated interior nya. Warna hitam di sekujur dashboard dan interior benar2 membuat nya berbeda dengan Brio Satya, which is good... dan sama persis dengan Brio CKD. Which is still not good. *plak!* :big_slap:
Grand Canyon sebagai fitur yang dibanggakan tetap hadir di atas glove box Mobilio RS. Dan HPM memutuskan untuk memberikan HU touch screen yang tentu saja memberikan nilai tambah tersendiri dengan rear cam nya plus setir dengan audio switch. Sayangnya, instrument cluster mengidap sindrom seperti Avanza. Jika di Avanza diberi warna merah, di Mobilio diberi warna biru... Color, iz important. :ngacir:
Untungnya, console AC cukup lengkap khas Honda, meski masih kurang di sektor arah semburan yang cuman menyediakan dua opsi: membekukan wajah driver atau membekukan wajah dan selangkangan driver. :off_no:
All in all, Mobilio RS mendapatkan perbaikan minor dari sisi warna dan HU dan setir, tetapi tetap dengan material plastik layaknya ember dan fit and finish yang mengerikan. Sesuai dengan falsafah Honda: Man Maximum, Machine Minimum *we dont care about the interior!*

Image





Suzuki memutuskan untuk memberikan desain yang benar2 mewah di Ertiga dengan integrated HU yang cantik dan flawless... tanpa cacat. Warna beige two tone di dashboard membuat ambient kabin menjadi lebih lega dan lebih baik, sementara AC console menjadi yang terlengkap dengan pengaturan arah semburan dan heater kaca. Well done and well built too.

Image

Image

Image

Setir dengan audio switch terlihat lumayan baik meski warna cerahnya bakalan membuat setir bulukan seiring dengan bertambahnya odometer kendaraan. Untungnya, Instrument Cluster di desain dengan baik dan memiliki MID segede gaban bawaan Swift, juga desain shift knob yang bagus. Menyenangkan. :off_good_job:
Kesimpulannya, Ertiga memiliki desain yang terbaik meskipun touch and feel material tetap menunjukkan kelas mobil ini: terasa ringkih. :e-snooty:

Image




Satu2 nya Murican Crap... errr... :ngacir: Murican Car di Liga ini, Chevrolet Spin memiliki desain dashboard yang bagus dan menyenangkan. Pun dengan beberapa keunikan tersendiri seperti kontrol fungsi central lock yang diletakkan di tengah dash... Mengingatkan ane akan BMW... :ngacir:
Instrument cluster Spin adalah juara nya di marih dengan nuansa biru dan speedometer digital dengan MID. Konsol AC juga lengkap dengan knob untuk kecepatan blowj... errr... blower, sirkulasi, dan pengatur suhu, plus switch rear AC. Apes nya, Chevy lupa memberikan knob pengatur arah semburan.

Image

Image

Tentu saja, berkaitan dengan Murican DNA nya, Spin memiliki kontrol lampu yang diletakkan di panel sebelah kanan setir. Unik! :off_good_job:

Image

Sistem HU integrated nya cukup baik dengan indikator suhu dan tanggal digital, karena menurut Chevy: jam digital 7-segment sudah terlalu uzur dan mainstream. Urusan mengemudi, desain setir dan shift knob Spin terlihat menyenangkan. Ga terlalu banyak printilan aneh2 yang mengganggu, tapi minus steering switch yang cukup fatal. Secara keseluruhan, Spin memiliki desain dashboard yang menarik tetapi dibayar dengan fit and finish yang kurang sesuai. Panel gap di mana2 ane temukan di unit TD nya, meski di unit stok ternyata cukup baik.






Sekali lagi, Grand Livina memiliki amunisi kelas dewa di liga ini. Desain superior dengan material terbaik dan pemilihan warna two tone yang baik. Fit and finish pun bisa dikatakan superior dibandingkan pesaing LMPV lainnya. Mulai dari AC konsol yang terlihat dan terasa baik *note: bukan di jilat*, hingga instrumen cluster yang bagus dengan chrome ring dan MID yang hanya bisa ditandingi Ertiga.
Well built? yes. Well designed? yes, kecuali desain setirnya yang errrr... aneh dan minus steering switch yang sangat fatal.

Image



Saudara jauh Grand Livina, Datsun Go+ juga mewarisi trah Grand Livina. Desain dan warna dashboard bisa dikatakan sangat baik, termasuk setir. Bahkan Datsun sangat baik dengan memberikan MID di Instrument Panel, meski memang... instrumen panel nya terlihat menyedihkan. Nyaris tidak ada apa2 selain speedometer dan beberapa lampu yang redup.

Image

Sayangnya, Go+ tidak bisa menyembunyikan price tag nya di interior. Konsol AC dan desain HU benar2 menunjukkan kelas harga Go+ dibandingkan LMPV lainnya. A poshed up hatch on a budget.

Image




Mazda8, ane ga akan berbuih2 menceritakan interior nya. Kurang pantas vs LMPV lainnya. Meski demikian, Mazda8 memiliki kekurangan fatal seperti absennya steering switch di setir yang jujur, sangat mengganggu. Apalagi HU nya menggunakan layar sentuh, mengganti channel radio, atau browse lagu, atau scroll di menu DVD menjadi pekerjaan penuh resiko saat menyetir. Sangat menyedihkan mengingat price tag Mazda8 itu sendiri.

Image

Minus nya MID membuat MPV ini menjadi semakin terpuruk, meskipun bisa diakali dengan memasang gadget OBD compatible, tetap saja, butuh dana tambahan. :off_no:
Bagaimanapun, kesederhaan desain dan operasional fitur2 penting di Mazda8 menjadi suatu hal yang menyelamatkan mobil ini dalam liga LMPV.


Verdict:
1. Grand Livina
2. Ertiga
3. Spin
4. Mobilio RS
5. Avanza
#. Go+


Apa? Batumakam?
Ya, Grand Livina memiliki interior paling masuk akal dan manusiawi meskipun disertai beberapa kekurangan di sana sini. Kualitas material, keseluruhan desain, fit and finish, juga how it feels memang tidak bohong. Bahkan Ertiga yang menempel ketat masih tertinggal sedikit di bawah kualitas material Grand Livina. Owh, Spin juga perlu diperhatikan di sisi interior, no cheap looking dengan perhatian ke detail yang paling baik.



==================================

Akomodasi dan Fitur


Tentu saja, kodrat MPV menuntut banyak hal yang harus disediakan mobil tersebut. Leg room besar, fitur segambreng, nyaman, dan kalau bisa, gajah pun harus masuk dan masih menyisakan ruang untuk seekor paus orca plus dua tim cheerleaders. :drinking:


Akomodasi Toyota Avanza tentu tidak perlu dipertanyakan lagi. Setelah berkeliaran di Indonesia selama 10 tahun, seharusnya formula TAM lebih manjur dari puyer ajaib tukang obat di pasar malam. Dengan akomodasi dan ketahanan mobil yang teruji hingga melewati maksimum weight nya, Avanza membuktikan dia bisa mengangkut penumpang mulai dari baris pertama, hingga ketiga. Kenyamanan? relatif, meski bagi bokong ane, jok yang ane duduki terasa seperti busa jok mobil normal. Ruang bagi penumpang baris ketiga tentu tetap terasa seperti dalam penjara, tetapi bootspace Avanza cukup besar.

Image

Baris kedua sekarang lebih lega sedikit dengan jok yang lebih tebal setelah kemunculan pesaing2. Tentu saja, double blower dan cup holder segambreng akan menjamin suasana kabin yang sejuk... Untuk hiburan, versi Veloz Luxury dilengkapi roof monitor... errr, tepatnya monitor yang ditempelkan di bawah blower AC baris kedua yang tentu saja akan membuat pengemudi Avanza merasa seperti mengemudikan mobil Formula1: tanpa spion tengah. :mrgreen:

Image




Honda memutuskan untuk menggoda Toyota dengan Mobilio RS yang lebih baik. Karet seal pintu2 yang sebelumnya dicomot pabrik HPM dari junkyard antah berantah sudah diganti dengan karet balon yang lebih... errr... sesuai dengan investasi yang dikeluarkan pembeli Mobilio RS. Kekedapan yang sebelumnya terasa sebaik mobil niaga membaik dan sekarang Mobilio terasa seperti... errr... mobil Honda. Ukuran badan yang sedikit lebih besar dari LMPV lainnya memberikan akomodasi terbaik dengan keleluasaan pengaturan dan setup kursi2. Leg room berlimpah di baris kedua, meski memang, kursi memiliki ketebalan yang sama dengan kue brownies populer... errr... bahkan kue brownies pun lebih tebal yak. :e-think:
Anyway, khas Honda, kursi terasa supportif dan cukup nyaman, baik di kursi depan maupun row ke dua. Row ketiga, seperti biasa, less humane more feline: sempit. Kompensasinya, bootspace nya luas, bahkan sesuai dengan standar tes SM, diyakini, Mobilio RS dapat mengangkut dua mayat yang berarti sama dengan 4 hingga 5 galon air minum kemasan dalam keadaan kursi baris ketiga fully deployed :ngacir:

Image

Double blower AC juga hadir memenuhi plafon Mobilio RS, dan jujur, semburan AC nya cukup dingin. Sementara untuk menghilangkan kebosanan di jalan, Mobilio RS dilengkapi HU layar sentuh dan audio 4 mid plus 2 tweeter.

Image





Ertiga, mobil kecil pendobrak status quo MPV, meskipun Indomobil cukup dudul dengan output produksi yang kecil dan waktu inden yang pada puncaknya melebihi waktu kehamilan seorang wanita. :off_no:
Akomodasi yang diberikan Ertiga tergolong sangat baik. Kursi baris pertama dan baris kedua terasa nyaman dan empuk. Tentu baris kedua dapat di geser maju-mundur dan di atur sudut reclining nya. Sayangnya, kursi baris ketiga mengerikan. Leg room nya kecil sekali dan bootspace atau kapasitas bagasi yang juga kecil. Memang Ertiga menyediakan ruang penyimpanan di bawah lantai bagasi tetapi itu tidak cukup.

Image

Image

Image

Image

Bagaimanapun, kualitas HU Panasonic bawaan Ertiga menjadi suatu fitur yang sangat ane hargai. Apalagi dengan model in-dash yang terlihat lebih baik dan mewah daripada HU indash Avanza yang terlihat murahan.
AC double blower juga menjadi standar di Ertiga, dan yang ane suka, knob2 nya mirip dengan model knob di mobil2 besutan Suzuki lainnya. Nice design, Suzuki. :off_good_job:

Image




Chevrolet! What have you done! Alih2 melihat resep sukses MPV lain, tim desain dan enjiner Chevrolet memilih bermain Russian Roullete saat pemilihan bahan. :off_no: Duduk di kursi Spin terasa bagaikan terapi akupunktur dengan duduk di kerikil. Keras sekali. Belum lagi kursi baris kedua yang tidak bisa di apa2kan. Non sliding, non reclining. Setidaknya, headrest nya adjustable..., pertanyaannya, seberapa sering headrest terkutuk itu di adjust? :frm_bang_head:

Image

Like a proper Murican, kekedapan dan kualitas pembuatan Spin superior. Bahkan saat pintu ditutup, terasa seperti menutup pintu mobil alih2 terdengar seperti menginjak kaleng sardin kosong. Laci dan glove box menjadi tambahan yang menyenangkan di mobil ini dengan segambreng printilan macam2 macam follow me home yang tidak dapat ane dokumentasikan dan coba karena keterbatasan waktu TD.
Spin juga memiliki keunikan tersendiri dengan air vent hingga baris ketiga yang di desain secara unik dan lucu, sementara pesaingnya masih berkutat dengan double blower. Well done! HU cukup berlimpah fitur dengan dua port AUX dan bluetooth audio. Speaker cukup 4 biji, tetapi suaranya menyenangkan dan baik. :off_good_job:
Sayangnya, bootspace Spin terbilang kecil, tetapi di kompensasi dengan ban yang diletakkan di lantai bawah bagasi, dan peredaman segambreng kelas berat.

Image

Image




Nissan memutuskan tetap mempertahankan formula di Grand Livina. Kursi2 menjadi yang paling nyaman di marih, terutama di baris kedua yang dapat di geser dan di recline. Baris ketiga seperti biasa, hanya untuk anak kecil, ane mencoba duduk dan kepala ane menyentuh plafon. Bootspace juga seadanya, layaknya formalitas di MPV ini.
Nah, urusan AC, tidak ada yang mengalahkan legenda Grand Livina. Sedingin chiller industri di baris depan, sepoi2 di baris kedua, dan tidak terasa di baris ketiga... Setidaknya, Grand Livina memiliki 3-zone climate: Subzero, Subtropis, dan Sahara. :off_good_job: ........ :ngacir: Jarang sekali ada setting yang tepat untuk AC, pengemudi nyaman tetapi penumpang protes atau pengemudi membeku tetapi penumpang baris kedua nyaman dan penumpang baris ketiga protes. Untungnya, Nissan memberikan roof mounted monitor untuk mengalihkan derita duniawi penumpang di baris kedua dan ketiga. Dengan merek Swan yang terkenal cetar membahana, roof mounted ini akan membuat blind spot semakin mantab karena spion tengah menjadi fitur yang tidak berguna bagi pengemudi.

Image



Pendatang paling terlambat, Datsun Go+ memiliki akomodasi yang terbilang cukup. Tidak kurang, tidak lebih. Go+ benar2 mencamkan istilah mobil sebagai alat transportasi dari titik A ke titik B tanpa banyak basa basi. Power window hanya terbatas di pintu2 depan, sementara pintu kedua menggunakan power hand alias engkol yang sangat mengharukan bagi ane karena ane teringat KiSup jebot bokap ane. :e-whistle:
Kursi2 cukup baik dan nyaman, bahkan cukup mengejutkan ane dengan empuknya kursi tersebut. Mobil 90jutaan bisa begini? *delusional* AC cukup baik mendinginkan kabin yang cukup lega. Sayangnya, kursi baris ketiga benar2 tidak layak disebut kursi. Ane tetap menyarankan untuk mencopot kursi tersebut. Dalam keadaan fully deployed, bagasi benar2 sangat sempit. Dalam keadaan terlipat, hilang lah fungsi MPV nya. Go+ is a goddamned hatchback with third row seating for... things... that is so microscopic, not for human. :e-whistle:

Image

Image




Mazda8, err... are we still doing it? Yes? Sure? okay. :ngacir:
Dengan ukuran raksasanya, akomodasi dan bagasi bukan masalah pun fitur kelas beratnya menjamin seluruh penumpang merasa nyaman. Kursi baris ketiga masih cukup nyaman bagi dua nonik untuk duduk dengan nyaman sambil bercanda dan bermain2 dengan boneka yang entah siapa yang meletakkannya di mobil ane. Kursi baris kedua captain seat ottoman, yang sayangnya, menderita sindrom legroom sempit jika sandaran kaki fully deployed. Mazda masih berbaik hati dengan memberikan stopper di rail kursi baris kedua sehingga kursi baris kedua tidak akan menyentuh kursi baris ketiga dan membuat kursi baris ketiga tidak berguna sama sekali atau kalau memang memaksa untuk menempatkan manusia di sana, kaki nya harus diamputasi. Sunroof dan 3-zone AC controller terpisah membuat head room baris kedua terasa cukup sempit, pun penempatan air vent yang tepat di kepala rasanya kurang tepat. Uniknya, di bawah pillar C kanan, terdapat air vent tambahan.

Image

Image


Image

Image

Image


HU kelas dewa yang cukup dudul menjamin kualitas suara yang baik dari 4 speaker nya. Dan MMI cukup gila dengan tidak memberikan tweeter di pojok dashboard, padahal slot nya sudah ada. Tetapi dengan powered back door kerennya, ane bisa mengabaikan absennya tweeter di mobil ini. Meski jujur, begitu liat buku manual ane merasa miris, adanya fitur AFS-Adaptive Frontlighting System di halaman 8-43 dan BOSE System di halaman 8-42 menunjukkan golok MMI cukup tajam memangkas fitur Mazda8. :off_no:


Verdict:
1. Ertiga
2. Mobilio
3. Grand Livina
4. Avanza
5. Spin
#. Go+

Errrr...tiga?
Kalau ada yang protes kenapa bukan Mobilio RS, liat kursi nya aja dah. Ertiga memiliki kursi2 yang lebih baik dan keseluruhan akomodasi yang cukup untuk 6 orang dewasa, bukan 7 orang. Bagasi memang parah dan payah, tetapi setidaknya ada tempat untuk meletakkan beberapa barang atau kargo penting di dalam mobil. Sisanya ikat di atap. Grand Livina dapat menjadi pesaing ketat tetapi sistem AC nya yang lebih rumit dari mood-swing ababil menjadi batu sandungan. Avanza baru saja menerima minor update, tetapi tetap kurang impresif, layaknya menambahkan mayonaisse di atas nasi pecel sambal tumpang ane karena teman ane dengan cerdasnya memesan lasagna plus ekstra cheese-topping. Spin? hopeless. :snipersmile:


==============================

Safety

Tidaklah lengkap jika membahas MPV tanpa fitur keamanan karena MPV seringkali mengangkut manusia dan nonik. Untungnya semua pabrikan sudah tobat dan mulai memberikan fitur keamanan aktif dan pasif ke LMPV... sort of... :shrug:


Mobil yang paling susah disalip, Avanza sudah mendapatkan kemurahan hati dari TAM berupa dual airbags saat terjadi benturan. Sebelum terjadi benturan, TAM hanya memberikan buku doa. :e-pray: No, seriously, untuk varian non Veloz tidak dilengkapi dengan ABS. Hanya varian Veloz yang memiliki ABS disamping dual airbags. Lousy Toyota. Setidaknya, alarm mobil yang lebih peka dari sirkuit elektronik bom waktu bisa menakuti maling mobil. :off_good_job:


Honda yang menyiapkan Mobilio sesuai dengan standar HPM, benar2 memenuhi komitmen nya. Mobilio RS dilengkapi dual airbags dan ABS + EBD, juga dengan immobilizer. Well, setidaknya ane cukup bangga dengan statement mr. Jonfis mengenai safety concern di tiap lini Honda. :off_good_job:


Dan di satu sisi, mobil yang membuat TAM menambahkan airbags dan marketing director Daihatsu mengeluarkan statement blunder, Suzuki Ertiga telah memberikan begitu banyak fitur keamanan yang menyenangkan. Mulai Immobilizer + theft deterrent (alias alarm super ribut), ABS + EBD *what a surprise!*, dan dual airbags. Hat up for Ertiga! :off_good_job:


Spin, sekali lagi menjadi paradox. Fitur keamanan nya juga tergolong baik dengan ABS meski tanpa EBD dan bonus pedal rem paling aneh yang pernah ane injak. Immobilizer dan theft deterrent tersedia meski ane meragukan jika ada maling mobil yang melirik Spin sebagai target operasi nya. Nah, hal paling kacau adalah airbag. Spin hanya memberikan single airbag di sisi driver. Penumpang depan hanya mendapatkan memar dan cidera dari seat belt saat benturan. Suatu kesalahan fatal dari Chevrolet. :off_no:


Sang penantang yang sudah berumur, Grand Livina masih mampu memberikan fitur terbaik. Dual airbags, ABS + EBD + BA dan immobilizer dengan panic mode for pussiez. One of the best safety ridden MPV on its class. :off_good_job:


Datsun GO+... errr... Hanya memiliki immobilizer pada varian2 top of the line. Sudah itu aja. Tidak ada ABS dan airbag demi harga jual di bawah harga psikologis 100jeteng. Buy it, drive it, and get on with it. :ngacir:


*berteriak ke produser* Are we still doing this bloody thing? :e-wall:
Demi subyektivitas dan ironi artikel ini, kembali Mazda8 masuk ke ring tinju. Dengan dual airbags, dual side airbags di kursi depan, dan dual curtain airbags yang memanjang dari pillar A hingga pillar D, rasanya ada cukup banyak airbags untuk menjadi bantal dan guling seluruh penumpang. Sensor2 benturan pun bertebaran di mana2 demi terdeploy nya airbag dan meroketnya biaya penggantian. :frm_bang_head: Untuk urusan pengereman, Mazda8 memiliki perangkat rem paling sinting untuk sebuah MPV karena dilengkapi 4 ventilated disc brake dengan brake caliper yang sama besar untuk semua roda plus ABS 4 channel dan EBD. Stopping power nya sendiri bisa menghasilkan gaya deselerasi sebesar 100G. :ngacir:
Tentunya, untuk mencegah maling kapal, Mazda8 dilengkapi dengan keyless immobilizer yang sering terselip entah dimana karena kunci Mazda8 begitu tipis dan mirip kartu debit.
Satu hal yang membuat ane penasaran, di diagram fuse box, terdapat sekring PRECRASH di buku manual halaman 8-41. Entah apa itu artinya. Mungkin untuk mencegah meteor menghujam ke bumi lagi. :e-think:


Verdict:
1. Grand Livina
2. Ertiga
3. Mobilio
4. Avanza
5. Spin
#. Go+


Errr... Batumakam lagi?
Sesuai dengan namanya, Nissan berusaha mencegah pemiliknya membeli batu makam secara harafiah dengan melengkapi Grand Livina melalui fitur keamanan segambreng. Bahkan Grand Livina sudah dilengkapi dengan fitur yang tidak ada di Mazda8: BA atau Brake Assist. Entah apa artinya, mungkin pengereman dibantu dengan doa? Sementara Ertiga dan Mobilio memiliki fitur yang identik, Avanza dan Spin memutuskan untuk saling bekerja sama dengan swap fitur. Go+ sebagai econobox, tentunya memiliki fitur keamanan yang sama dengan satu kaleng ikan tuna.

===============================

Powerhorses!

Sesuai dengan kodrat MPV, Multi Purpose bisa diterjemahkan dan harus diterjemahkan ke dalam arti: mobil harus bisa melakukan banyak hal. Termasuk mengangkut kargo 400ton, melesat layaknya anak panah tak tau arah di tol, hingga melakukan Gymkhana ala Ken Block. Kesemuanya membutuhkan tenaga mesin yang tidak sedikit untuk memuaskan berbagai macam tuntutan dari penggunanya.



Toyota memastikan bahwa teknologi uzur yang telah teruji, lebih baik. Karenanya, dua enjin bangkotan macam 3SZ-VE dan K3-VE digunakan untuk line up Avanza yang menjadi satu2nya MPV RWD di marih. Enjin K3-VE menjadi enjin yang sangat populer, 4 silinder 1298cc dengan 90.7hp dan torsi 116.7nm @4400rpm menjamin body ringan Avanza dapat berakselerasi dengan baik dan sruntulan di tol. Sementara versi Veloz menggunakan enjin 3SZ-VE 4-silinder 1495cc yang menghasilkan 102.5hp dan 136nm @4400rpm. Cukup untuk membakar ban dan mengintimidasi angkot. Transmisi yang digunakan juga masih 4AT untuk versi matiknya dengan bonus suara mekanikal yang persis seperti mobil yang mengalami kerusakan bearing... :shrug:


Mobilio, memastikan menjadi LMPV terkencang dengan mesin legendaris L15Z1, 4-silinder 1496cc 116.3hp dan torsi 145nm @4600rpm. Penggunaan CVT meminimalisir terjadinya gear hunting ala AT konvensional dan membuat karakter mesin Honda modern yang begitu karismatik muncul: perasan tebu. :ngacir:


Suzuki memutuskan formula di Swift sudah cukup dan memilih mencemplungkan enjin K14B 4-silinder 1373cc, dengan output 93.7hp yang terdengar menyedihkan, tetapi ingat, MPV membutuhkan torsi dan torsi lah yang diberikan Ertiga dengan 130nm di rpm yang cukup rendah, 4000rpm. Dipasangkan dengan 4AT yang halus, Ertiga memiliki formula sebagai MPV yang nyaman dan mumpuni untuk berakselerasi.


Chevrolet... memutuskan untuk membingungkan customer ala Daihatsu dengan begitu banyak line up, tetapi enjinnya lebih sinting. Terdapat 3 pilihan mesin. Mulai dari enjin Family-0 4-silinder 1229cc, 84.79hp dan 115nm @4000rpm. Cukup torquey. Tetapi varian terbaik Spin menggunakan enjin S-TEC 4-silinder 1485cc dengan output 107.5hp dan torsi 142nm di... *drum rolls...* 3800rpm. So much torque at lower rpm! The best enjin setup yang dimiliki Spin dengan transmisi 6AT+manual mode yang membuat LMPV lain terlihat ketinggalan jaman.
Nah, untuk sementara, hanya Spin yang memiliki enjin diesel SDE 4-silinder 1248cc CommonRail dengan output di 74hp dan torsi 190nm di 1750rpm. Sayangnya, enjin ini bertingkah seperti penenggak premium alih2 solar, salah minum atau belum di setting? :e-snooty: Secara menurut beberapa rekan, torsi enjin diesel ini badak bener.


Dan Nissan Grand Livina menyerah dengan enjin buas MR18DE 4-silinder 1798cc yang memuntahkan 124.2hp dan 173.5nm di rpm yang memancing adrenaline: 4800rpm dan dipasangkan dengan transmisi 6MT atau 4AT untuk mengolah tenaganya. Enjin tersebut sekarang hanya terpasang di varian balita Livina dengan popok: X-Gear.
Sementara Grand Livina sendiri harus puas dengan enjin HR15DE generasi kedua dengan kapasitas 1498cc dan output 107.5hp. Torsi sebesar 143.1nm dicapai di rpm 4000 dan CVT yang... menyedihkan harus mampu melontarkan mobil ini 0-100kpj dalam... sekian hari. :ngacir:


Satu2nya enjin 3-silinder, yang juga cukup terkenal dengan kode HR12DE dipasangkan di Datsun GO+. Enjin yang juga berfungsi sebagai vibro untuk meratakan aspal tersebut memiliki kapasitas 1198cc dan output 68hp. Untuk menggerakkan MPV super mini ini, torsi 104nm sudah lebih dari cukup.


Mazda8, sebagai big bad boy di liga ini menggunakan enjin purba L3 series. Sekali lagi, Mazda Jepang dan MMI berkomplot secara masif, terstruktur, dan sistematis untuk menghilangkan kesenangan duniawi ane. Alih2 menggunakan enjin L3-VDT DISI-turbocharged dengan output 241hp dan 350nm di 2500rpm dengan AWD plus gearbox Aisin-Warner 6AT dengan kontrol traksi ajib, Mazda8 diberikan enjin entry level L3-VE dengan output 163hp dan torsi 203nm di 3500rpm FWD dengan Aisin-Warner 5AT plus menyan untuk mengendalikan traksi... Untungnya mode manual ActiveMatic Mazda tersedia di dua versi MPV gambot ini. Sayangnya, performa terkompensasi, enjin turbo mampu melesatkan kapal ini ke 100kpj dalam 8.6detik untuk versi FWD dan 9.4detik untuk AWD. Sementara enjin non turbo sekarang, hanya mampu membuat kapal ngesot ke 100kpj dalam 13.3detik yang menyedihkan. D*mn you Mazda! :off_no:


Verdict:

1. Spin petrol 1.5 AT
2. Ertiga AT
3. Mobilio RS CVT
4. Avanza 1.5 AT
#. GO+
5. Grand Livina CVT


Kenapa Spin yang menang?
Jujur, ane terkesan dengan performa mesin petrol 1.5liter nya. Torsi mudah didapatkan dan transmisi nya luar biasa. Satu2nya mobil dengan 6AT yang bahkan sanggup membuat Mazda8 malu dengan 5AT nya. Spin simply wipes out the competition.

================================


Driving impression

The heart of this article, for petrolheads... or drivers... or chaffeurs... or test drivers... or tame racing driver..., you'll pick your role then. :big_grin:


Ahhh... the Avanza... Mobil paling mainstream di antara yang paling mainstream dan sangat sesuai untuk track dalam kota. Low rev khas enjin nya sangat baik untuk kondisi stop and go tetapi bengek di hi rev dengan bonus suara enjin yang menyedihkan. Dan di versi ini, Avanza sudah menggunakan steering EPS yang tentu saja memberikan feedback layaknya menyetir dengan gamepad. Transmisi manualnya menyenangkan seperti yang ane coba saat cruising di tol menuju ke Tangerang. Dan versi matiknya cukup robust tapi kasar. Suspensi sudah mengalami revisi dengan tingkat keempukan yang lebih baik, tingkat keolengan yang lebih horror, dan tetap memantul. Tetapi bila di isi full load, Avanza berubah menjadi MPV yang anteng dan lebih nyaman. Jauh lebih nyaman.



___________________________________


Mobilio RS, sang pendatang baru menawarkan driving position rendah seperti sedan dan handling yang baik. Sayangnya EPS mengurangi nilai kesenangan menyetir dan interaksi driver dengan aspal. Bagaimanapun, EPS Mobilio masih lebih baik dibandingkan dengan posh MPV Honda, Odyssey RC1 yang terasa seperti nyetir mobil2an bagi anak balita. Enjin menjadi yang paling bertenaga meski lag CVT menterjemahkan tenaga mesin cukup terasa tetapi tidak mengganggu dan performa CVT tersebut juga harus ane apresiasi karena cukup baik. Suara mesin juga khas hatchback Honda meski masih terdengar seperti perasan tebu dengan enjin note lebih berat dari mesin EarthDream Odyssey RC1 yang cempreng. Di sisi suspensi, travel suspensi yang medium dengan reaksi yang tidak terlalu berlebihan menyumbang firm nya suspensi Mobilio. Cukup stabil untuk bermanuver, meski ane tidak menyarankan untuk slalom Brio Style meski respon rem nya cukup baik dibandingkan dengan mobil yang memiliki rem terburuk di liga ini: Spin.



___________________________________


Ertiga dengan basis Swift dan enjin nya memberikan sensasi berkendara yang unik. Posisi duduk nyaman dengan jok yang begitu menyenangkan dan juga cukup rendah. Suspensi sedikit lebih empuk dari Mobilio yang sesuai dengan habitat Ertiga di perkotaan. Sayangnya, entah mengapa, LMPV hobi sekali menggunakan EPS. Di Ertiga, EPS terasa dull dan terlalu ringan. Untungnya, Enjin mid rev nya sudah menyalak di 2200an rpm dengan torsi yang cukup baik. The best rpm for Ertiga: 3800-4200, torsi berlimpah ruah di sana tetapi enjin nya terdengar cukup merintih, meski demikian, kehalusan transmisi nya benar2 mengesankan ane...
Satu hal yang ane perhatikan, respon pedal remnya tidak begitu baik, SX-4 yang pedal remnya bagaikan recoil sebuah howitzer 155mm masih lebih baik dan menyenangkan dibandingkan respon gugup pedal rem Ertiga. Bagaimanapun juga, Ertiga menjadi salah satu MPV yang cukup membuat ane tersenyum saat mengendarainya.



___________________________________

Jika Ertiga membuat ane tersenyum, maka Spin 1.5 membuat ane menggila. The best of the best of everything ngumpul di Spin bagi petrolhead. Suara mesinnya benar2 menggoda ane untuk revved up mulu. Berat layaknya proper Murican enjin. Sah! Iklan Chevrolet Spin di TV dengan seisi kabin mengigau itu benar adanya. Apalagi torsi nya mulai terasa menendang bokong mobil di 2100an rpm dengan transmisi 6AT tiptronik yang berpikir dia adalah transmisi PDK-Porsche DoppelKupplung... [cencored] dan downshift benar2 menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan baik dalam mode full matik ataupun manual, apalagi dengan tachometer segede gaban dan speedometer digital. My cat! Spin really does impresses me a lot!
Jika urusan mekanikal saja begitu, apalagi dengan handling. Spin menjadi LMPV dengan handling terbaik yang dapat membuat hatchback 200jutaan kelimpungan. Suspensi firm dan mantab, tidak gugup saat mobil bermanuver dan tentu saja body control yang tidak berlebihan menyumbang handling yang begitu provokatif. Belum lagi Spin menjadi satu2 nya kontestan dengan hydraulic powersteering, memang berat, tapi respon setir akurat dan tajam.
Driving position juga begitu commanding dan tinggi layaknya SUV tetapi cukup pas bagi tangan kiri untuk menekan tombol tiptronik di tuas shifter dan menggila di jalan.
Sayangnya, di unit TD ane, pedal remnya ampun dah. Ancur se ancur2nya. Layaknya ane harus bermain sadomachosist dengan pedal tersebut. Keras dengan travel pendek dan gigitan kaliper ke disc benar2 agresif. in short: rubbish!
Bagaimanapun, hanya satu kata untuk Spin petrol 1.5: FUN! FUN! Even more FUN!
*kecuali ente ga menginjak pedal rem yak...* :ngacir:


___________________________________

Dan semua kesenangan di Spin harus ane seimbangkan. Yin dan Yang, hitam dan putih, panas dan dingin, Fun dan Horrible. Grand Livina lah yang memiliki kehormatan sebagai anti thesis Spin. Enjin dengan torsi di hi rev dipadukan dengan CVT yang tidak lebih baik dari gear Shimane di sepeda polygon membuat ane menderita. Dengungan CVT, rintihan mesin, aroma catalytic, dan EPS benar2 membuat Grand Livina harus bekerja ekstra keras untuk memuaskan ane... dan gagal.
Kodrat MPV menuntut low rev yang bertenaga, masalahnya, di Grand Livina, low rev nya kosong hingga 3000rpm. Belum lagi respon CVT nya yang lemot. Mungkin bagi para kaum hawa hal ini tidak menjadi masalah, tetapi bagi ane, secara subyektif, ini masalah besar. Belum lagi limbung nya mobil menjadi suatu catatan sejarah bagi ane: pertama kali nya ane mabok darat.
Satu2nya hal yang baik di mobil ini adalah respon rem nya. Jauh lebih baik di bandingkan seluruh LPMV dan hanya Mobilio yang sanggup menempel ketat untuk urusan rem.
Bagi yang mencari respon Grand Livina yang lebih baik, beli versi manual. :shrug:


___________________________________

Adik Grand Livina yang entah siapa bapaknya, Datsun Go+, hanya memiliki transmisi manual. Mesin vibrator nya cukup heboh, membuat pintu kedua bergetar hebat saat terbuka. If a car can get an orgasmic trance, Go+ surely have an orgasmic trance issue that needs serious medication. :ngacir:
Transmisi manualnya cukup menyenangkan meski urusan short shift agak gugup, gear agak kurang percaya diri membiarkan tangan ane bermain2 memasukkan gear demi gear. Bagusnya, respon mesin cukup powerful menghela bobot ringan mobil ini dan respon rem juga bagus untuk price tag nya. Sayangnya, EPS... terlalu ringan karena sensor kecepatan di unit TD kaput, mampus. Harusnya speed sensitive tetapi ane tidak akan berharap EPS nya akan seajib Adaptive Steering Merc.


___________________________________

*masih ga yakin* Err... Mazda8. :e-whistle:
Mobil MPV yang juga senasib dengan Spin: masih menggunakan hydrolic powersteering yang purba. Enjin halus dan ane sering lupa mematikan mesin. Parkir langsung ngloyor. Hanya jeritan alarm key mobil yang sanggup menyadarkan ane akan kebodohan tingkat dewa tersebut.
Respon pedal gas tergantung mode transmisi. Saat mode D atau full auto, rpm malas naik dan pedal gas terasa memiliki jeda 150juta tahun untuk berkomunikasi ke ECU. Dalam mode M atau Manual mode, all the fun begins: respon pedal layaknya mobil jebot yang menggunakan sling dan karburator. Rpm naik turun dengan begitu hidupnya. Apalagi enjin L3-VE ini termasuk low rev happy. Dengan torsi buas di 3500rpm, enjin 2300cc ini sanggup membuat enjin 2500cc minder karena putaran bawah yang sangat bertenaga, tetapi enjin L3-VE ini menderita sesak nafas kronis di hi rev... Andai mesin L3-VDT masuk, tentunya lebih baik lagi untuk urusan bakar ban dan membuat keributan saat menikung atau flat out dengan power band selebar Terusan Suez.
Handling Mazda8 terasa seperti hatch apalagi dengan setir hidrolis dan enjin low rev. Cukup lincah meliuk2 di tengah kemacetan meski saat melaju 150kpj dan mencoba meliuk, bokong terasa bergeser dengan liar. Body roll cukup minim karena suspensi firm nya dan multi link di suspensi belakang menjamin kestabilan mobil ini. Tetapi kodrat sebagai hatch sepanjang 4.8m membuat tail sway kapal ini horror naujubile.


Verdict:
1. Spin
2. Mobilio
3. Ertiga
4. Avanza
#. Go+
5. Grand Livina


Spin? Ciyus?
Ya, dari mengemudikan seluruh mobil ini, hanya Spin petrol 1.5 AT yang membuat ane terkagum2... Enjin, transmis, steering, dan suspensi menjadi faktor yang mencapai nilai tertinggi dari liga ini. Semuanya sempurna, kecuali rem terkutuk itu. :off_no:


======================

Final verdict

Tergantung mobil apa yang dibutuhkan para pembaca sekalian. Ane pribadi, secara subyektif akan menempatkan urutan sebagai berikut:

1. Spin
2. Ertiga
3. Mobilio
#. Go+
4. Grand Livina
5. Avanza

Spin menjadi jawara karena Murican built quality, perhatian ke detail, dan fun to drive yang sangat mengesankan bagi ane. Kekurangan fatal di baris kedua dapat diakali karena Chevrolet memberikan opsi untuk upgrade mekanisme kursi baris kedua dengan tambahan biaya. Bagaimanapun, karakter mesin dan transmisi lah yang benar2 menunjukkan jiwa Spin. :off_good_job:

Ertiga menjadi runner up sesederhana ane terkagum2 dengan desain dashboard dan interiornya dan fitur2nya. Memang masih kalah dari Spin, tetapi terbayarkan dengan akomodasi satu tingkat di atas Spin. :off_good_job:

Mobilio menjadi pemenang ketiga meski memiliki price tag cukup mahal. Upgrade minor yang dilakukan HPM begitu pas di sisi peredaman dan penampilan interior eksterior :off_good_job: , sayangnya desain dashboard Brio Style nya masih kurang di mata rabun ane. Juga urusan jok yang menyedihkan. Untung uprate interior Mobilio akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, tetapi beberapa member sudah memberi penampakan dan hasilnya membuat Mobilio menjadi jauh lebih baik.

Go+ ane selipkan karena rasio price tag dengan utilitas mobilnya luar biasa. Handling cukup baik dan manusiawi, sayang kursi baris ketiga benar2 diluar logika kucing ane. Penampilannya Go+ pun bisa jadi yang paling cantik dan bersaing ketat dengan Spin. Hal2 sederhana seperti jok dan suspensi malah membuat ane terkesan dan mengabaikan rattling di mana2. What can you got with 100million on new MPV? :off_good_job:


Grand Livina... ahh... looks rite but doesnt feels rite and handles like a brick on jacuzzi full of oil. Limbung dan memabukkan, meski urusan material dan kekedapan baik. Owh, desainnya dashboard pun patut diacungkan jempol.
Sayang, tersandung CVT yang dibawah taraf kemanusiaan. :off_no:


Avanza boleh menjadi yang paling tertinggal. Memang sudah ganti casing, tetapi bagaimanapun ini bagaikan casing Nokia Lumpia1020 yang dipasangkan dengan internal Nokia Mobira Senator seberat brankas. :off_no: Seandainya Nokia sudah memiliki ponsel di jaman batu, mungkin formula itu yang masih digunakan TAM. Bagaimanapun juga, aftersales service dan kehandalan Avanza masih membuat LMPV pesaingnya bertekuk lutut. Angka penjualan tidak pernah berbohong. :e-whistle:



===========================

Vital statistics

Ide mulai muncul bulan Oktober 2013 setelah TD Spin LTZ AT, Ertiga GX AT, dan VX-1 MT.

Tujuh model mobil terlibat dalam ripiu dengan banyak varian, tidak termasuk rebrand... multiple TD untuk beberapa mobil dan SSI kelas kucing kampung untuk menyeret Mobilio RS kinyis.

Dua minggu untuk meracik outline, dan 5 hari untuk mengetik ripiu setelah Ertiga merapat di garasi.

Total horsepower: 1,132.19hp
Total torsi: 1,598.28nm
Total kapasitas silinder: 16,381cc
Lowest odometer: Mobilio RS, 30km
Highest odometer: Avanza operasional pabrik, 130rb km
Diesel enjin count: 1 - Spin
Gear AT terbanyak: Spin 6AT
Sh1ttiest tranny: Grand Livina CVT
Lousiest brake: Spin
Over equipped brake: Mazda8
Smallest output: Go+, 68hp 104nm
Smallest enjin: Go+. 1198cc 3-cyl.
Biggest hp: Mobilio RS - 116.3hp
Crazy torque: Spin Diesel - 190nm
Biggest enjin: Nissan Grand Livina 1498cc
Big Bad Boy: Mazda8
Mobil paling ringan sekaligus kecil: Go+, 3995mm, 794kg
Mobil paling berat sekaligus gambot: Mazda8, 4860mm, 1780kg
GroundClearance tertinggi: Avanza 200mm std
GroundClearance terendah: Spin, 157mm std
Kapasitas tangki terkecil: 35 liter, Go+
Kapasitas tangki terbesar: 68.5 liter, Mazda8
Mobil paling populer: Avanza
Mobil paling langka: VX-1
Mobil yang lupa di dokumentasikan: Avanza dan Grand Livina


Body count: 0
Vomit bag: 0
Paha: errrr... 1 pasang.
Nonik terlibat: 3 (termasuk bini teman ane saat TD Mobilio RS)
Tebu tergiling: 0
Burn out: 1x, Go+
Cornering king: Mazda8
Vomit inducing: Grand Livina

............................................ :ngacir:

============================

Terima kasih telah membaca ripiu ini, special thanks to om VM, Mingky, Billy, ChZ, Sandal, dan rekan2 lainnya yang mendukung ane untuk melanjutkan ripiu ini di saat ane mulai menyerah. :mky_01:

Sampai jumpa di ripiu berikutnya... :mky_01:
Obey the mahakitteh. :big_cat:

Image

Image << Panic button for mere miserable mortals

This topic has 466 replies

You must be a registered member and logged in to view the replies in this topic.


Register Login
 
Post Reply

Return to “Review Corner”