SerayaMotor.com

Indonesian Automotive Discussion Forum
It is currently 23 Sep 2014, 13:19

All times are UTC + 7 hours





Post new topic Reply to topic  [ 52 posts ]  Go to page 1, 2, 3  Next
Author Message
 Post subject:
PostMessage posted...: 30 May 2006, 20:45 
Offline
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer
User avatar

Joined: 22 Jul 2004, 21:10
Posts: 2980
Location: Kingdom of Heaven
btw yang makai innova ganti oli nya tiap 10 rb (seperti anjuran TAM ato 5 rb aja seperti ganti oli biasa


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 30 May 2006, 20:50 
Offline
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer
User avatar

Joined: 22 Jul 2004, 21:10
Posts: 2980
Location: Kingdom of Heaven
btw yang makain innova oli nya ganti tiap 10 rb km sesuai anjuran TAM
ato tiap 5 rb km aja


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 30 May 2006, 23:28 
Offline
Member of Senior Mechanic
Member of Senior Mechanic

Joined: 04 Jul 2005, 20:55
Posts: 296
Location: Shinjuku
the-mantal wrote:
selain oli.... setelan CO juga banyak pengaruh untuk penghematan BBM..
tampaknya sih demikian (sudah teruji sama xenia milik keluarga, n ada juga di forum http://www.daihatsu-xenia.com).


Selain oli encer, setelan co, hal lain yang penting untuk irit bbm adalah tekanan ban, kebersihan filter udara dan mutu bensin.
Setelah harga bensin mahal, saya mengganti filter udara lebih cepat dari yang dianjurkan bengkel, alasannya harga filter udara tidak begitu mahal.
Di mobil yang sering saya pakai bedanya terasa sekali, kalau filter udara dalam kondisi normal, 40 liter bisa jalan sekitar 470 km (1 liter untuk 11.75 km) tetapi kalau filter udaranya baru atau habis dibersihkan 40 liter bisa jalan 500 km (1 liter untuk 12.5 km).

Tekanan ban juga pengaruh, apalagi kondisi jalanan di sini yang tidak rata. Saya menduga bahwa jalanan yg tidak rata itu menyebabkan velg jadi tidak mulus, dan akibatnya setiap kali kita kena lubang, ada angin yang keluar dari velg yang tidak mulus itu.
Waktu mobil masih baru (velg masih mulus), jika saya cek angin kurangnya dikit, kalau sekarang, kurangnya bisa lumayan banyak.
Heran juga kenapa jadi begitu, yang jelas tidak ada kebocoran di ban.

Mutu bensin, sering banget bensin berubah rasanya :)

Kalau kombinasinya jelek semua, pasti bensin jadi boros banget.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 30 May 2006, 23:42 
Offline
Member of Senior Mechanic
Member of Senior Mechanic

Joined: 04 Jul 2005, 20:55
Posts: 296
Location: Shinjuku
Ada pun mengenai topic ini, "mobil yang paling ngga worth it", kalau menurut saya adalah kalau kita beli mobil tidak sesuai dengan kebutuhan kita.

Contoh saja, tetangga saya, moga2 dia tidak ikut forum ini, dia ke mana-mana luntang lantung pakai Alphard dan disetir sendiri pula. Padahal jelas-jelas dia punya anak baru satu dan masih berumur enam bulan.
Kalau ketemu dia, saya sering ketawa sendiri. Aneh saja, dilihatnya benar-benar tidak pantas, masih engkoh engkoh kok pakai mobil yang segedhe gajah bengkak.

Contoh lagi, kita beli SUV 4x4 buat pakai di tengah kota, menurut saya yang ini juga tidak berguna, karena 4x4 selain lebih mahal dikaitkan dengan pajak, juga konsumsi bensinnya biasanya lebih boros, bisa beda satu km per liternya.

Contoh lainnya, kita pakai double cabin di tengah kota, pasti akan banyak masalahnya, bisa2 entar kita ditumpangin anak sekolah dan kalau ada kejadian mereka jatuh, bisa jadi urusan polisi.

Contoh lain lagi, kita beli sedan, dan kita tinggal di suatu daerah yang kondisi jalannya bener2 berantakan.

Ada pun mengenai Kijang kapsul, selama memang dipakai minimal sekali dalam seminggu mendekati full capacity penumpangnya, saya tidak bisa bilang ngga worth it.
Contoh saja, keluarga dengan tiga anak yang sudah mulai besar, tiap akhir minggu jalan-jalan ke mall (di Jakarta mall merupakan tempat hiburan gratis dan paling murah biayanya), mau tidak mau mereka butuh mobil besar macam kapsul.
Di lain hari, mobil itu juga dipakai di kantor oleh sang ayah.

Karena uang yang terbatas, "cuma bisa beli satu unit mobil saja", akan tidak praktis buat sang ayah untuk beli city car atau sedan misalnya.
Masak dia tiap akhir pekan mau sewa mobil atau pinjam mobil tetangga ?
Selain itu pakai city car juga orang yang sudah umur juga kurang pantas, kecuali cewek (orang bilang terlalu "boyish")

Sebenarnya alasannya adalah klasik, masalah ekonomi, di mana orang / keluarga tersebut bisanya "cuma bisa beli satu unit mobil saja".
Lain kata kalau ada uang lebih, keluarga itu bisa beli satu unit mpv, satu unit city car, 1 unit suv dan yang lain-lain, mereka akan bisa menyesuaikan mobil yg akan dipakai hari ini.

Tapi saya setuju, kalau buat orang muda macam kita yang di forum ini, Kijang kurang cocok.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 31 May 2006, 03:50 
Offline
New Member of Mechanic Engineer
New Member of Mechanic Engineer
User avatar

Joined: 08 Sep 2004, 03:44
Posts: 902
uch wrote:
Setubuh... eh..setuju.

Yg paling nggak worth u/ dibeli adalah kijang bekas.
Tapi yg paling worth u/ di jual adalah Kijang juga ha..ha...

Soalnya berhubung BU banget, gw baru aja jual kijang gw yg udah berumur 3 thn. Dari hasil penjualan, kebutuhan uang yg mendesak terpenuhi, terus masih bisa beli Blazer thn 2001, masih sisa buat bikin wartel (modalnya dibawah rp 40 jt). Jadi dgn jual kijang, masalah gw selesai, gw dapet mobil yg 2 kali lebih nyaman dan 3 kali lebih aman, tambah punya usaha wartel lagi. Herannya pas pertama kali masuk bengkel, rutin maintenance nya si blazie ternyata relatif murah (bengkel non resmi tapi khusus blazie). BBM nya juga relatif lebih hemat dari kijang (kecuali kondisi macet, stop n go, boros banget). Pokoknya kalo perasaan gw, worthed banget lah gw jual tuh kijang.

berarti dlm hal ini Blazer jadi worth buying dong? dapet 2x lebih nyaman dan 3x lebih aman, BBM luar kota lebih hemat, maintenance relatif murah.
dan Kijang yg dulu jadi worth selling dong, hehe.
Nah, bung uch , bisa minta info bengkelnya (nama & address) , dan dia jual spareparts ori&kw1 juga ngga?
Ada kaca ngga ya? Blazer paman gw.. kaca depannya retak tuh. Waktu itu di luar kota kena batu yg terlontar dari muatan bak truk..

_________________
Nano Energizer - (Product of nanoTec International - Korea) dengan nano ceramic technology.
Easy Engine Restore, repair & protect
Cukup sekali pakai utk 30rb-50rb Km..Tambah tenaga,Hemat BBM,Mengurangi Polusi.
klik disini utk lihat infonya


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 31 May 2006, 09:18 
Offline
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer

Joined: 21 Sep 2005, 09:21
Posts: 1632
conan wrote:
Pada proses breaking in engine, 1000 Km awal, harus menggunakan oli mineral (tidak boleh sintetik) yang viskositasnya justru lumayan tinggi (baca : kental).

Ini penting bagi proses engine-breaking itu sendiri, bukannya pabrikan pelit dan memberi 'oli gratis murahan'.

Sebelum begitu saja mencaci-maki pabrikan, ada baiknya lakukan research dulu tentang pentingnya proses engine break-in dan specs oli yang dibutuhkan pada proses ini.

Karena 1000 Km awal mesin baru adalah tahapan teramat penting yang menentukan kondisi mesin dalam life spannya.



conan, U masih ngak robah. Once an asshole, always an asshole. Baca dulu post saya. Saya ngak caci maki kok. Saya cuman bilang ATPM kasih oli gratis bukan saat 1000 km. Untuk 5000 sampai 10,000 km. Apakah break in harus sampai 5000-10,000 km ?

Did I ever say kasih oli mineral murah untuk 1000 km pertama keterlaluan ? Anak saya juga tau ngak ada mobil di dunia yang keluar dari pabrik pakai oli synthetic. Sebelum pakai full synthetic saya sudah research dalam dulu. Of course I know percuma pakai full syn 1000 km pertama. U always think U yang paling pintar dan yang lain bodoh ! Thats your biggest problem !

What I mean is sudah lari 5000 km, sudah cukup dong break in 5000 km, nah, kalau di kasih oli gratis 20w50, its a double edged sword. Benar, konsumen ngak usah beli oli, tapi mesin jadi boros, performa turun juga.

Bisa dak sih I ngak comment tentang post U, U juga jangan baca post saya, ngak usah comment post saya ? Juga nadanya ngak usah sarcastic. To the point saja langsung.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 31 May 2006, 10:32 
Offline
New Member of Senior Mechanic
New Member of Senior Mechanic

Joined: 16 Sep 2004, 14:08
Posts: 146
Location: Jabodetabek
Sithlord wrote:
Saya cuman bilang ATPM kasih oli gratis bukan saat 1000 km. Untuk 5000 sampai 10,000 km. Apakah break in harus sampai 5000-10,000 km ?

Did I ever say kasih oli mineral murah untuk 1000 km pertama keterlaluan ? Anak saya juga tau ngak ada mobil di dunia yang keluar dari pabrik pakai oli synthetic. Sebelum pakai full synthetic saya sudah research dalam dulu. Of course I know percuma pakai full syn 1000 km pertama. U always think U yang paling pintar dan yang lain bodoh ! Thats your biggest problem !

What I mean is sudah lari 5000 km, sudah cukup dong break in 5000 km, nah, kalau di kasih oli gratis 20w50, its a double edged sword. Benar, konsumen ngak usah beli oli, tapi mesin jadi boros, performa turun juga.

Bisa dak sih I ngak comment tentang post U, U juga jangan baca post saya, ngak usah comment post saya ? Juga nadanya ngak usah sarcastic. To the point saja langsung.


Setahu saya, untuk mesin bensin, break in period itu sekitar 10 ribu km. Kalau mesin diesel break in period itu 20 ribu km.
Coba cari di google dengan kata kunci engine break in


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 31 May 2006, 10:55 
Offline
Member of Senior Mechanic
Member of Senior Mechanic
User avatar

Joined: 11 Sep 2005, 15:23
Posts: 273
Quote:
Quote:
conan wrote:
Pada proses breaking in engine, 1000 Km awal, harus menggunakan oli mineral (tidak boleh sintetik) yang viskositasnya justru lumayan tinggi (baca : kental).

Ini penting bagi proses engine-breaking itu sendiri, bukannya pabrikan pelit dan memberi 'oli gratis murahan'.

Sebelum begitu saja mencaci-maki pabrikan, ada baiknya lakukan research dulu tentang pentingnya proses engine break-in dan specs oli yang dibutuhkan pada proses ini.

Karena 1000 Km awal mesin baru adalah tahapan teramat penting yang menentukan kondisi mesin dalam life spannya.



conan, U masih ngak robah. Once an asshole, always an asshole. Baca dulu post saya. Saya ngak caci maki kok. Saya cuman bilang ATPM kasih oli gratis bukan saat 1000 km. Untuk 5000 sampai 10,000 km. Apakah break in harus sampai 5000-10,000 km ?

Did I ever say kasih oli mineral murah untuk 1000 km pertama keterlaluan ? Anak saya juga tau ngak ada mobil di dunia yang keluar dari pabrik pakai oli synthetic. Sebelum pakai full synthetic saya sudah research dalam dulu. Of course I know percuma pakai full syn 1000 km pertama. U always think U yang paling pintar dan yang lain bodoh ! Thats your biggest problem !


*&@^#(*^!#

ayo dong.... ini kan cuman forum...
kok mesti berantem lagi sih...

I really enjoy you're all give your best arguments...
Either Sithlord or Conan are experts...

I enjoy your smart arguments....
but don't debate !!!


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 31 May 2006, 11:04 
Offline
Member of Senior Mechanic
Member of Senior Mechanic
User avatar

Joined: 12 Sep 2005, 14:14
Posts: 183
TomS wrote:
Ada pun mengenai topic ini, "mobil yang paling ngga worth it", kalau menurut saya adalah kalau kita beli mobil tidak sesuai dengan kebutuhan kita.
Ada pun mengenai Kijang kapsul, selama memang dipakai minimal sekali dalam seminggu mendekati full capacity penumpangnya, saya tidak bisa bilang ngga worth it.
Tapi saya setuju, kalau buat orang muda macam kita yang di forum ini, Kijang kurang cocok.

Betul paling tidak worth adalah kalau lebih sering tidak full capacity. Masa mobil 7 seater lebih sering isinya 1 orang saja, khan buang-buang BBM & bikin macet. Kalau seringnya 1 orang mah ambil city car aja, macam Picanto atau Chevy Spark. Idealnya sich mobil 2 seater sepertinya Smart ForTwo atau Suzuki Twin, sayangnya harga jual di Indonesia sangat mahal sehingga gak worth dimiliki.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 31 May 2006, 11:25 
Offline
Member of Senior Mechanic
Member of Senior Mechanic

Joined: 04 Jul 2005, 20:55
Posts: 296
Location: Shinjuku
Bayu wrote:
Betul paling tidak worth adalah kalau lebih sering tidak full capacity. Masa mobil 7 seater lebih sering isinya 1 orang saja, khan buang-buang BBM & bikin macet. Kalau seringnya 1 orang mah ambil city car aja, macam Picanto atau Chevy Spark. Idealnya sich mobil 2 seater sepertinya Smart ForTwo atau Suzuki Twin, sayangnya harga jual di Indonesia sangat mahal sehingga gak worth dimiliki.


Kesannya ini orang luntang lantung ke mana-mana pakai mobil gedhe yang belakangnya diisi setan :)
Tapi memang Kijang bukan pilihan anak muda, dan kalau anak muda pakai Kijang, biasanya pinjam punya bokap.

Mobil ideal buat luntang lantung sehari-hari itu, kalau buat saya idealnya yang two seater saja (atau kalau mau bisa ditambah bangku main-main di belakang ala RX7), berat sekitar 800 kg, dan power minimal 110ps.

Mobil seperti Spark walaupun isi silinder kecil, tapi berat, selain itu powernya juga ikutan kecil pula, ujung2-nya pemakaian bensin cuma so so saja.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 31 May 2006, 11:26 
Offline
Member of Senior Mechanic
Member of Senior Mechanic
User avatar

Joined: 11 Sep 2005, 15:23
Posts: 273
Quote:
Assume tiap bulan jalan say 1000 km. So jika oli baru bagus, BBM = 1000 / 8 = 125X5800 = 725,000 per bulan (Ouch ! Pantesan uang tiap bulan kok sisanya makin dikit !) .


Jika tetap pakai oli lama, BBM = 1000 / 7.4 = 135x5800 = 783,000 per bulan. So per bulan 1000 km cuman save 58,000. So jika pakai untuk 5000 km lagi, artinya save moneynya 58,000 x 5 = 290,000. Benar dak sih hitunggannya begini ?


kayanya perhitungannya mesti dikoreksi Boss Sithlord,
oli mahal manfaatnya dirasakan selama kita menggunakan oli tersebut.... kalau usianya 10.000km ya berarti savenya 10.000 km
kalau 1 bulan jalan 1.000 km berarti kita save 10 bulan

Quote:
Utk Innova 2.0 VVT-i / 1TR-FE salah satu penyebab konsumsi BBM menjadi agak minum adalah disain exhaust yg sifatnya semi free flow dng back pressure yang relative rendah (CMIIW).

Diameter exhaust mesin 2000 cc yg mencapai 2,5 inchi dng muffler tengah semi free flow membuat pumping power mesin ini berada pada RPM yg relative tinggi & prior to top speed instead of stop & go driving.

Sebagai perbandingan Accord Cielo yg mesinnya 200 cc lebih besar dr Innova saja dia. exhaust pipe nya enggak sebesar si 1TR-FE.

Penggantian exhaust dengan diameter pipa lebih kecil yaitu 2,25 atau 2 inchi serta muffler tengah yg non free flow akan meningkatkan back pressure, membuat pumping power di RPM rendah lebih baik, maka utk stop & go driving kita ga perlu injak pedal gas dalam2.

Bbrp rekan di milis Innova sudah mencova exhaust baru yg lebih kecil ini, melaporkan akselerasi & kons. BBM yg sedikit lebih baik.

Sekedar saran & masukkan.


wah.. masukan yang sangat berarti bagi saya....
sekarang saya baru tahu kenapa kok muffler Innova besar sekali

Quote:
Ada pun mengenai Kijang kapsul, selama memang dipakai minimal sekali dalam seminggu mendekati full capacity penumpangnya, saya tidak bisa bilang ngga worth it.
Contoh saja, keluarga dengan tiga anak yang sudah mulai besar, tiap akhir minggu jalan-jalan ke mall (di Jakarta mall merupakan tempat hiburan gratis dan paling murah biayanya), mau tidak mau mereka butuh mobil besar macam kapsul.
Di lain hari, mobil itu juga dipakai di kantor oleh sang ayah.

Karena uang yang terbatas, "cuma bisa beli satu unit mobil saja", akan tidak praktis buat sang ayah untuk beli city car atau sedan misalnya.
Masak dia tiap akhir pekan mau sewa mobil atau pinjam mobil tetangga ?
Selain itu pakai city car juga orang yang sudah umur juga kurang pantas, kecuali cewek (orang bilang terlalu "boyish")

Sebenarnya alasannya adalah klasik, masalah ekonomi, di mana orang / keluarga tersebut bisanya "cuma bisa beli satu unit mobil saja".
Lain kata kalau ada uang lebih, keluarga itu bisa beli satu unit mpv, satu unit city car, 1 unit suv dan yang lain-lain, mereka akan bisa menyesuaikan mobil yg akan dipakai hari ini.


hehe.... betul, setuju 100%, tapi ngga worth it-nya itu kalau beli baru karena harga bekasnya tinggi sekali....

Quote:
Tapi saya setuju, kalau buat orang muda macam kita yang di forum ini, Kijang kurang cocok


hehehe.... finally

Quote:
Yg paling nggak worth u/ dibeli adalah kijang bekas.
Tapi yg paling worth u/ di jual adalah Kijang juga ha..ha...


nah... jual kijang paling worth it... !!! hehehe...

Quote:

Soalnya berhubung BU banget, gw baru aja jual kijang gw yg udah berumur 3 thn. Dari hasil penjualan, kebutuhan uang yg mendesak terpenuhi, terus masih bisa beli Blazer thn 2001, masih sisa buat bikin wartel (modalnya dibawah rp 40 jt). Jadi dgn jual kijang, masalah gw selesai, gw dapet mobil yg 2 kali lebih nyaman dan 3 kali lebih aman, tambah punya usaha wartel lagi. Herannya pas pertama kali masuk bengkel, rutin maintenance nya si blazie ternyata relatif murah (bengkel non resmi tapi khusus blazie). BBM nya juga relatif lebih hemat dari kijang (kecuali kondisi macet, stop n go, boros banget). Pokoknya kalo perasaan gw, worthed banget lah gw jual tuh kijang.



hanya kalau bicara pendapat pribadi, saya tetap ngga suka mobil amerika....
yang saya denger, boros, spare part susah dan mobilnya banyak masalah.... mau jual lagi sulit, road handlingnya jelek....
benar begitu pak ?

tapi.. kalau di bawah 40 jt jadi mobil worth it banget....

Quote:
Betul paling tidak worth adalah kalau lebih sering tidak full capacity. Masa mobil 7 seater lebih sering isinya 1 orang saja, khan buang-buang BBM & bikin macet. Kalau seringnya 1 orang mah ambil city car aja, macam Picanto atau Chevy Spark. Idealnya sich mobil 2 seater sepertinya Smart ForTwo atau Suzuki Twin, sayangnya harga jual di Indonesia sangat mahal sehingga gak worth dimiliki.


setuju.... 200%

seharusnya mobil two-seater spt smart bisa dijual tanpa pajak atau minimal dikurangi pajaknya di indonesia agar layak beli / terjangkau


Attachments:
smart2.jpg
smart2.jpg [ 54.1 KiB | Viewed 2465 times ]
smart.jpg
smart.jpg [ 37.15 KiB | Viewed 2473 times ]
Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 31 May 2006, 12:01 
Offline
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer
User avatar

Joined: 30 May 2006, 14:02
Posts: 1746
yoyoyo wrote:
uch wrote:
Setubuh... eh..setuju.

berarti dlm hal ini Blazer jadi worth buying dong? dapet 2x lebih nyaman dan 3x lebih aman, BBM luar kota lebih hemat, maintenance relatif murah.
dan Kijang yg dulu jadi worth selling dong, hehe.
Nah, bung uch , bisa minta info bengkelnya (nama & address) , dan dia jual spareparts ori&kw1 juga ngga?
Ada kaca ngga ya? Blazer paman gw.. kaca depannya retak tuh. Waktu itu di luar kota kena batu yg terlontar dari muatan bak truk..


Waduh, bengkelnya gw lupa alamat dan telp nya, bon nya di rumah. Tapi gw baru dua kali masuk service koq. Yg pertama di Ranson Mobil (ITC Fatmawati lt 2) khusus opel/cheverolet nih, buat beli aksesioris. Yg kedua, di salah satu bengkel di TB Simatupang, sebelahan ama bengkel Peugeot. Kalo nggak salah itu merangkap sekretariatnya blazer club. Di situ gw ganti timing belt lengkap ama stasioner nya plus jasa, kena Rp sekitar 550 ribu lebih (relatif murah khan..?), Tune up dan bersih2in sekitar Rp 110 ribu. Sparepart asli. Denger2 sih ada KW 2, tapi sparepart KW2 pun itu buatan Kanada. Nggak ada Made In Taiwan atau Cina. Kalo soal kaca depan, sorry, belum pernah nanya2. Mungkin di Ranson itu bisa nyediain (semoga), karena di situ lengkap banget.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 31 May 2006, 12:04 
Offline
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer
User avatar

Joined: 30 May 2006, 14:02
Posts: 1746
Setubuh banget Bos..

TomS wrote:
Ada pun mengenai topic ini, "mobil yang paling ngga worth it", kalau menurut saya adalah kalau kita beli mobil tidak sesuai dengan kebutuhan kita.

Contoh saja, tetangga saya, moga2 dia tidak ikut forum ini, dia ke mana-mana luntang lantung pakai Alphard dan disetir sendiri pula. Padahal jelas-jelas dia punya anak baru satu dan masih berumur enam bulan.
Kalau ketemu dia, saya sering ketawa sendiri. Aneh saja, dilihatnya benar-benar tidak pantas, masih engkoh engkoh kok pakai mobil yang segedhe gajah bengkak.



Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 31 May 2006, 12:36 
Offline
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer

Joined: 21 Sep 2005, 09:21
Posts: 1632
Yes, but with some exceptions. Misalnya executive muda atau pengusaha muda, atau orang muda tapi pangkatnya sudah lumayan, well, kalau pakai mobil terlalu kecil, perhaps ngak gitu " balanced " ama statusnya.


Mengenai kijang, jika anda sekarang masih amati Kompas, situasi dia sudah dekat ama mobil lain, artinya sudah lumayan " normal "


Artinya Innova misalnya sekarang tahun pertama turun hampir 20%. Sudah ngak seperti dulu cuman turun 5%. Kapsul lebih parah deh. Banyak yang masih lumayan muda harganya sudah ngak jauh ama Avanza. Maybe sekarang orang sadar kapsul boros, dan juga inden Innova sudah ready stock, so resale valuenya sudah ngak seperti dulu. Normal. Almost 20% tahun pertama, and abt 10% per year thereafter.


So from this point of view, definisi worth it or not beli jual kijang baru / bekas may need to be redefined...


Anyway, it is my prediction that di masa depan, the name kijang no longer guarantee anything. Masalahnya jaman BBM harga tinggi sudah di depan mata, dan akan lebih gila lagi. So since even the new kijang masih lumayan boros, I predict that dia nanti sudah tidak akan jadi primadona lagi.


The new Primadonas will be cars like Vios, City, Jazz, Yaris, Tiida, kalau AUV tergantung how irit mesin dia dengan body dia. What I mean is di seluruh dunia, jelas trendnya ke mobil hemat BBM. The name kijang will soon have little meaning for people anymore since orang lama juga capek bayarin BBM.


To be fair, kalau bukan gara gara C24 enak dan lega, cocok untuk family transport, I may also kick her out. Cause dalam kota 1:7.5-8 is not my idea of irit also. Tapi well, her huge size and comfort is some compensation for me.


Yang sudah pasti, dengan harga BBM makin tinggi, C24 di garasi ku juga ngak akan selama yang saya dulu antisipasi. Either a C25, an AUV, mini AUV or Tiida will replace her in the next few years.


Pokoknya nanti dalam jangka menengah, I mau mobilku semua dalam kota 1:12 lebih ! Thats a 50% more fuel savings !


Cause I ada feeling, dalam 5 tahun ke depan, harga BBM bisa saja naik lagi ke 6000+-7000+. Belum kalau Timur Tengah ngak ada apa apa...


Fuel efficiency. The Name of the New Game.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 31 May 2006, 12:59 
Offline
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer

Joined: 21 Sep 2005, 09:21
Posts: 1632
Oh iya. bung W1ndut,

Kali ini saya tidak agree ama anda. Cause saya pernah research, memang jaman dulu break-in lebih lama.


Tapi jaman sekarang, machine manufacturing methods sudah jauh lebih canggih, lebih presisi. Jadi break-in period 1000 km sudah lumayan. Well, kalau mau lebih aman, maybe 5000 km. Kalau tunggu sampai 10,000 km kayaknya overkill deh.


So I yakin jaman sekarang the best compromise adalah, saat service 1000 km, ganti oli semi-synthetic. Service 5000 km baru masukin full synthetic.


Thats what I did to my C24, and she is now living happily, tanpa oli ada masalah atau oli menguap.


Soalnya anda kan tau, full synthetic itu unggulnya bukan cuman licin, tapi additive untuk bersihkan mesinnya jauh lebih banyak dan tahan lama. Nah, jika mesin sudah dari pabrik sudah bagus, anda tunggu 10,000 baru pakai full synthetic, takutnya dari 5000 km sudah ready for full syn, anda masih pakai mineral, nah, itu dia, protectionnya berkurang. Jadi from 5000-10,000 km mesin mulai dapat protection yang tidak optimal.


The worse that can happen for using full synthetic dari 5000 ke 10,000 km jika anda masih yakin premature adalah, PALING kita bayar extra duit dikit. Kan harga semi ama full 4 liter sekitar selisih 200,000-300,000. Tapi demi mesin awet terlindung sejak muda, untuk masa depan yang panjang, apa artinya 200-300,000 rp ?


OK. Meskipun anda benar, mesin 5000 km masih break-in, apakah full syn akan merusak mesin itu ? Of course not ! Paling yaitu, kita boros uang sementara. But I better be safe than sorry.


Anyone ada pengalaman pakai syntium 5000 0W30 ? How good itu oli ? Spec dia kayaknya awesome. Sudah API SM lagi. Memang harganya amat tinggi, tapi jaman BBM tinggi sekarang, kalau bisa bikin mesin hemat berapa % saja, pakai 10,000 km ngak lama juga balik modal, dan plus mesin kita sangat di proteksi !


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 31 May 2006, 13:58 
Offline
New Member of Senior Mechanic
New Member of Senior Mechanic

Joined: 16 Sep 2004, 14:08
Posts: 146
Location: Jabodetabek
Sithlord wrote:

OK. Meskipun anda benar, mesin 5000 km masih break-in, apakah full syn akan merusak mesin itu ? Of course not ! Paling yaitu, kita boros uang sementara. But I better be safe than sorry.



Kalau saya benar (nggak salah) , oli full synth, justru akan membuat break-in lebih lama lagi. Kalau tetap pakai oli kental 20w-50 mineral, break-in period bisa lebih singkat.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 31 May 2006, 15:24 
Offline
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer

Joined: 14 Jul 2004, 00:34
Posts: 2961
Sithlord wrote:
conan wrote:
Pada proses breaking in engine, 1000 Km awal, harus menggunakan oli mineral (tidak boleh sintetik) yang viskositasnya justru lumayan tinggi (baca : kental).

Ini penting bagi proses engine-breaking itu sendiri, bukannya pabrikan pelit dan memberi 'oli gratis murahan'.

Sebelum begitu saja mencaci-maki pabrikan, ada baiknya lakukan research dulu tentang pentingnya proses engine break-in dan specs oli yang dibutuhkan pada proses ini.

Karena 1000 Km awal mesin baru adalah tahapan teramat penting yang menentukan kondisi mesin dalam life spannya.



conan, U masih ngak robah. Once an asshole, always an asshole. Baca dulu post saya. Saya ngak caci maki kok. Saya cuman bilang ATPM kasih oli gratis bukan saat 1000 km. Untuk 5000 sampai 10,000 km. Apakah break in harus sampai 5000-10,000 km ?

Did I ever say kasih oli mineral murah untuk 1000 km pertama keterlaluan ? Anak saya juga tau ngak ada mobil di dunia yang keluar dari pabrik pakai oli synthetic. Sebelum pakai full synthetic saya sudah research dalam dulu. Of course I know percuma pakai full syn 1000 km pertama. U always think U yang paling pintar dan yang lain bodoh ! Thats your biggest problem !

What I mean is sudah lari 5000 km, sudah cukup dong break in 5000 km, nah, kalau di kasih oli gratis 20w50, its a double edged sword. Benar, konsumen ngak usah beli oli, tapi mesin jadi boros, performa turun juga.

Bisa dak sih I ngak comment tentang post U, U juga jangan baca post saya, ngak usah comment post saya ? Juga nadanya ngak usah sarcastic. To the point saja langsung.


Lho, bukannya Anda yang terlalu emosional? What happened to kata2 Anda dulu di thread sebelah yang mengatakan bahwa Anda sekarang sudah berubah?

For the record, bukan di thread ini saja Anda berkata keras tentang pabrikan memberi gratis oli murah. Silakan cari sendiri, Anda akan menyadari bahwa Anda sudah pernah beberapa kali membuat pernyataan itu, dan belum pernah ada yang berusaha meluruskannya. Lalu apa gunanya forum diskusi ini kalau semua orang hanya mengiyakan opini Anda, betul?

Tentang break-in, Anda juga tampaknya merasa opini Anda yang paling benar, tanpa sebelumnya mencari tahu lebih banyak lagi tentang proses engine break-in itu sendiri, betul? Anda paling tidak suka kalau opini Anda terbukti salah. That's your biggest problem.

Anda bisa lihat sendiri, bukan hanya aku sendiri saja yang mengetahui tentang peran oli mineral pada proses break-in. Namanya juga fakta, tidak hanya seorang yang paham. Jadi daripada berdebat, aku akan menyuguhkan fakta saja.

Dan, for the record, aku tidak pernah resort sampai menggunakan kata2 seperti a****** yang Anda ucapkan di atas. Aku tidak memulai pertengkaran, silakan rekan2 menilai sendiri.


Last edited by conan on 31 May 2006, 15:52, edited 3 times in total.

Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 31 May 2006, 15:48 
Offline
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer

Joined: 14 Jul 2004, 00:34
Posts: 2961
Beberapa FAKTA tentang engine break-in dan synthetic oil, silakan rekan2 baca agar paham alasannya :

Quote:
Synthetic Motor Oils

The introduction of synthetic motor oils dates back to World War II and they are often describedas the "oil of the future." Synthetic oils are man made, manufactured in a laboratory rather thanpumped out of the ground and refined. They offer a variety of advantages over natural oils frombetter fuel economy, stability over a wide range of temperatures and operating conditions andlongevity.

However, the use of synthetic engine oils is not recommended for the "break-in" period. Itsoutstanding ability to reduce wear by virtually eliminating friction between moving components isnot desirable for a "break-in" oil. Certain predictable amounts of friction are required for proper"break-in" of piston and piston rings. AERA does not recommend the use of synthetic engine oilsfor the first 5,000 miles of service. Thereafter it is up to the vehicle owner to weight the cost ofmore expensive synthetic motor oils, manufacturer's oil classification recommendations and drainintervals.

Abbreviations and SymbolsAPI - American Petroleum InstituteSAE - The Society of Automotive Engineers© AERA 1999 - All Rights ReservedBreak in Procedureshttp://www.aera.org/Consumer/breakin.htm (5 of 6) [8/12/2004 10:45:45 AM]
--------------------------------------------------------------------------------
Page 6
This information is provided from the best available sources, however, AERA does not assume responsibility for dataaccuracy or consequences of its applications. Please be aware that this pamphlet is not a warranty.Break in Procedureshttp://www.aera.org/Consumer/breakin.htm (6 of 6) [8/12/2004 10:45:45 AM]



Quote:
Q: If break- in happens so quickly, why do you recommend using petroleum break- in oil for the first 1500 miles ?

A: Because while about 80% of the ring sealing takes place in the first hour of running the engine,
the last 20% of the process takes a longer time. Street riding isn't a controlled environment, so most of the mileage may
not be in "ring loading mode". Synthetic oil is so slippery that it actually "arrests" the break in process before the rings can seal completely. I've had a few customers who switched to synthetic oil too soon, and the rings never sealed properly no matter how hard they rode. Taking a new engine apart to re - ring it is the last thing anyone wants to do, so I recommend a lot
of mileage
before switching to synthetic. It's really a "better safe than sorry" situation.
Q: My bike comes with synthetic oil from the factory, what should I do ?

A: I recommend changing the factory installed synthetic oil back to petroleum for the break-in period.

Break in is important. All engine bearings and cylinders, etc. must wear evenly and proper. Also, piston rings need to seat. Have you ever seen a new engine burn oil until it breaks in? Some piston ring take up to 5000 miles to fully seat or wear evenly to cylinder bore. Not following proper break in proceders could result in premature engine/parts failure.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 31 May 2006, 16:06 
Offline
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer

Joined: 14 Jul 2004, 00:34
Posts: 2961
sithlord wrote:
So I yakin jaman sekarang the best compromise adalah, saat service 1000 km, ganti oli semi-synthetic. Service 5000 km baru masukin full synthetic.

OK. Meskipun anda benar, mesin 5000 km masih break-in, apakah full syn akan merusak mesin itu ? Of course not ! Paling yaitu, kita boros uang sementara. But I better be safe than sorry.


Anda punya dasar untuk opini Anda di atas..?

Sedangkan fakta dari The Society of Automotive Engineers of America :

Quote:
However, the use of synthetic engine oils is not recommended for the "break-in" period. Itsoutstanding ability to reduce wear by virtually eliminating friction between moving components isnot desirable for a "break-in" oil. Certain predictable amounts of friction are required for proper"break-in" of piston and piston rings. AERA does not recommend the use of synthetic engine oilsfor the first 5,000 miles of service. Thereafter it is up to the vehicle owner to weight the cost ofmore expensive synthetic motor oils, manufacturer's oil classification recommendations and drainintervals.

Abbreviations and SymbolsAPI - American Petroleum InstituteSAE - The Society of Automotive Engineers© AERA 1999 - All Rights Reserved


Quote:
Synthetic oil is so slippery that it actually "arrests" the break in process before the rings can seal completely. I've had a few customers who switched to synthetic oil too soon, and the rings never sealed properly no matter how hard they rode. Taking a new engine apart to re - ring it is the last thing anyone wants to do, so I recommend a lot
of mileage before switching to synthetic. It's really a "better safe than sorry" situation.


Ungkapan 'better be safe than sorry' memang betul, tapi penerapannya belum tentu betul. Kalau penerapannya salah, akan menjadi sorry dan bukannya safe.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 31 May 2006, 16:28 
Offline
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer

Joined: 21 Sep 2005, 09:21
Posts: 1632
conan, I call U names cause ini bukan pertama kali kita bentrok. Sudah lama I tau U punya sifat. Now U say I ngomel cause ATPM ngak sejak lahir mobil pakai full syn. Terus terang I mending di panggil asshole dari pada orang begok. Cause there are smart assholes in this world, but there are NO smart begos out there !


Contoh. Sudah dari dulu I bilang, nanti AUV pakai mesin baru, cause mereka itu bukan bodoh. Lu dari dulu ngotot sekali mereka akan pakai mesin terrano, cuman desperate attempt lawan Toyota. itu dia. Jangan bilang saya orang pribadi, company besar macam Nissan Motor saja lu hanggap bego !


OK. Abt this break in thing. Kalau jaman dulu, mesin manufacturingnya masih kurang canggih, jelas break in harus lebih lama. But now, its not true anymore. Heres an article from Mobil1, baca sendiri deh :

http://www.mobiloil.com/USA-English/Mot ... Myths.aspx

Myths
People have a lot to say about synthetic oils. Unfortunately, it’s not always accurate. But ExxonMobil is here to clear things up. Read below to get the truth behind some of the most common misconceptions about synthetic oils and your vehicle.

Myth: You should break in your engine with conventional oil, then switch to a synthetic oil like Mobil 1.

Reality:
You can start using Mobil 1® in new vehicles at any time, even in brand new vehicles. In fact, Mobil 1 is original equipment (it is installed at the factory) in:

Aston Martin
Bentley Amage and Bentley GT
Cadillac CTS, CTS-V, XLR, XLR-V, SRX and STS and STS-V
Chevrolet Corvette C6 and Z06
Chevrolet SSR
Chevrolet TrailBlazer SS
Chrysler 300C SRT-8 and Crossfire SRT-6
Cobalt SS
Dodge Ram SRT-10
Dodge Charger SRT-8, Magnum, and Viper
Jeep Cherokee SRT-8
Mercedes-Benz AMG vehicles
Mercedes SLR
Mitsubishi EVO III
Pontiac GTO
All Porsche vehicles
Saturn Red Line
Viper SRT-10


One of the myths surrounding synthetic oils is that new engines require a break-in period with conventional oil. The fact is, current engine manufacturing technology does not require this break-in period. As indicated by the decisions of the engineers who design the high-performance cars listed above, Mobil 1 can be used starting the day you drive the car off the showroom floor.


OK. Mungkin lu bilang Mobil1 bohong, supaya orang cepat pakai oli dia. Terserah kalau lu mau ngomong gitu. Kalau I pikir, Exxonmobil bukan company sembarangan. Kalau mereka sembarangan, nanti mobil orang rusak atau performa mesin menurun, justru orang akan pikir oli mereka tidak bagus, malah boomerang dan rugi sendiri.


Well, fine. Mau lebih aman, then like I said, use a semi syn for till 5000 km, after that, change to full syn demi protection. Do U really think current advanced engine manufacturing technology tahun 2006 today needs a break in till 10,000 km ?

I tanya Nissan saja mereka bilang 5000 km pakai full syn OK saja ! Ngak ada tuh mereka bilang jangan, mesinnya masih perlu break in.

Maybe jaman kijang kapsul tahun 1997 mesin 1970an technology yes, but now, apalagi mobil pakai mesin JDM macam QR20DE, mesin CRV, etc. yang sudah canggih, trust me. They no longer need such long break in period. But if the ATPM say so, then I have nothing to say. At least for my car, no problem using full syn at 5000 km.

Malah CRV adik ku pakai semi terus sampai berapa bulan lalu kena kasus oli hilang sampai hampir habis ! Why ? itu dia. Semi syn mutunya ngak sebagus full syn. Lebih gampang " hilang ". My car never have such a problem. Jalan 10,000 km juga ngak hilang sedikit pun ! Di dipstick mark full terus. Saya saja ngak percaya.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 31 May 2006, 16:45 
Offline
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer

Joined: 21 Sep 2005, 09:21
Posts: 1632
Yang mau percaya article AERA terserah. All I can say is dari pengalaman saya pakai full syn sejak 5000 km till today mesin saya ngak pernah ada keluhan, ngak pernah ada oli bocor, oli uap. etc.

Kalau pakai full syn terlalu dini akan jadi masalah, well, maybe, but at least di mobilku it never happened.

Dan jangan lupa, lingkunggan Indo itu kejam. Mutu BBM masih ??, meskipun lebih baik banding jaman dulu. Pula udara / humidity panas, sering macet start and stop. Under these conditions, mesin butuh proteksi full syn segera. Kalau mau ikut AERA dan tunggu 10,000 km baru kasih mesin full protection, do so at yr own risk.


Cause nanti 5000-10,000 pakai mineral atau semi, dan olinya di tol habis seperti CRV adik ku, bayangkan konsequensinya itu seperti apa. Atau kalau ngak sesial itu, mesin lebih kotor, more wear and tear (yang tidak bisa di benerin) because mineral / semi itu protection additivenya lebih dikit, ngak gitu awet, its up to U.


For me its just logical. Mesin jaman sekarang DO NOT NEED 10,000 km to break in. Think abt that. Do U know how far is 10,000 km ? Itu piston sudah bergerak berapa kali saat sudah jalan 5000 km, jangan bilang 10,000 km ?


Apakah pabrik Jepang sepayah itu jaman sekarang sampai mesinnya perlu segitu lama supaya layak pakai full syn ?


Well, maybe mesin kuno yes, but for me, I buy JDM machines. And I percaya JDM mesin itu sudah manufacturingnya bagus sejak awal.

Yang ngak percaya saya atau kata Mobil1, mau ikut AERA, terserah. Toh itu mobil milik masing masing. Good or bad tanggung sendiri nanti.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 31 May 2006, 17:00 
Offline
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer

Joined: 14 Jul 2004, 00:34
Posts: 2961
Quote:
Sudah dari dulu I bilang, nanti AUV pakai mesin baru, cause mereka itu bukan bodoh. Lu dari dulu ngotot sekali mereka akan pakai mesin terrano


Silakan Anda quote, statement aku yang mengatakan bahwa AUV akan pakai mesin Terrano. Silakan!

I never said that. Aku mengatakan bahwa aku tidak yakin bahwa AUV akan menggunakan mesin terbaru MR20DE, dan sampai detik ini pun belum ada pengumuman resmi mesin kode apa yang akan digunakan AUV. Prove me otherwise. Lagipula, mengapa tiba2 Anda berbicara tentang AUV?

Tentang daftar mobil2 di atas yang Anda tulis, silakan baca sekali lagi mobil2 tersebut :

Quote:
Aston Martin
Bentley Amage and Bentley GT
Cadillac CTS, CTS-V, XLR, XLR-V, SRX and STS and STS-V
Chevrolet Corvette C6 and Z06
Chevrolet SSR
Chevrolet TrailBlazer SS
Chrysler 300C SRT-8 and Crossfire SRT-6
Cobalt SS
Dodge Ram SRT-10
Dodge Charger SRT-8, Magnum, and Viper
Jeep Cherokee SRT-8
Mercedes-Benz AMG vehicles
Mercedes SLR
Mitsubishi EVO III
Pontiac GTO
All Porsche vehicles
Saturn Red Line
Viper SRT-10


Sekarang, silakan jawab, apakah di awal thread ini Anda sedang mendiskusikan tentang mobil-mobil supercar, exotic performance cars? Hmm?

Silakan Anda baca lagi di atas, aku menyatakan bahwa untuk Lamborghini Gallardo, Lamborghini sudah melakukan break-in dari pabrik, dengan menggunakan DYNO sebanyak 1000 Km. Dan aku juga mengatakan bahwa TAM dan HPM tidak akan melakukan itu pada Innova atau Jazz, yang harganya kurang dari 5 % harga sebuah Lamborghini Gallardo, dan tentu sangat jauh di bawah mobil2 yang Anda sebut di atas, yang sudah dilakukan engine break-in sebelum keluar dari pabrik.

Kita sedang berbicara tentang mobil2 eksotis yang Anda sebut di atas, atau kebanyakan mobil2 yang dijual di Indo?

Quote:
OK. Mungkin lu bilang Mobil1 bohong, supaya orang cepat pakai oli dia. Terserah kalau lu mau ngomong gitu.


Mobil1 tidak bohong, karena di daftar di atas tidak disebut satu pun mobil Toyota, Honda atau Nissan. Apakah ada Corolla, Accord atau Nissan Tiida? Anda pikir kenapa tidak, coba..?
Karena mobil2 Toyota/Nissan/Honda bukan Aston Martin, bukan Bentley, bukan Mercedes SLR dan bukan Porsche yang begitu keluar dari pabrik sudah siap dibawa ke track, karena mesin mereka sudah menjalani proses engine-break ini yang dijamin merata karena dilakukan di atas dyno. Dengan oli mineral.

Quote:
I tanya Nissan saja mereka bilang 5000 km pakai full syn OK saja ! Ngak ada tuh mereka bilang jangan, mesinnya masih perlu break in.


Kalau Anda tanya apakah Serena boleh minum premium pun, mereka pasti bilang 'OK saja!'

Aku heran, Anda yang termasuk berwawasan otomotif cukup luas dan memiliki sifat sangat kritis, koq sebegitu yakinnya dengan apapun yang dikatakan orang2 di sebuah dealer Nissan? Mereka itu adalah penjual, Pak, customer adalah raja, apapun yang dikatakan Anda, mereka tentu akan jawab 'yes Sir!'.

Aku pernah iseng bertanya pada seorang sales Nissan ketika ada pameran Serena dulu;
'Apakah Serena ini boleh diisi premium?'
Sales : 'Oh, boleh koq, Pak.'
'Memangnya berapa kebutuhan oktan minimumnya..?'
'.....'

I rest my case.

Anda lebih percaya pada sumber daya manusia yang mana, seorang penjual Nissan di cabang Indonesia (hanya karena kata2nya mendukung opini Anda), atau statement resmi yang dipasang di website resmi American Petroleum InstituteSAE - The Society of Automotive Engineers© AERA ?

Mengutip kata2 Anda sendiri, Anda mau jadi smart a****** yang bisa tahu kekeliruan opini sendiri jika sudah dikoreksi dengan bukti dan fakta tak terbantahkan, atau ingin jadi orang 'smart b***' yang keras kepala tidak mau dikatakan keliru, meskipun disodorkan fakta sebanyak apapun..? Ingat diskusi tentang kepemilikan saham TAM dulu? Anda begitu yakin Anda yang benar, berdasarkan keyakinan semata, tapi fakta toh mengatakan lain.

Just because you're so damn sure one thing is true, does not make it the truth, Sir.


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 31 May 2006, 17:08 
Offline
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer

Joined: 14 Jul 2004, 00:34
Posts: 2961
Quote:
Apakah pabrik Jepang sepayah itu jaman sekarang sampai mesinnya perlu segitu lama supaya layak pakai full syn ?


Well, maybe mesin kuno yes, but for me, I buy JDM machines. And I percaya JDM mesin itu sudah manufacturingnya bagus sejak awal.


Ya ampun, Pak. Tidak ada hubungannya dengan 'proses manufacturing sudah bagus sejak awal'. Semua mesin baru itu perlu proses break-in! Jangankan mesin 4 silinder buatan massal pabrikan2 Jepang, mesin 10 silinder buatan Audi/Lamborghini, mesin 8 dan 12 silinder buatan Ferrari, mesin2 turbocharged dari AMG juga, semuanya perlu proses break-in!

Tidak ada satupun mesin mobil yang langsung 'mantap' tanpa proses break-in. Bedanya, ada yang sudah dilakukan di pabriknya (khusus mobil2 mahal), tapi kebanyakan tidak!
Mobil Nissan Anda itu diproduksi massal, satu dari produksi puluhan ribu unit per bulan, bukan produk eksklusif seperti Aston Martin atau Bentley yang mendapat perhatian khusus (seperti proper engine break-in) sebelum diserahkan pada konsumennya. Anda harus break-in sendiri, dan pabrikan tidak peduli apakah Anda melakukannya dengan benar atau tidak.

Seperti sepatu saja. Setelah dipakai beberapa lama, baru terasa nyaman.

Silakan baca lagi, yang jelas2 Anda lewatkan (atau tidak mau baca karena begitu yakinnya Anda yang benar) :

Quote:
Break in is important. All engine bearings and cylinders, etc. must wear evenly and proper. Also, piston rings need to seat. Have you ever seen a new engine burn oil until it breaks in? Some piston ring take up to [u]5000 miles to fully seat or wear evenly to cylinder bore.[/u]


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 31 May 2006, 17:48 
Offline
Full Member of Mechanic Engineer
Full Member of Mechanic Engineer
User avatar

Joined: 15 Sep 2004, 20:33
Posts: 4612
Location: jauh di mata, dekat di hati
Ferrari aja kalo baru pasti udah jalan beberapa km kok.....

_________________
Objects In The Rear View Mirror Are Closer Than They Appear


Top
 Profile  
 
 Post subject:
PostMessage posted...: 31 May 2006, 19:09 
Offline
Member of Mechanic Engineer
Member of Mechanic Engineer

Joined: 14 Jul 2004, 00:34
Posts: 2961
Quote:
Yang mau percaya article AERA terserah.
Yang ngak percaya saya atau kata Mobil1, mau ikut AERA, terserah.


Mobil1 itu jelas sebagai penjual oli pelumas, tak beda dengan misalnya Top1 mengklaim produknya berkualitas 'top', sedangkan The Society of Automotive Engineers© AERA jelas adalah lembaga independen yang netral, tidak ada kepentingan menjual produk.

Mana yang lebih credible, silakan rekan2 menilai sendiri..

Quote:
Dan jangan lupa, lingkunggan Indo itu kejam. Mutu BBM masih ??, meskipun lebih baik banding jaman dulu. Pula udara / humidity panas, sering macet start and stop. Under these conditions, mesin butuh proteksi full syn segera.


Justru itu! Engine break-in sebaiknya dilakukan semerata mungkin, dengan kondisi mesin berputar stabil. Makanya Lamborghini misalnya, melakukannya di atas Dyno dan bukan di track. Di atas dyno, mesin diputar dengan rpm konstan stabil, suhu pelumas pun berada pada keadaan ideal dan proses engine break-in berlangsung sempurna, sehingga cukup 1000 Km saja.

Tapi, proses engine break-in di jalanan, tidak bisa stabil seperti di atas Dyno, karena itu membutuhkan mileage lebih banyak.
Apalagi di Indo yang macet, padahal pada keadaan stop and go inilah engine wear out terjadi paling parah, karena pelumasan kurang sempurna. Justru karena keadaan sering macet ini, proses engine break-in harus dilakukan dengan menempuh mileage lebih banyak dan sering dibawa cepat tapi stabil di jalan bebas hambatan.

Kalau mesin belum properly broken-in, tapi sudah diisi oli sintetik, penjelasannya silakan baca seperti sudah dimuat di halaman sebelumnya :

Quote:
the use of synthetic engine oils is not recommended for the "break-in" period. Its outstanding ability to reduce wear by virtually eliminating friction between moving components is not desirable for a "break-in" oil. Certain predictable amounts of friction are required for proper"break-in" of piston and piston rings.

Synthetic oil is so slippery that it actually "arrests" the break in process before the rings can seal completely.

Break in is important. All engine bearings and cylinders, etc. must wear evenly and proper. Also, piston rings need to seal.


Ini penjelasan ilmiah, scientific, dan bukan berdasarkan keyakinan semata bahwa oli full sintetik adalah yang terbaik untuk segala kondisi.

Oli sintetik baru berfungsi optimal pada mesin yang sudah properly broken-in.

Di forum Ferrari owners saja, mereka melakukan break-in sampai 5,000-10,000 Km. Atau mungkin mesin sebuah Serena jauh lebih canggih daripada buatan Ferrari Spa.? I don't see Nissan in, let alone winning, F1.


Top
 Profile  
 
Display posts from previous:  Sort by  
Post new topic Reply to topic  [ 52 posts ]  Go to page 1, 2, 3  Next

All times are UTC + 7 hours


Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 38 guests


You cannot post new topics in this forum
You cannot reply to topics in this forum
You cannot edit your posts in this forum
You cannot delete your posts in this forum
You cannot post attachments in this forum

Search for:
Jump to:  
Powered by phpBB® Forum Software © phpBB Group
Hosting by SerayaHost.com - SerayaGroup.com