well understood bro ....
...........................
now... hmm, (yg akan sy kemukakan) ini memang sedikit "loncat"...tp, i am sure u know wjat i mean.... so, let me berandai2...>>
bila komponen Power itu tidak ada (pura2nya, kita singkirkan saja ya)....
dlm arti: sistem "kosongan", ideal... tanpa ada ("bantuan") momen inersia si rodagila, (atau bahkan konstanta...joking bro), dll......
maka, sebenarnya Torsi itu akan terus menaik, seiring rev per minute.
begitukah bro ?
** mode berandai2: selesai..
...........................
nah, sekarang, pada praktiknya >>>
AFAIK memang spt yg anda terangkan itu, bahwa
===> yg akan dirasakan oleh the man behind the engine (or wheel), adalah the Torque, lalu dilanjutkan dg the Power...
nah, ini kan berarti, pd praktiknya, secara grafikal, dlm contoh kurva di atas, kurvanya akan boleh dipandang menjadi spt (di bawah) ini.
yaitu "intersection" (atau "irisan") antara kedua komponen itu.
*** please see attachment below.
boleh begitu nggak bro ?
at our case, means >>
>> stlh 1800 rpm itu, the torque udah "nggak diperlukan" lagi...krn udah "diambil alih" oleh the power.
>> atau ekstrimnya..the torque (dipersilakan) hilang begitu saja..... heheh
>> tp sesuai dg hukum kekekalan energi : itu torsi yg "terbuang", terkonversi menjadi apa ya bro ?
** curhat:
kenapa msh banyak pabrikan yg dlm brosur spesifikasinya nggak menampilkan kurva P & T ya ?
cuma nulis P & T (max) @sekian RPM ...... :sedih: ....hehehe
nah, kalau ingin tau kurvanya, trus nanya ke salesperson.....waaaa, u know laaa .... hahahahah
...........................
pertanyaan tambahan:
pengukuran dg dynamometer itu, di pabrik, yg kemudian officially announced as engine characteristic itu,.....
itu pengukurannya dilakukan di tiitk mana ya bro ?
di (output) crankshaft-end (yg sudah dipasangi flywheel) kah ?
atau di ban, spt yg dilakukan bengkel2 yg sering kita lihat itu ?
maksdu saya,
kl pengukuran oleh pabrik dilakukan dg cara yg sama dg bengkel, yaitu di ban,
maka pertanyaan lanjutannya adalah >>>
terlebih dulu, mari kita ambil amsal: Duratorq engine yg di-deploy di Ranger & Everest.
dan asumsikan bahwa transmission configuration (gear ratios) keduanya berbeda.
nah, tapi kenapa karakteristik (spec) nya yg dipubllish tetap sama ? (yaitu 143 PS & 330 Nm)
apakah gear ratios (termasuk final gear ratio) ini tidak berpengaruh pada final output (yg terdeteksi oleh dynamometer) ?
maksdu saya lagi,
jd nampaknya itu pengukuran (atau bahkan bukan hsl pengukuran, tp hasil perhitungan), adlh spec of the engine only.
bisa dikatakan: yg dipublish itu
bukan lah spec Power & Torque of the car.
jadi, saya menyayangkan (dan penasaran), kenapa pabrikan tidak mempublish "real" spec nya..?
dan umumnya tidak disertai "terms & condition" bilamana pengukuran itu dilakukan >>
>> yaitu: temperatur "selimut" ruang bakar, pelumasnya spt apa, BBM nya spt apa, dsb
...........................
pertanyaan tambahan lagi....hehe
tolong diterangkan hubungannya....maksdunya: konstanta pengalinya...dan kenapa/siapa yg sering menggunakannya.
antara satuan2 Power ini:
Horse Power, Pferde Kraft, Watt, Joule...(kl ada yg udah dituliskan formulanya di post di atas, ya gak usah ditulis lg)
kl PS singkatan apa ya bro ?
lalu, selain itu, satuan apa lagi yg umum dipakai ?
** note:
sedang malas googling...hehehe......
lagipula, gak ada salahnya kan bro? mumpung ada pakarnya di sini, boleh ditanyain seabrek... :hahahaha:
...........................
pic: kurva gabungan P & T
...........................
